Selamat Datang di Media Informasi Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan Kota Sukabumi

Kondisi Ketersediaan dan Kerawanan Pangan

Ketersediaan Pangan

Secara topografi Kota Sukabumi berada pada ketinggian 584 meter di atas permukaan laut, yang menurut penggunaannya yaitu untuk lahan pertanian (lahan sawah) sebesar 1.486 Ha (30,95%) dan sisanya seluas 3.314 Ha (69,04%) adalah lahan kering dan lain-lain. Fenomena yang terjadi di daerah perkotaan termasuk di Kota Sukabumi adalah pertumbuhan kota yang akseleratif dan pertambahan penduduk yang cukup tinggi, yang kemudian berimplikasi terhadap peningkatan alih fungsi lahan pertanian, sejalan dengan banyaknya pembangunan di bidang perumahan, perdagangan ataupun industri, sehingga fungsi lahan pertanian berubah menjadi lahan bukan pertanian.  Berkaitan dengan terjadinya perubahan fungsi lahan pertanian yang berdampak terhadap ancaman berkurangnya produksi pangan pokok beras, berikut ini disajikan data perubahan lahan sawah menjadi non sawah di Kota Sukabumi.

Perkembangan Luas Lahan Sawah dan Non Sawah Kota Sukabumi sampai dengan Tahun 2016

No Tahun Tanah Sawah Tanah Kering Lahan Lain-lain Jumlah
1. 2010 1.769 2.507 524 4.800
2. 2011 1.751 2.637 412 4.800
3. 2012 1.589 2.702 509 4.800
4. 2013 1.551 3.210 39 4.800
5. 2014 1.540 2.804 456 4.800
6. 2015 1.486 2.863 451 4.800
7. 2016 1.470 2.879 451

4.800

Catatan: Perkembangan penurunan luas lahan sawah selama 6 tahun (2010-2016) : 299 Ha atau rata-rata 49,83 Ha/tahun;
  Luas lain-lain : lahan basah, tidak produktif, terlantar
               

Ketersediaan Pangan adalah kondisi tersedianya Pangan dari hasil produksi dalam negeri dan Cadangan Pangan Nasional serta impor apabila kedua sumber utama tidak dapat memenuhi kebutuhan.

Dibandingkan dengan produksi beras lokal (pangan pokok bersifat strategis), kebutuhan beras penduduk Kota Sukabumi tahun 2015 (321.328 jiwa) lebih banyak dipenuhi oleh beras yang didatangkan dari luar Kota Sukabumi. Gambaran kondisi pada tahun 2016 adalah sebagai berikut :

  1. Kebutuhan Beras : 26.209 ton/th, produksi lokal 16.708 ton (63,75%) kurang 9.501 ton/th (27.25%).
  2. Kebutuhan Non Beras : 18.282 ton/th, produksi lokal 4.905 ton (26,83%) kurang 13.377 ton (73,17%).
  3. Berikut data Perkembangan Produksi Pangan Kota Sukabumi Tahun 2011-2016.
Data Perkembangan Produksi Pangan Kota Sukabumi Tahun 2011-2016
No. Komoditas Perkembangan Produksi (Ton)
2011 2012 2013 2014 2015 2016 % thd 2015
1 Padi (GKG) 27.652 26.749 21.464 22.829 25.168 26.630  
2 Jagung 262 123 147,74 122 90 136  
3 Ketela pohon 2.435 503 439,4 237 338    

4

Ketela rambat 1.269 314 368,3 305

331

   

5

Kacang tanah 55,00 15,48 26 2,6 0

4

 

6

Kacang kedele 10 2 5 0

0

   

7

Sayuran 8.616.6 4.465,3 7.564,6 6.155

4.108

   

8

Daging Ayam 2.460,63 2.874,31 4.758,81 4.817,5 2.766

2.793,7

 

9

Susu 315,33 363 290,62 341,1 254

251,49

 

10

Telur 2.952,80 3.348,2 3.641,69 3.193,9 4.125

4.166

 

11

Ikan 1.552,72 1.556,55 1.575,68 1.608,3

1.622,5

   
Catatan: Perkembangan produksi padi selama 6 tahun relatif stabil dibanding dengan palawija;
  Palawija, (jagung, ubikayu, ubijalar dan kacang tanah) mengalami variasi perubahan, karena factor ketersediaan lahan terbatas dan dijadikan komoditas tanaman alternative bilamana komoditas utama (padi) mengalami gangguan di lapangan, terutama ketersediaan air irigasi ;
 

 

 

 

Berkaitan dengan program Peningkatan konsumsi pangan non beras non terigu, maka Kota Sukabumi tidak dapat diandalkan sebagai daerah produsen palawija, karena secara keseluruhan lahan budidayanya sudah beririgasi yang ditujukan untuk mencapai target UPSUS Peningakatan produksi padi nasional.

Jenis sayuran yang terdata : Buncis, cabe besar, caisin, selada, kacang panjang, kangkung, ketimun, terung dan tomat (9 jenis)

 

 

Ketersediaan dan Pasokan Pangan Kota Sukabumi Tahun 2016
No. Jenis Pangan Konsumsi (kg/kap/th.)

(Susenas 2016)

Kebutuhan Kota Sukabumi

(ton)

Ketersediaan dan Pasokan Pangan (ton)
Stok Awal Produksi Sendiri Impor Jumlah %tase Produksi/

Kebutuhan

1. Beras 80,769 26.209 200,00 16.708 52.764 69.672 63,75
2. Jagung 0,92 288 2,00 136 688 826 47,22
3. Terigu 12,26 3.977 30,00 11.642 11.672
4. Minyak goreng 11,36 3.687 50,00 11.487 11.537
5. Gula Pasir 0,87 284 100,00 11.083 11.183
6. Telur Ayam 8,67 2.800 4,00 4.166 2.513 6.683 148,48
7. Daging Sapi 3,7 1.180 2,00 1.743,7 1.545 3.291 147,83
8. Daging Ayam 8,08 2.611 1,00 2.793,27 2.650 5.444 106,97
9. Susu 2,49 805 1,00   251,49 251 504 31,22
10. Ikan Asin 4,14 1.422 15,00 2.598 2.613
11. Garam 1,03 335 30,00 4.200 656 4.886 295,35
12. Cabe Merah 1,04 336 1,00 60 856 917 17,85
13. Bawangmerrah 2,02 655 2,00 1.286 1.288
14. Kacang Tanah 0,11 36 1,73 4 702 709 11,11
  Jumlah 137,459 43.970 439,73 30.062,46 100.721 131.225  

Kebutuhan Beras Tahun 2016 : 26.204 ton, produksi lokal  7.157 ton (50,87%) kurang 6.913 ton (49,13%).

Secara umum kondisi ketersediaan pangan 9 komoditas strategis tahun 2016 dapat terkendali dan tidak terjadi gejolak yang menimbulkan kenaikan harga, terutama yang disebabkan oleh keterlambatan pasokan dari wilayah produsen ke pasar-pasar di Kota Sukabumi.

Stabilnya jumlah pasokan pangan ke Kota Sukabumi merupakan salah satu bukti, bahwa kota merupakan pusat distribusi barang dan orang serta sesuai hukum ekonomi, dimana ada permintaan maka akan ada pasokan, karena pangan merupakan komoditas ekonomi yang dapat diperjualbelikan.

Perbandingan Produksi dan Ketersediaan Pangan Kota Sukabumi pada Semester II Tahun 2015 dan 2016

No. Uraian Tahun (ton) Keterangan
2015 % 2016 %
I BERAS          
1. Produksi Lokal 15.538 20,34 16.708 24,05 1.170 ton (3,71%)
2. Beras dari Luar Kota 60.843 79,66 52.764 75,95 – 8.079 ton (-3,71%)
  Total Beras 76.381 100,00 69.472 100,00  
II. NON BERAS          
1. Produksi Lokal 14.867 21,32 13.581 18,68 -1.286 ton (-2,64%)
2. Pangan dari Luar 54.852 78,68 59.093 71,32  4.241 ton (7,36%)
  Total Non Beras 69.719 100,00 72.674 100,00  
  Total Pangan 146.100   142.146    

 

Gambaran penjelasan atas tabel diatas adalah sebagai berikut :

  1. Produksi beras lokal mengalami peningkatan, sedangkan beras impor mengalami penurunan. Hal ini merupakan indikasi telah berhasilnya upaya peningkatan produktivitas hasil padi sawah Kota Sukabumi, dari tahun 2015 sebesar 65,66 Kw/Ha menjadi 66,16 Kw/Ha di tahun 2016.
  2. Di sisi lain dapat dikatakan bahwa menurunnya impor beras karena disebabkan menurunnya permintaan yang dilatarbelakangi oleh menurunnya tingkat konsumsi beras, sebagai dampak atas kegiatan sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat tentang program Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) di Kota Sukabumi.
  3. Sebagaimana data Susenas tahun 2016, konsumsi beras penduduk Kota Sukabumi pada tahun 2015 sebesar 88,29 Kg/Cap/Tahun dan tahun 2016 ini menjadi 80,76 Kg/Cap/Tahun.
  4. Konsumsi komoditas non beras mengalami peningkatan, seirama dengan harapan yang diinginkan dalam upaya penganekaragaman konsumsi pangan di masyarakat, walaupun produksi lokal mengalami penurunan.

Ini semua memperlihatkan bahwa pada tahun 2016 jumlah konsumsi pangan keseluruhan mengalami peningkatan, namun komposisinya berubah, dimana jumlah konsumsi beras mengalami penurunan, tetapi konsumsi non beras mengalami peningkatan.

Berkaitan dengan terjadinya perubahan fungsi lahan pertanian yang berdampak terhadap ancaman berkurangnya produksi pangan pokok beras, berikut ini data perubahan lahan sawah menjadi non sawah di Kota Sukabumi.

Perkembangan luas lahan sawah dan non sawah Kota Sukabumi tahun 2016

No Tahun Tanah Sawah Luas

alih fungsi

Tanah Kering Lahan Lain-lain Jumlah (Luas Wil.Kota /Ha)
1 2010 1.769 2.507 524 4.800
2 2011 1.751 18 2.637 412 4.800
3 2012 1.589 162 2.702 509 4.800
4 2013 1.551 38 3.210 39 4.800
5 2014 1.540 11 2.804 456 4.800
6 2015 1.486 54 2.863 451 4.800
7 2016 1.477 9 2.879 466 4.800
  Jumlah 292

Catatan :

  • Perkembangan penurunan luas lahan sawah selama 6 tahun (2011-2016) : 292 Ha (angka sementara) atau rata-rata 48,67 Ha/tahun;
  • Luas lain-lain : tambak, kolam, empang, hutan negara dll;
  • Berkaitan dengan Undang-undang No.41 tahun 2009 tentang Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan, dan telah terbitnya Perda No.1 tahun 2016 tentang PLP2B, diharapkan pada tahun-tahun mendatang, peralihan fungsi lahan sawah ke non pertanian semakin menurun, karena telah dilakukan sosialisasi ke seluruh wilayah kecamatan di Kota Sukabumi.

Tinjauan dari sisi jumlah petani selaku kepala rumah tangga yang menggarap lahan pertaniannya untuk menghasilkan padi sebagai komoditas pangan pokok, perkembangannya dapat dilihat pada tabel berikut.

Jumlah Rumah tangga Pertanian (Petani Utama) di Kota Sukabumi Sejak Tahun 2011 sampai 2014)

No Tahun Laki-laki Perempuan Jumlah Ket.
1 2009     10.700  
2 2010     10.100  
3 2011     10.863  
4 2012 2.930 1.407 4.337 Perubahan pola data sejak 2012
5 2013 3.807 1.182 4.989
6 2014 3.481 1.182 4.663

Catatan :

  • Petani utama adalah pelaku budidaya tanaman, sejak menanam benih sampai panen
  • Lebih dari 70% jumlah petani utama lebih didominasi oleh petani yaag berusia diatas 45 tahun
  • Menurun drastisnya jumlah petani terjadi pada tahun 2012, hal ini seiring dengan terjadinya perubahan fungsi lahan pertanian sebesar 162 Ha pada tahun yang sama
  • Berkurangnya jumlah petani utama merupakan masalah utama lain yang dihadapi dalam mewujudkan kedaulatan pangan di masa mendatang, karena tanpa mereka, pangan tidak akan dapat dihasilkan.

 

Kerawanan Pangan

Kerawanan Pangan adalah suatu kondisi ketidakcukupan pangan yang dialami daerah, masyarakat atau rumah tangga, pada waktu tertentu untuk memenuhi standar kebutuhan fisiologis bagi pertumbuhan dan kesehatan masyarakat.

Kerawanan pangan Kronis dapat terjadi secara berulang-ulang pada waktu-waktu tertentu, sedangkan Kerawanan Pangan Transien dapat terjadi akibat keadaan darurat seperti bencana alam maupun bencana sosial.  Berikut kerangka pikir dalam penanganan daerah rawan pangan.

Dalam hal pemetaan potensi kerawanan pangan transien yang disebabkan oleh bencana alam, Kota Sukabumi termasuk salah satu daerah di Jawa Barat yang rawan gerakan tanah atau longsor, sehingga memerlukan tingkat kewaspadaan tinggi, baik masyarakat maupun Pemerintah Kota Sukabumi.

Untuk menanggulangi kerawanan pangan akibat bencana, Kota Sukabumi telah menyalurkan Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) berupa beras, yang dimiliki sejak tahun 2012, dan jumlah saldo terakhir CPPD per 31 Desember 2016 adalah 20,699 ton beras dari total pengadaan sebesar 44,75 ton. Adapun jumlah penerima bantuan CPPD sejak tahun 2012 sampai 31 Desember 2016 adalah sebanyak 218 KK atau 789 jiwa akibat tertimpa bencana alam, yaitu bencana angin topan, banjir, tanah longsor dan kekeringan yang menimpa persawahan petani. 

Data Rekapitulasi Kejadian Bencana Alam di Kota Sukabumi pada Tahun 2016

No. Bulan Tahun
2013 2014 2015 2106
1 2 3 4 5 6
1 Januari 12 32 3 8
2 Februari 10 5 13 11
3 Maret 3 9 17 38
4 April 7 12 25 50
5 Mei 9 12 2 7
6 Juni 5 9 16 2
7 Juli 14 5 5 8
8 Agustus 2 4 7 8
9 September 1 3 13 4
10 Oktober 12 6 6 28
11 November 32 28 24 13
12 Desember 5 8 11 10
Total Tahun 2016 112 133 142 187

Catatan :

  1. Jenis bencana yang telah terjadi di Kota Sukabumi diantaranya adalah a. Kebakaran (K), b. Banjir (B), c. Tanah Longsor (TL), d. Angin Topan/Peliuang (AT), e. Gempa bumi (GB dan Lain-lain (LL).
  2. Perkembangan jumlah peristiwa bencana alam dari tahun 2013 sampai tahun 2016 menunjukkan angka peningkatan sebesar 6,76%, 18,75% dan 31,69%. Hal ini memerlukan kajian dan pemikiran bersama mengapa jumlah peristiwa bencana alam tersebut semakin sering terjadi, serta bagaimana cara dan ketentuannya agar bencana alam ini dapat berkurang, baik dari sisi pencegahan (deteksi dini) maupun penanggulangannya, karena tidak semua bencana alam tersebut disebabkan oleh alam semata, tetapi karena pengelolaan lingkungan yang kurang baik.

 

Kondisi Distribusi dan Harga Pangan

Distribusi Pangan dilakukan untuk memenuhi pemerataan Ketersediaan Pangan ke seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia secara berkelanjutan (UU No.18 Tahun 2012 pasal 47) .

Distribusi Pangan merupakan salah satu bagian dari kebijakan Pemerintah untuk mencapai keterjangkauan pangan oleh masyarakat, selain pemasaran, perdagangan, stabilitasi pasokan dan harga pangan serta bantuan pangan.

Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah mewujudkan kelancaran distribusi Pangan dengan mengutamakan pelayanan transportasi yang efektif dan efisien sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Selama ini distribusi pangan di Kota Sukabumi hampir tidak mengalami hambatan, sehingga tidak mempengaruhi stabilitas pasokan maupun harga pangan, selain adanya permintaan pangan yang melonjak pada waktu tertentu (Hari Besar Keagamaan Nasional) yang berpengaruh terhadap kenaikan harga pangan.

Data Pasokan Pangan dan Daerah Produsen Pangan Segar dan Olahan yang ada di Kota Sukabumi

No Bahan Pangan Daerah Produsen Lokal (Kecamatan) Daerah Produsen Luar (Kab/Kota) Daerah Tujuan /(Kab/Kota) Daerah Produsen Lokal (Pangan olahan oleh Pengrajin/ Kecamatan) Ket.
1. Beras Baros, Lbsitu, Wardoy &Cibeureum Kab.Sukabumi Sukabumi Jakarta Lembursitu, Cibeureum  
2. Jagung Cibeureum dan Lembursitu Kab.Sukabumi Sukabumi  
3. Telur Ayam Baros, Lembursitu Cibeureum Kab.Sukabumi dan Cianjur Kab. Sukabumi  
4. Daging Sapi Lembursitu dan Cibeureum Kab.Sukabumi Sukabumi Baros dan Citamiang  
5. Daging Ayam Baros, Cibeureum dan Lembursitu Kab.Sukabumi dan Cianjur Sukabumi Jakarta Baros, Citamiang dan Lembursitu  
6. Susu Lembursitu Kab.Sukabumi Sukabumi Lembursitu  
7. Cabe Merah Cibeureum Kab.Sukabumi Sukabumi  
8. Bawang merah Jateng Sukabumi  
9. Kacang Tanah Baros & Cibeureum Kab.Sukabumi Sukabumi  

 

Hasil Perhitungan Rata-Rata Harga Pangan Strategis, Standar Deviasi dan Koefisien Keragaman Tahun 2016

No. BULAN Beras Med Daging ayam Telur Ayam Daging Sapi Gula Pasir Terigu Bawang Merah Bawang Putih Cabe Merah Minyak goreng
1. Januari 11.000 34.600 24.400 112.000 12.000 8.000 29.600 26.400 36.200 11.000
2. Pebruari 10.000 36.000 23.250 110.000 12.000 8.000 30.500 24.500 40.500 11.000
3. Maret 10.000 32.250 22.000 110.000 12.000 8.000 31.000 31.500 40.000 11.000
4. April 10.000 30.000 21.000 110.000 12.000 8.000 37.500 35.500 36.750 11.000
5. Mei 10.000 31.000 20.500 110.000 12.000 8.000 37.500 35.500 32.500 11.000
6. Juni 10.000 32.000 22.000 110.000 12.000 8.000 37.500 35.500 32.500 11.000
7. Juli 10.000 33.250 22.000 120.000 17.500 8.000 38.500 33.000 31.500 15.000
8. Agustus 10.000 33.500 23.000 110.000 12.500 7.000 30.000 28.000 30.000 12.000
9. September 10.000 34.000 21.000 110.000 12.500 6.500 42.000 28.000 40.000 13.000
10. Oktober 9.400 33.000 20.000 110.000 12.250 6.500 30.000 33.500 40.600 12.000
11. Nopember 10.000 30.000 18.000 115.000 13.000 8.000 40.000 33.000 55.000 12.000
12. Desember 10.000 32.000 20.000 112.500 13.000 8.000 34.000 32.000 55.000 12.000
  Rata2 10.033 32.633 22.164 112.042 12.815 7.667 34.842 31.367 39.213 11.842
  Std-deviasi 349,89 1.804,58 1.723,17 3.165,57 1519,29 615,46 4483,40 3766,44 8273.29 1187,40
  CV 3,49     5.53   8,04   2,83 11,86 8.03   12,87 12,01 21,10 10,03
  Target CV 5 10 10 10 5 5 25 25 25 5
  Capaian 130.3 144.7 119.6 171,7 -37,2 39,4 148,5 152,0 115,6 -0,5
  Capaian stabilitas harga 10 komoditas =   1.338,7/12 111,56

Beberapa catatan tentang perkembangan harga pangan strategis pada tahun 2016, diantaranya adalah :

  1. Dalam aspek distribusi pangan, dari dan ke Kota Sukabumi, pada tahun 2016 dapat dikatakan tidak terdapat hal mengkhawatirkan, terutama hubungannya dengan ketersediaan bahan pangan strategis yang diperlukan masyarakat Kota Sukabumi, walaupun masih banyak sarana fisik jalan yang memerlukan perbaikan dengan kondisi cukup berat kerusakannya sebagai akibat besar dan lamanya frekuensi hujan yang turun pada akhir tahun.
  2. Analisis harga pangan ditentukan sejak bulan Januari sampai Desember tahun 2016 dengan jumlah komoditas sebanyak 10 jenis bahan pangan dan pada tahun 2016 ini terdapat 3 komoditas pangan yang melampaui angka Koefisien Variabel yang ditargetkan, yaitu gula pasir (11,86 dari target CV sebesar 5 poin, terigu 8,03 dari target CV sebesar 5 dan minyak goreng sebesar 10,03 dari target 5 poin). Dengan demikian secara umum perkembangan harga pangan pada tahun 2016 dapat dinyatakan cukup stabil.

Dalam menghadapi bulan suci Ramadhan dan Idul Fitri, Pemerintah Kota Sukabumi setiap tahun menyelenggarakan “Pasar Murah dan Bazar Ramadhan 1437 H /2016 M”, sebagai salah satu kebijakan dalam stabilisasi harga pangan strategis, yang dikoordinir oleh Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan Kota Sukabumi dan diikuti oleh jajaran Tim Penggerak PKK tingkat Kota Sukabumi, para pelaku usaha pangan dan OPD terkait, diantaranya Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pertanian Perikanan dan Ketahanan Pangan Kota Sukabumi.

Jumlah penjualan pangan strategis dalam kegiatan Pasar Murah dan Bazar Ramadhan 1437 H / 2016 M di Kota Sukabumi (dalam satuan kilogram)

No. Kecamatan Beras Gula Pasir Terigu Minyak Goreng Kacang Jumlah
1 Warudoyong 1.080 800 900 900 600 4.280
2 Gunung Puyuh 1.080 800 900 750 600 4.130
3 Cikole 1.080 800 900 900 450 4.130
4 Citamiang 1.080 800 900 900 600 4.280
5 Cibeuruem 972 600 600 600 400 3.172
6 Lembursitu 972 600 600 600 400 3.172
7 Baros 1.026 640 650 648 400 3.364
8 Dharma Wanita 648 600 625 660 400 2.933
  Jumlah 7.938 5.640 6.075 5.958 3.850 29.461

Keikutsertaan Bidang Ketahanan Pangan dalam program Pasar Murah dan Bazar Ramadhan dilatarbelakangi oleh adanya kegiatan Penyaluran Subsidi Telur dan Kentang untuk membantu masyarakat dalam membeli pangan (akses pangan). Besarnya subsidi telur sebesar Rp.3.000,-/kg dan kentang sebesar Rp.2.000,-/kg, dengan jumlah telur sebesar 3.500 kg dan kentang sebesar 3.500 kg.

Adapun evaluasi atas pelaksanaan penyaluran subsidi ini antara lain :

  • Masyarakat menyambut baik karena merasa sangat terbantu dengan telah terpenuhinya sebagian kebutuhan pangannya di bulan suci Ramadhan sesuai dengan kemampuan daya beli mereka;
  • Sebagian warga yang tidak menerima subsidi karena quota sudah habis, mengusulkan agar kegiatan subsidi ini lebih diperbanyak lagi dan meminta agar subsidi hanya ditujukan kepada keluarga kurang mampu saja;
  • Perlunya tata aturan yang memayungi kegiatan penyaluran subsidi di lapangan, agar dalam pelaksanaanya dapat berjalan dengan baik, lancar dan tepat sasaran.

Data penyaluran Subsidi Telur dan Kentang Tahun 2016

No. Kecamatan Jumlah Subsidi (Kg) Jumlah Penerima (Orang) Keterangan
Telur Kentang Telur Kentang
1 2 3 4 5 6 7
1 Warudoyong 500 500 300 250  
2 Gunung Puyuh 500 500 325 250  
3 Cikole 500 500 325 250  
4 Citamiang 500 500 350 250  
5 Cibeureum 500 500 400 250  
6 Lembursitu 500 500 400 250  
7 Baros 500 500 400 250  
  Jumlah 3.500 3.500 2.500 1.750  

 

Data Perbandingan Rata-rata Harga Pangan Tahun 2012 – tahun 2016

No KOMODITI Rata-rata 2012 Rata-rata 2013 Rata-rata  2014 Rata-rata 2015 Rata-rata 2016 % dari th.2015
               
1 Beras (Medium) 7.976 8.212 8.774 9.937 10.033  
2 Minyak Goreng 10.596 9.667 11.225 10.729 11.842  
3 Gula Pasir 11.055 11.461 9.960 11.600 12.813  
4 Terigu 7.123 7.123 7.479 7.808 7.667  
5 Daging Sapi 72.617 91.198 94.958 104.688 112.042  
6 Daging Ayam 25.888 29.971 29.771 31.847 32.633  
7 Telur Ayam 16.481 18.244 18.340 21.208 21.429  
8 Cabe Merah 23.760 29.000 28.963 27.081 39.213  
9 Bawang Merah 13.683 25.363 17.433 22.203 34.586  
10 Kacang Tanah 17.138 20.767 18.433 23.813    

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa dari tahun ke tahun rata-rata harga pangan pokok dan strategis di Kota Sukabumi terus mengalami peningkatan, dan pada tahun 2016 hanya komoditas terigu yang mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya.

Hal tersebut sangat tergantung pada elastisitas harga pasar, dimana permintaan meningkat akan mempengaruhi harga dan pasokan dari wilayah produsen ke wilayah konsumen.

 

Kondisi Konsumsi dan Keamanan Pangan

Penganekaragaman Konsumsi Pangan

Pemerintah dan Pemerintah Daerah berkewajiban meningkatkan pemenuhan kuantitas dan kualitas konsumsi Pangan masyarakat melalui:

  1. penetapan target pencapaian angka konsumsi Pangan per kapita pertahun sesuai dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG, Permenkes Nomor 75 tahun 2013 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan bagi Bangsa Indonesia);
  2. penyediaan Pangan yang beragam, bergizi seimbang, aman, dan tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat; dan
  3. pengembangan pengetahuan dan kemampuan masyarakat dalam pola konsumsi Pangan yang beragam, bergizi seimbang, bermutu, dan aman (B2SA).

Melalui Perpres Nomor 22 tahun 2009 tentang Percepatan Penganekargaman Konsumsi Pangan berbasis pangan lokal, Kota Sukabumi telah melakukan sosialisasi, baik kepada OPD dilingkungan Pemerintah maupun masyarakat umum melalui lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan dan upaya-upaya untuk melaksanakan dan menerapkan pola konsumsi B2SA terutama peningkatan konsumsi sumber karbohidrat non beras dan non terigu seperti beragam palawija (singkong, ubi jalar, talas, sukun dan kacang-kacangan).

Secara administrasi telah dikeluarkan Surat Edaran Walikota Sukabumi yaitu :

  1. Surat Edaran Walikota Sukabumi No.521/3286/ Diperta tanggal 18 Desember 2012 tentang Penganekaragaman Konsumsi Pangan;
  2. Surat Walikota Sukabumi No.526/516/DP2KP/2013 tanggal 19 Juni 2013 tentang Himbauan Penganekaragaman Konsumsi Pangan dan
  3. Surat Edaran Walikota Sukabumi No.501/160/DPPKP tanggal 25 Februari 2015 tentang Gerakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumberdaya Lokal.

Namun upaya tersebut belum mendapatkan hasil yang memuaskan oleh karena berbagai kendala, dari mulai ketersediaan bahan baku, pemahaman masyarakat selaku konsumen yang masih terbatas, biaya produksi relatif tinggi, maupun belum berkembangnya usaha ekonomi produktif dibidang olahan pangan lokal.

Di lingkungan pemerintahan, belum semua OPD melakukan penyediaan snack rapat yang berasal pangan lokal, kacang-kacangan dan buah lokal, sehingga program ini perlu didukung oleh para pelaku usaha bermodal besar agar konsumen tidak lagi sulit mencarinya.

Dari sisi pemanfaatan pangan, kondisi balita Gizi Buruk pada tahun 2016, terdapat 12 balita gizi buruk yang ditemukan di 9 kelurahan, yaitu Kelurahan Dayeuh Luhur, Cikundul dan Limusnunggal, (masing-masing 2 balita), dan Kelurahan Cisarua, Sukakarya, Benteng, Sindangsari, Gedong Panjang dan Nanggeleng (masing-masing 1 balita).

Penanganan pada Balita Gizi Buruk yang dilakukan adalah Pemantauan Pertumbuhan Perkembangan sesuai Standar, Pelayanan Klinik Gizi Balita Gizi Buruk, Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan selama 90 hari dan pemberian Suplemen dan Vitamin.

Data Konsumsi Pangan Penduduk dan Skor PPH Kota Sukabumi Tahun  2014-2016
Kelompok  Bahan Pangan Konsumsi Energi (kkal/kap/hari) Konsumsi Protein (gram) protein/kap/hari)
2014 2015 2016 2014 2015 2016
I. Padi-padian 1.107 1.271 1.341,5 28,9 28,7 29,9
II. Umbi-umbian 24 18 30,7 0,2 0,2 0,4
III. Pagan Hexane 208 196 249,6 17,6 17,6 21,9
IV. Maniac Dan Leak 283 258 260,9 0,0 0,0 0,0
V. Bah/Baja Berminyak 16 13 21,3 0,3 0,3 0,4
VI. Kacang-kacangan 88 56 51,9 5,5 5,5 5,4
VII. Gula 10 40 50,3 0,1 0,1 0,1
VIII. Sayuran Dan buah 51 75 91,6 2,6 2,6 3,1
IX. Lain-lain 30 20 46,5 0,8 0,8 1,0
  Total 1.816 1.947 2.144,3 55,8 55,8 62,2
  % AKE 90,8 97,4 107,2
  % AKP 107,2 107,2 119,7
  PPH (Pola Pagan Harapan) 73,53 75,83 84,6      
Data Susenas 2015 : Nilai PPH 84,6  merupakan nilai rata-rata komposisi zat gizi yang dikonsumsi masyarakat, idealnya 90 (sesuai SPM )
 

 

Keamanan Pangan

Keamanan Pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah Pangan dari kemungkinan :cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat sehingga aman untuk dikonsumsi.

  • Keamanan Pangan diselenggarakan untuk menjaga Pangan tetap aman, higienis, bermutu, bergizi, dan tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat.
  • Keamanan Pangan dimaksudkan untuk mencegah kemungkinan cemaran biologis, kimia, dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan manusia.

Berdasarkan pembagian tugas pokok dan fungsi OPD, urusan keamanan pangan dibagi dalam 2 kelompok besar, yaitu keamanan pangan segar dan keamanan pangan olahan (siap saji dan kemasan).

Keamanan Pangan Segar penanganannya dilakukan oleh OPD yang menangani Ketahanan Pangan, sedangkan keamanan pangan olahan ditangani oleh Dinas Kesehatan.

Berikut hasil pengawasan keamanan pangan segar yang dilakukan oleh Dinas Pertanian Perikanan dan Ketahanan Pangan Kota Sukabumi melalui pemeriksaan laboratorium yang ditunjuk oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat pada tahun 2016.

Resume Data Hasil Pemeriksaan Keamanan Pangan Segar Tahun 2016

No Komoditas Pangan Bahan Berbahaya Jumlah Sampel (buah) Jumlah Sampel Aman (buah) Jumlah Sampel Tidak Aman (buah) %

Aman

Lokasi Pengambilan Sampel
   
I Sayuran dan Buah Segar Pestisida 7 7 0 100 Pasar
II Bahan Asal Hewan            
1 Daging Sapi Mikroba Salmonella sp. 45 45 0 100 Pasar/daerah terbuka
2 Daging Ayam Sda 45 45 0 100  
3 Telur Sda 20 20 0 100  
4 Bakso Sda 51 51 0 100  
5 Susu(Yoghurt) sda 10 10 0 100  
6 Bakso Borax dan daging babi 50 50 0 100  
III Bahan Asal Ikan            
1 Ikan, udang dan cumi Logam Berat Cd 15 15 0 100 Pasar/daerah terbuka
    Pb 15 15 0 100  
    Hg 15 12 3 80  

Sedangkan pengawasan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Sukabumi melalui pemeriksaan pada UPTD Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) terhadap pangan olahan yang beredar di masyarakat, melalui kegiatan Pemeriksaan dan Pembinaan Keamanan Pangan Terpadu di saat Bulan Suci Ramadhan 1437 H, baik di pasar swalayan maupun pasar tradisional di wilayah Koya Sukabumi.

Resume Data Hasil Pemeriksaan Keamanan Pangan Olahan yang berasal dari Pasar Tradisional di Kota Sukabumi pada Semester I Tahun 2016

No Jenis Pangan

Parameter Pemeriksaan

Ket.
Boraks Formalin Rhodamin-B Metanil Yellow
1 2 3 4 5 6 7
1 Cue Etem TTD (-) TTD (-)     T (+) = Terdeteksi

TTD (-) = Tidak Terdeteksi

 

 

 

Dilaporkan tanggal 09 Juni 2016

2 Bandeng TTD (-) TTD (-)    
3 Cue Tongkol TTD (-) TTD (-)    
4 Jamrong TTD (-) TTD (-)    
5 Jamilus TTD (-) TTD (-)    
6 Cumi T (+) TTD (-)    
7 Peda TTD (-) TTD (-)    
8 Teri TTD (-) TTD (-)    
9 Cucut T (+) TTD (-)    
10 Otak-otak TTD (-) TTD (-)    
11 Siomay TTD (-) TTD (-)    
12 Empek-empek TTD (-) TTD (-)    
13 Stik Udang TTD (-) TTD (-)    
14 Baso TTD (-) TTD (-)    
15 Kaki Naga TTD (-) TTD (-)    
             
1 Terasi Colek TTD (-)   T (+)    

 

 

 

 

 

 

 

 

Dilaporkan tanggal 10 Juni 2016

2 Mie Aci TTD (-) TTD (-)   T (+)
3 Cincau TTD (-) TTD (-)    
4 Agar-agar Cisaat TTD (-) TTD (-) T (+) T (+)
5 Tahu Bulat TTD (-) TTD (-)    
6 Otak-otak TTD (-) TTD (-)    
7 Moci Kacang TTD (-) TTD (-)    
8 Tempe TTD (-) TTD (-)    
9 Cue   TTD (-)    
10 Cumi Sotong Asin   TTD (-)    
11 Daging   TTD (-)    
12 Basreng Kiki TTD (-) TTD (-)    
13 Bakso Bulat TTD (-) TTD (-)    
14 Basreng Sikrie TTD (-) TTD (-)    
15 Usus   TTD (-)    
16 Ayam   TTD (-)    
17 Daging Ayam   TTD (-) TTD (-)  
18 Semangka   TTD (-)    
19 Kolang-kaling   TTD (-)   TTD (-)
20 Kaki Naga TTD (-) TTD (-)    
21 Apel TTD (-) TTD (-)    
22 Kaulit Sapi/Kikil   T (+)    
             
No Jenis Pangan Hasil Pemeriksaan (Biakan) Ket.
E.Coli Salmonella sp. Shigella
1 Ikan Selar Negatif Negatif Negatif Dilaporkan tanggal 12 Juni 2016
2 Ikan Mas Negatif Negatif Negatif
3 Ikan Nila Negatif Negatif Negatif
4 Teri Basah Negatif Negatif Negatif
5 Ikan Kembung Negatif Negatif Negatif
6 Ikan Terisi Negatif Negatif Negatif  
7 Ikan Etem Negatif Negatif Negatif  
8 Kerang Positif Negatif Negatif  
9 Udang Negatif Negatif Negatif  
10 Ikan Bandeng Negatif Negatif Negatif  
11 Ikan Tengke Negatif Negatif Negatif  
12 Ikan Layang Negatif Negatif Negatif  
13 Ikan Lele Negatif Negatif Negatif  
14 Cumi Negatif Negatif Negatif  
15 Belut Negatif Negatif Negatif  

Sumber data : Dinas Kesehatan Kota Sukabumi, Mei – Juni 2016.

Resume Data Hasil Pemeriksaan Keamanan Pangan Olahan yang berasal dari Pasar Tradisional di Kota Sukabumi pada Semester II Tahun 2016

No

Jenis Pangan

Parameter Pemeriksaan

Ket.
Formalin Boraks Rhodamin-B

Metanil Yellow

1 2 3 4 5 6 7
1 Terasi PD.Jaya     T (+)   T (+) = Terdeteksi

TTD (-) = Tidak Terdeteksi

 

 

 

Dilaporkan tanggal 21 Desember 2016

2 Asin Cumi Sotong TTD (-)   TTD (-)  
3 Mie Aci TTD (-) TTD (-)   TTD (-)
4 Mie Gepeng T (+) TTD (-)   TTD (-)
5 Ikan Cue TTD (-) TTD (-)    
6 Bleng TTD (-) T (+)    
7 Bumbu Masak Rasa Keju Manis Cap Atom Bintang TTD (-) TTD (-)    
8 Cabe Giling TTD (-) TTD (-) TTD (-)  
9 Kunyit Giling TTD (-) TTD (-)   TTD (-)
10 Mie Kecil T (+) TTD (-)   TTD (-)
11 Ayam Potong TTD (-)      
12 Tahu Kuning TTD (-) TTD (-)    
13 Cireng TTD (-) TTD (-)    
14 Baso Daging Sapi TTD (-) TTD (-)    
15 Otak-otak Pedas TTD (-) TTD (-)    
16 Stik Udang TTD (-) TTD (-)      
17 Balado Singkong TTD (-) TTD (-) TTD (-)    

Sedangkan hasil yang didapatkan dari sampel Bahan Makanan yang diperiksa dari Pasar Modern/Supermarket adalah sebagai berikut :

  1. Makanan mendekati masa Kadaluarsa;
  2. Makanan Import tanpa Kode ML;
  3. Kemasan bahan makanan tidak sesuai ketentuan (tanpa label).

Data Kondisi Keamanan Pangan di Kota Sukabumi Tahun 2012-2016

No Waktu Lokasi Jenis Keracunan Jenis Kegiatan Bahan Yang Dicurigai JUMLAH KORBAN Penyebab
Sakit Dirawat Wafat
1 24 Sept 2012 RW 08 & 16 Kel. Karang Tengah Kec. Gunung Puyuh Makanan Hajatan (syukuran haji) telur

pindang

127 13 Bakteri Staphylococcus pada makanan (telor)
2 29 Okt 2012 RT 02/06 Kel. Lembursitu Kec. Lembur situ Makanan Makan

pagi

telur asin 5 5

(2 RS, 3 PKM)

blm

diketahui

3 28 Mei 2013 RW 07 Kel.Cikundul Kec. Lb situ Makanan Bakso/

Cilok

Jajanan Bakso/

Cilok

66 2 blm

diketahui

4 1 Maret 2014 RT04 RW18 Kp.Ciendog Kel.Dayeuh Luhur Makanan Nasi Kotak Syukuran Tujuh Bulanan Ayam jujut 154 64 (rawat inap) Bakteri Staphylococcus pada ayam jujut
5 26 Maret 2014 SD Sudajaya Hilir 3 Kel. Sudajaya Hilir Snack Mie Instan Belajar mengajar Mie Instan kadaluarsa 85 Jamur
6 21 Oktober 2014 Pontren AmalIslami Kp. Lb.Pasir RT 01/05 Kel. Sindangsari. Makanan Ikan Laut (tongkol) Makan pagi Ikan laut (tongkol) 32 17 (PKM) Diduga mengandung Nitrit
7 Tahun 2015 Nihil Nihil Nihil Nihil Nihil Nihil Nihil Nihil
8 Tahun 2016 Nihil Nihil Nihil Nihil Nihil Nihil Nihil Nihil

 

Facebook Comments
Web Design MymensinghPremium WordPress ThemesWeb Development

Kementan Berencana Ekspor Jagung Ke Jepang dan Taiwan

Pertanianku — Kementerian Pertanian (Kementan) berencana menjajaki ekspor jagung ke Jepang dan Taiwan. Dua negara tersebut diketahui merupakan pasar besar di Asia yang setiap tahunnya mengimpor jagung dari luar negeri, khususnya Amerika Serikat. “Secara geografis, Jepang dan Taiwan lebih dekat ke Indonesia dibanding Amerika sehingga mereka tertarik karena harganya bisa lebih murah,” kata peneliti Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen di Kementerian Pertanian, Khorudin seperti dilansir Republika, Rabu (29/8). Jepang dan Taiwan mengetahui Indonesia telah mengekspor jagung ke Filipina. Kementan, kata Khoirudin, tengah menerbitkan kebijakan yang mendukung kemudahan ekspor ke negara-negara luar, mengingat produksi jagung di Indonesia sudah surplus. Jepang dapat dikatakan negara yang sangat ketat dalam menerapkan standar produk impor. Jagung biasa digunakan untuk pakan ternak di negara tersebut, lebih dari 70 persennya. Tahun ini, pemerintah menargetkan ekspor jagung hingga 500 ribu ton. Kawasan ASEAN menjadi pasar potensial karena harga yang ditawarkan jauh lebih murah. Data Kementan hingga Mei 2018 menunjukkan bahwa realisasi ekspor jagung Indonesia sudah mencapai 200 ribu ton. Sentra produksi jagung di Indonesia adalah Gorontalo, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat. Daerah lain yang potensial adalah Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Selatan, Lampung, Sumatera Utara, dan Kalimantan. Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen di Kementerian Pertanian, Risfaheri menambahkan International Conference on Agricultural Postharvest Handling and Processing (ICAPHP) yang digelar di Bali Dynasti Resort, Kuta, Bali, bisa menjadi ajang tukar menukar informasi antara peneliti, pemerintah, dan pihak swasta berbagai negara yang berkecimpung di bidang pertanian. Banyak perusahaan swasta dilibatkan di sana. Dengan begitu, harapannya ada kerja sama baru terbentuk dari kegiatan ini.  “Pelaku bisnis bisa mendapat informasi. Potensi ekspor hortikultura Indonesia sangat besar asalkan penanganan dari kebun hingga pasarnya tepat. Selain jagung, tahun ini kita juga menjajaki ekspor nanas ke Amerika,” ujar Risfaheri. Sekadar informasi, nanas merupakan salah satu buah unggulan Indonesia, khususnya jenis nanas madu. Produksinya mencapai 1,84 juta ton dengan produktivitas 117,5 ton per hektare (ha) lahan. Wilayah Indonesia hampir seluruhnya bisa menghasilkan nanas, khususnya Jawa Barat, Jambi, Lampung, Sumatera Utara, dan Jawa Timur.     Sumber : https://www.pertanianku.com/kementan-berencana-ekspor-jagung-ke-jepang-dan-taiwan/

Peran Pemuda dalam Percepatan Invensi Menuju Inovasi Pertanian

Peran pemuda tidak terlepas dari sebuah peradaban suatu bangsa. Maju atau tidaknya sebuah bangsa tergantung dari peran pemudanya, salah satunya dari aspek pertanian. Ide kreatif dan energik dari para pemuda sangat dibutuhkan oleh dunia pertanian dalam menghasilkan teknologi inovatif yang berdaya nilai tinggi, efektif dan efisien. Bagaimana menggaet para pemuda agar tertarik dengan dunia pertanian? Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) pada hari minggu, 12 Agustus 2018 melaksanakan kegiatan Talk Show Peran Pemuda dalam Percepatan Invensi Menuju Inovasi di Balai Pengelola Alih Teknologi Pertanian (BPATP), Bogor. Kegiatan ini dihadiri oleh 53 peserta yang hampir semuanya adalah anak muda. Kegiatan ini merupakan salah satu dari pelaksanaan AIF on the spot 2018. Peserta sangat antusias mendengarkan paparan materi dan dilanjutkan dengan dialog berupa usaha agrobisnis mengenai hambatan, tantangan dan kisah sukses yang disampaikan oleh para enterpreneur muda diantaranya Eva L.A. Madarona (PT. Fajar Sejati Sukses/Ijo Hydro); Wageyana (Wirausahawan muda binaan BPTP DIY); dan Dede Zaenab (Manajer Taman Teknologi Pertanian Cigombong). Jalannya acara di moderatori Bapak Kuntoro Boga Andri, SP., M.Agr., Ph.D Ka Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian.  “Saya sangat tertarik dengan bidang pertanian apalagi masih dalam jiwa pemuda, sepertinya pertanian Indonesia masih perlu terobosan baru untuk kedepannya. Dengan kegiatan ini saya jadi tahu banyak hal, sehingga bisa  memaknai pertanian secara luas, misalnya pertanian itu tidak membutuhkan lahan yang luas tetapi juga dapat diaplikasikan dalam lahan sempit dan juga lebih inovatif juga gitu. Selain itu pertanian juga tidak hanya langsung di tanam pada tanah tetapi bisa juga melalui vertikultur, hidroponik, dan juga kultur jaringan. Peluang untuk bisnisnya sangat besar dibandingkan dengan bercocok tanam di lapangan”. Ujar Nurul Huda (Mahasiswa Vokasi IPB).(MB)

Kementan Optimis Jaga Produksi Padi Di Musim Kering

Jakarta - Kementerian Pertanian melakukan langkah strategis untuk mengantisipasi puncak musim kemarau yang berdasarkan perkirakan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)  terjadi pada bulan Agustus dan September 2018. Sejumlah langkah antisipatif yang sudah dilakukan Kementan diyakini akan mampu menjaga produksi pertanian, khususnya padi.  
 
"Seluruh pejabat kementan dan kita bersama sama turun ke lapangan untuk membantu petani langsung di lahan sawah mereka. Mencari sumber air dan mempertahankan pertanaman 1 juta hektar bulan Agustus ini agar tetap panen," kata Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat dimintai keterangan pada Minggu (12/8).
 
Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian Sumarjo Gatot Irianto saat diwawancarai di kantornya pada Jumat (10/8) menyatakan, sejumlah langkah komprehensif sudah dilakukan, antara lain: melakukan percepatan tanam pada daerah yang belum mengalami kekeringan, penggunaan bibit padi khusus untuk lahan kering, serta penerapan teknologi dan mekanisasi untuk penyediaan air. Secara kelembagaan Kementan juga meningkatkan sosialisasi dan koordinasi kepada seluruh pemangku kepentingan di setiap daerah.
 
Secara umum, Gatot menyatakan bahwa musim kekeringan seharusnya tidak selalu dipandang sebagai sesuatu yang buruk. Menurutnya, justru banyak peluang dan kesempatan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi jika dikelola dengan baik. 
 
Gatot menambahkan,salah satunya adalah kesempatan untuk memanfaatkan areal pertanaman di rawa. Rawa yang semula tinggi muka air 1 meter, pada musim kering turun menjadi 20-30 cm, sehingga menjadi peluang untuk wilayah tanam baru. “Selain itu, musim kemarau bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin karena hasil panen lebih bagus, hama lebih sedikit, sinar matahari cukup baik untuk fotosintesis, dan kualitas gabah lebih baik,” jelasnya optimis.
 
Sikap positif Kementan juga didukung dengan data luas pertanaman pertanaman tahun ini yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Dibanding bulan Oktober-Juli 2016/2017, pertanaman di bulan yang sama tahun 2017/2018 ini surplus 738.524 hektar. Selain itu, luas petanaman bulan Juni sebagai awal kemarau tahun 2018 mencapai 984.234 hektar, juga masih lebih baik dibanding di bulan yang sama tahun lalu yakni seluasi 933.390 hektar. 
 
“Peningkatan ini penting karena di beberapa tempat yang menurut BMKG mengalami kemunduran musim kemarau, Kementan berkomitmen melakukan percepatan tanam padi di beberapa wilayah, terutama yang masih bisa memanfaatkan hujan,” terangnya.
 
Penerapan Teknologi
Di beberapa wilayah yang memang sudah mengalami kekeringan, Kementan  sudah melakukan langkah langkah dengan memanfaatkan hasil inovasi petanian yang cocok untuk dilakukan pada musim kering. Salah satu contoh pertanaman lahan kering yang sudah dimulai adalah di lokasi petani binaan, Poktan Berkarya, di Kelurahan Lobusona, Kecamatan Rantau Selatan, Labuhan Batu, Sumatera Utara. 
 
Direktur Serelia, Ditjen Tanaman Pangan, Kementan Bambang Sugiharto menjelaskan pihaknya telah mendorong petani untuk menggunakan bibit unggul khusus lahan kering yakni Inpari 32. "Wilayah Labuhan Batu menargetkan 10.000 ha perluasan areal tanam baru padi lahan kering selesai tanam bulan September 2018. Langkah ini untuk tetap menjaga produksi padi di daerah Sumatera Utara yang notabene nya sentra beras," paparnya.
 
Bambang juga menyatakan, alokasi bantuan Kementan untuk lahan kering di Sumatera Utara meliputi luas 124.701 hektar. Luas tertanam sampai dengan hari ini seluas 32.079 ha dengan, sehingga dibutuhkan target luas tambah tanam harian Agustus 2018 di Sumut minimal 3.500 ha. Wilayah yang mempunyai potensi besar pertanaman padi lahan kering di Sumatera berada di Madina, Simalungun, Deli Serdang, Langkat, Serdang Bedagai, dan Labuhan Batu Utara. 
 
Secara Nasional, Bambang juga menjelaskan, penanaman padi di lahan kering ini juga menjadi salah satu cara untuk menjaga produksi padi nasional. Kementan melalui Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menargetkan penanaman padi Gogo di lahan kering seluas 1 juta hektar. 
 
"Lahan kering diharapkan sebagai potensi baru lahan pertanaman padi selain padi sawah mengingat mulai maraknya alih fungsi lahan di persawahan. Potensi pemanfaatan padi lahan kering bisa menggunakan lahan perkebunan, kehutanan maupun menggunakan tanaman sela," terangnya.
 
Selain benih khusus lahan kering, Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Dirjen Tanaman Pagan Kementan Yanuardi juga mendorong penerapan teknologi adaptasi untuk menanggulangi dampak kekeringan, di antaranya adalah penerapan Biopori dan Sumur Suntik. Pembuatan lubang bipori selain untuk mengantisipasi terjadinya banjir dengan membuat air hujan cepat meresap ke dalam tanah, juga membuat tanah tidak cepat kehilangan air pada saat musim kemarau. Sementara, pembuatan sumur suntik diharapkan dapat menjadi alternatif sumber pengairan pada saat memasuki  musim kemarau, terutama pada sawah tadah hujan.
 
“Kementan sudah memetakan wilayah-wilayah mana saja yang mendapat alokasi teknologi tersebut di 18 provinsi. Total alokasi 400 biopori dan sumur suntik. Aceh, Sumatera Barat, Nusa Tenggara Barat misalnya mendapatkan teknologi Biopori, sementara sisanya menggunakan sumur suntik,” bebernya.
 
Dipetakan bahwa, lokasi yang peluang kekeringan besar berada di jalur pantura Jawa karena menurunnya curah hujan. Namun, faktor lain juga perlu dihitung, yakni dengan memaksimalkan pemanfaatan sungai, embung, dan waduk yang masih banyak debit air dan bisa dilakukan pompanisasi.
 
Kementan juga sudah melakukan koordinasi massif di setiap daerah agar langkah antisipatif tersebut berjalan maksimal, yakni dengan mengerahkan babinsa, dinas pertanian, kodim, tim upaya khusus (upsus), dan Kantor Cabang Dinas (KCD). Selain itu upaya pengamanan standing crop bekerjasama dengan TNI agar hambatan di lapangan bisa diatasi. 
 
“Semua turun untuk meyakinkan bahwa kekeringan bukan halangan tetapi opportunity. Pemetaan, pendataan, hingga penerapan langkah antisipatif diharapkan bisa maksimal,” pungkas Gatot mengulang permintaan Menteri Amran.

Kementan Sinergikan Program Bedah Kemiskinan dengan Kemendes dan Kemensos

Surabaya - Kementerian Desa Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes  PDTT) melontarkan pujian terhadap program Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera (Bekerja) yang digagas oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Program Bekerja dinilai memiliki korelasi yang sangat signifikan dengan prioritas pembangunan desa, yaitu menjadikan desa mandiri.
 
"Saat ini, 82,7  persen desa- desa di Indonesia adalah petani, dalam artian, kalau kita bisa tingkatkan sektor pertanian di Indonesia,  maka  kesejahteraan desa akan meningkat," demikian dikatakan Sekretaris Jenderal Kemendes PDTT, Anwar Sanusi dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Program #Bekerja Kementan Tahun 2018 yang digelar Kementerian Pertanian (Kementan) di Surabaya, Selasa (7/8). 
 
Pada Rakor ini dilakukan penandatanganan perjanjian kerja sama antara Kementan dengan Kementerian Sosial dengan Kemendes PDTT tentang sinergi kegiatan Bekerja. Hadir Mentan Amran, Gubernur Jawa Timur, Soekarwo dan perwakilan Kemensos.
 
Anwar membeberkan ada tiga program Kemendes yang disebut sangat signifikan dengan program Bekerja. Pertama, Produk Unggulan Kawasan Pedesaan (Prukades).
 
Lebih lanjut Anwar jelaskan, dengan mengenal produk andalan masing- masing kawasan pedesaan, Kementan melalui Program Bekerja dapat dengan mudah mengucurkan bantuan, misalnya ayam, kambing dan tanama hortikultura.
 
"Dengan demikian desa diharapkan mampu mempercepat pemeratan pembagunan  di desa, menguatkan pembangunam daerah dan yang terpenting menurunkan angka kemiskinan," terang Sanusi.
 
Kedua, sebut Anwar, program Badan Usaha Milik Desa (BUMdes). Badan ini berperan mengeloloh keunggulan masing-masing desa. Dari menyediakan benih, pupuk  hingga menjadi wadah untuk membeli hasil petani.
 
"Ketiga adalah embung. Jika embung berhasil maka sektor pertanian sukses," tuturnya.
 
Menteri Amran menjelaskan Program Bekerja hadir untuk meningkatkan aset produktif, sehingga meningkatkan pendapatan keluarganya. Dengan pendapatan yang cukup maka mereka mampu berada di atas garis kemiskinan.
 
“Kemiskinan tidak bisa diselesaikan oleh satu Kementerian atau Lembaga saja tapi perlu dukungan yang lain,” ungkapnya. 
 
Kemensos lebih pada Bantuan Sosial, Kemendes pada aspek pengembangan produk dan pemasaran dan infrastruktur, sedangkan Kementan menekankan pada peningkatan produktivitas ekonomi masyarakat miskin di pedesaan. 
 
“Program Bekerja merupakan salah satu solusi permanen dalam pengentasan kemiskinan di pedesaan,” ujarnya.
 
 
 
sumber : http://www.pertanian.go.id/home/?show=news&act=view&id=3299

Kementan Bergerak Cepat Salurkan Bantuan dan Kirim Tim Khusus Bantu Korban Gempa NTB

Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) bergerak cepat mengumpulkan bantuan kemanusiaan bagi pra korban gempa di Lombok, NTB. Ribuan warga Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang menjadi korban gempa saat ini memang sangat membutuhkan bantuan bahan makanan. Sebagai bentuk kepedulian terhadap para korban, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyerahkan bantuan yang dihimpun Kementerian Pertanian (Kementan) senilai 10 miliar lebih, di Kantor Pusat Pertanian, Kawasan Ragunan, Jakarta (6/8/2018). 
 
"Sekitar 3 jam kami berkoordinasi, terkumpul 10 miliar lebih. Baik berupa uang,  bahan makanan maupun hewan ternak", ujar Menteri Amran. 
 
"Ini adalah ujian bagi saudara kita di NTB,  ujian bagi kita juga penduduk Indonesia, ujian bagi rasa persatuan kita utk berbagi dengan sesama. Ini adalah ladang amal, masing-masing dari kita harus memberi contoh", ajak Amran. 
 
Bantuan senilai 10 miliar lebih itu dikumpulkan dari berbagai pihak yang dikoordinasikan Kementan. Di antaranya Badan Urusan Logistik (Bulog), perusahaan makanan dan minuman, asosiasi-asosiasi petani dan peternak, asosiasi eksportir dan importir, asosiasi pengusaha bahan pangan, pabrik gula, perusahaan perkebunan, perusahaan kendaraan bermotor, hingga perusahaan asuransi. Kementerian sendiri memberikan bantuan sebesar 2 miliar lebih, termasuk berupa hewan ternak. Termasuk Menteri Amran yang menyerahkan bantuan sebesar 1 tahun gaji nya sebagai Menteri Pertanian. 
 
*data Insert Infografis
Daftar Sebagian Para Pemberi Bantuan 
Kementerian Pertanian Rp 1,7 miliar
PT Indofood 1 mobil box mie instan
PT. Bulog 5 ton beras
Asosiasi pengusaha bawang merah Rp 125 juta
Asosiasi pelaku usaha ekportir importir Rp 130 juta
Asosiasi pengusaha bawang putih Rp 125 juta
Asosiasi pengusaha sarang walet Rp 190 juta
PT. RNI    1 mobil box gula
PT.PN      Rp 100 juta
Pinsar      Rp 18 juta
PT. Food Statio Rp 20juta
PT. Pupuk Indonesia Rp 2 miliar
Frutang Rp 150 juta
Ditjend tanaman Pangan Rp 1 miliar 
PT Honda   2 unit genset 250watt & Pompa 10 unit
PT. Jasindo Rp 100 juta
 
Kementan Gerakkan Petani-Peternak Seluruh Indonesia
 
Menteri Pertanian juga meminta seluruh petani-peternak di seluruh Indonesia, untuk turut bergerak menunjukkan kepedulian terhadap para korban gempa. 
 
"Ada 100 juta lebih keluarga pertanian di Indonesia. Kami ajak untuk kita sama-sama memberi sumbangan bantuan apapun bentuknya. 1 ekor ayam, 1 butir kelapa, 1 butir telur akan sangat berarti bagi keluarga saudara kita di sana",  tambah Amran.
 
Mentan meminta keluarga besar pertanian membentuk tim peduli. Kantor Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) yang ada di tiap propinsi di Indonesia agar menjadi posko bantuan,untuk mengkoordinir dan menyerahkan bantuan dari para petani-peternak. Kantor BPTP di Lombok menjadi posko besar Kementan sebagai pusat koordinasi pengumpulan dan penyerahan bantuan kemanusiaan.
 
"Kementan hanya mengkoordinir pengumpulan dan penyerahan bantuan. Untuk distribusi selanjutnya kami percayakan pada teman-teman yang bertugas di sana", sambung Mentan. 
 
Menurut informasi dari lokasi gempa, senagian warga korban gempa masih bertahan di sekitar rumahnya, karena menjaga harta benda dan hewan ternak. Untuk itu Mentan juga menginstruksikan Dirjend Peternakan dan Kesehatan Hewan untuk mengirim tim khusus. 
 
"Tim khusus yang terdiri atas 100 orang  ini akan berangkat hari ini juga, untuk membantu warga korban gempa mengurus ternak sapi dan lain sebagainya. Tim ini akan membawa perlengkapan termasuk vaksin, untuk menjaga ternak warga tetap selamat dan sehat", tandas Mentan. 
 
Kementan juga membuka sejumlah rekening bagi masyarakat yang ingin mengulurkan bantuan berupa uang.
 
Akibat gempa yang mengguncang Lombok NTB Ahad malam, (5/8) 91 orang meninggal dunia akibat tertimbun bangunan. 200 lebih orang dilaporkan luka-luka, ribuan lainnya terpaksa mengungsi karena bangunan rumah mereka rusak. (*)
 
 
 
sumber : http://www.pertanian.go.id/home/?show=news&act=view&id=3298

Indonesia Kembali Ekspor Bawang Merah ke Thailand 5.600 Ton

Brebes (1/8) - Kementerian Pertanian (Kementan) kembali melepas ekspor bawang merah ke Thailand. Brebes yang merupakan sentra bawang merah terbesar di Indonesia telah memberikan kontribusi 18,5 persen dari produksi nasional atau 57% dari produksi Jawa Tengah. Memasukin panen raya bulan Juni-Agustus Bawang merah yang dihasilkan petani di Kabupaten Brebes, tak hanya dapat memenuhi kebutuhan di dalam negeri. Namun komoditas tersebut juga kembali berhasil mengekspor bawang merah ke Thailand, kali ini sebesar 5600 ton dari target 9000 ton untuk tahun ini. 
 
“Hari ini kita membuktikan lagi kepada dunia,dulu kita impor bawang merah ke Thailand, sekarang kita balikan ekspor ke negara tersebut, ini adalah serangan balik, karena target ekspor naik 100 persen”. Ini juga mencetak Dolar, seperti arahan khusus Presiden Jokowi ujar Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiaman saat melepas truk kontainer ekspor bawang merah oleh PT Revi Makmur Sentosa, di Brebes (1/8/2018).
 
Mentan mengatakan bersama Dirut Bulog Budi Waseso, Kementan akan bekerja lebih cepat dan siap bekerjasama meningkatkan pertanian Indonesia serta dengan tegas menolak impor masuk ke Indonesia. 
 
“Selama Buwas menjadi dirut kita tidak sering rapat lagi tapi langsung kerja kelapangan menyelesaikan masalah, lewat sms saja selesai persoalan kita,” ujar Mentan
 
Ekspor bawang merah yang terus berlanjut ini membuktikan bahwa Indonesia tidak hanya berhasil mewujudkan swasembada, tapi juga mewujudkan kedaulatan bawang merah. Tercatat, sejak 2016 hingga saat ini, Indonesia sudah tidak lagi mengimpor bawang merah, akan tetapi terus mencatatkan diri sebagai pengekspor bawang merah. 
 
Mentan mengatakan bahwa ekspor bawang merah ke Thailand merupakan prestasi besar pembangunan pertanian di era pemerintahan Jokowi-JK. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2014 Indonesia masih mengimpor bawang merah sebesar 74.903 ton. Pada 2015 total impor sebesar 17.429 ton, tetapi pada 2016 tidak ada impor bawang merah, bahkan mampu mengekspor 735 ton serta pada tahun 2017 Indonesia telah berhasil ekspor 7.750 ton bawang merah naik 93,5 persen.
 
Lebih lanjut Mentan mengatakan bahwa prestasi ini menunjukkan kemampuan bangsa Indonesia membalikkan keadaan, yang semula importir menjadi negara eksportir bawang merah ke beberapa negara ASEAN.
 
“Hari ini, di momen menyambut 73 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, kita kembali membuktikan kemampuan kita dengan mengekspor bawang merah ke Thailand sebanyak 5600 ton " tambah Mentan
 
Di tahun 2016 luas panen bawang merah Indonesia mencapai 149,6 ribu ha dengan produksi mencapai 1,45 juta ton serta luas tanam naik menjadi 22,5% dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2017 target produksi bawang merah 1,47 juta ton naik 1,7% dari tahun 2016.
 
"Sudah ada 5 komoditas pertanian termasuk bawang merah yang berhasil kita ekspor, dan dilakukan dalam jangka waktu yang singkat, " tegas Mentan
 
Dalam kesempatan tersebut Dirut Bulog, Budi Waseso mengatakan bahwa kita harus meningkatkan kualitas komoditas pertanian kita, dirut bulog memiliki 3 tugas yaitu menyerap produk petani dan membeli dengan harga yg menguntungkan petani, lalu menjaga stok ketersediaan bahan yang dibutuhkan masyarakat dan yang terakhir adalah menstabilkan harga petani dan konsumen. Sehingga dalam hal ini sumber kehidupan kita adalah petani.
 
“Kita harus bangga memiliki Menteri Pertanian yang eksis terhadap masalah pertanian, kemarin kita diserang oleh impor, hari ini kita membuktikan serangan balik, brebes terkenal dengan Bawang merah maka serangan balik tersebut juga datang dari Brebes, “ tegas Budi Waseso 
 
Selain Brebes, masih banyak lokasi sentra kawasan bawang merah, antara lain Cirebon, Bandung, Majalengka, Garut, Demak, Tegal, Nganjuk, Probolinggo, Sampang, Pamekasan, Bima, Sumbawa,  Lombok Timur, Tapin dan beberapa daerah sentra lainnya.
 
Indonesia mampu mengekspor bawang merah ke Thailand dan tingkatkan volume ekspor ke negara lainnya merupakan buah dari keseriusan dan keberhasilan program terobosan pemerintah dalam meningkatkan produksi. Adanya bantuan benih, pupuk, alsintan serta prasarana pertanian lainya diperuntukan bagi petani setiap tahunya juga berhasil meningkatkan kesejahteraan petani.

6 Varietas Jagung siap mendukung Pemenuhan Target Produksi Pemerintah

Guna memenuhi kebutuhan jagung nasional serta mempercepat aliran diseminasi produk inovasi yang telah dihasilkan, Balitbangtan kembali memberikan lisensi kepada 2 perusahaan benih nasional yaitu PT Hanjaya Mas Plosjom dan PT Benih Jatim Nusantara. Varietas jagung yang dilisensi oleh 2 perusahaan tersebut adalah Bima 14, Bima 15, dan Bima 19 untuk PT Hanjaya Mas Plosjom. Sedangkan untuk PT Benih Jatim Nusantara yaitu varietas JH 27, HJ 21, dan Nasa 29. Mediasi sekaligus penandatanganan telah dilaksanakan pada Kamis (19/7/2018) di Balai Pengelola Alih Teknologi Pertanian, Bogor. Kedua lisensor telah berkomitmen akan melaksanakan seluruh kesepakatan yang telah tertuang dalam naskah perjanjian. Selain itu mereka juga berkomitmen dalam menyampaikan laporan pengembangan sebagai upaya pemantauan keberhasilan pemenuhan target produksi. Kita berharap dengan ditandatanganinya kerjasama lisensi untuk 6 varietas ini menjadi upaya peningkatan ketahanan pangan nusantara. (muh)     sumber : http://www.litbang.pertanian.go.id/berita/one/3315/

Ribuan Benih Kelapa Diserahkan Balitbang pada Kelompok Tani

Pertanianku — Kementerian Pertanian melalui Badan Litbang Pertanian terus berupaya mensukseskan Tahun Pembenihan 2018. Beberapa waktu lalu, Balitbang menyerahkan ribuan benih kelapa kepada kelompok tani di wilayah Kabupaten Kebumen. Sebelumya, Balitbang memproduksi benih tanaman pangan, perkebunan, dan hortikultura yang dilaksanakan oleh Unit Kerja (UK) dan Unit Pelaksana Tugas (UPT), baik di pusat maupun di daerah. Dimulai pada 2017, produksi benih berbagai komoditas telah terlaksana yang di antaranya sudah didistribusikan kepada masyarakat sesuai dengan kondisi dan kebutuhan wilayah. Hal itu dilakukan atas kerja sama dengan pemerintah daerah dalam penentuan CPCL-nya. Benih berbagai komoditas yang diproduksi oleh UK-UPT Balitbangtan, selain bersertifikat atau berlabel, dalam proses produksinya juga penuh dengan sentuhan inovasi teknologi. BPTP Balitbangtan Jawa Tengah mendapat mandat memproduksi benih berbagai komoditas. Dalam waktu dekat, BPTP Balitbang Jateng siap mendistribusikan benih beberapa komoditas lain, di antaranya kentang dan bawang putih. Sebelumnya, BPTP telah mendistribusikan benih pepaya, delima, dan tebu kepada kelompok tani di beberapa kabupaten di Jateng. Melansir Republika, pada Jumat (20/7), disaksikan oleh Kadistan dan Pangan Kabupaten Kebumen serta Kabid Perkebunan Distanbun Provinsi Jateng, BPTP Balitbangtan Jateng menyerahkan 8 ribu benih kelapa (kelapa dalam) kepada lima Gabungan Kelompok Tani di wilayah Kabupaten Kebumen. Kepala BPTP Balitbangtan Jateng, Harwanto menyatakan, benih kelapa produksi BPTP Balitbangtan Jateng yang lolos sertifikasi sebanyak 9.450 batang dari target output 8 ribu batang. “Distribusi benih tidak hanya kepada lima Gapoktan di Kecamatan Sadang dan Karanggayam Kabupaten Kebumen, namun juga juga dialokasikan untuk desa miskin di Kecamatan Adimulyo sebanyak 500 batang,” ujarnya. Sementara itu, Kadistan dan Pangan Kabupaten Kebumen mengucapkan terima kasih kepada BPTP Balitbangtan Jateng dan Distanbun Provinsi Jateng yang telah mengalokasikan bantuan benih kelapa di Kabupaten Kebumen. Dengan adanya bantuan benih tersebut, diharapkan akan bisa meningkatkan produksi kelapa di tahun-tahun yang akan datang.   sumber : https://www.pertanianku.com/category/berita-terbaru/
Terima kasih telah berkunjung ke website Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan Kota Sukabumi