Selamat Datang di Media Informasi Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan Kota Sukabumi

Indikator Kinerja Utama (IKU)

Cover IKU 2013-2018 Icon

 

Cover IKU 2013-2018 Revisi Icon

 

Facebook Comments
Web Design MymensinghPremium WordPress ThemesWeb Development

Mentan Hadiri Panen Raya di Demak Seluas 7.000 Hektar

Demak (23/1) - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman hadiri panen raya Desa Sari Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak, Jawa Tengah pada Selasa (23/1). Setelah kemarin meninjau panen raya di Bojonegoro, Jawa Timur, kini pantauan beralih ke Provinsi Jawa Tengah. Luas sawah yang dipanen di Demak kali ini seluas 7 ribu hektare.  Pada kesempatan panen tersebut, Amran menegaskan komitmennya untuk selalu membela kepentingan petani. "Petani sudah tahu hati nurani saya. Seperti arahan Presiden, harus hadir  ditengah-tengah petani. Kalau petani menangis, kita harus hadir di sampingnya," ucap Amran.  Komitmen Amran juga didukung oleh Aster KASAD TNI-AD Mayjen Supartodi. Dalam pernyataannya seusai melakukan panen, Supartodi menegaskan komitmen TNI untuk mendukung ketahanan pangan nasional. "Kita harus mendukung pak menteri. Bersama-sama dengan kementan, PPL dan gapoktan, meningkatkan produk-produk pertanian di seluruh indonesia," tegasnya.  Bupati Demak HM Natsir menyebutkan luas lahan yang siap panen kali ini kurang lebih seluas 7 ribu hektare. Bahkan dua minggu lagi, diperkirakan panen akan mencapai luasan yang lebih besar lagi, setidaknya 38 ribu hektare.  "Ini bisa memenuhi kebutuhan kita, bukan hanya Demak, tapi juga daerah-daerah lainnya. Jika panen seperti ini, kami yakin Demak akan surplus dan tidak kekurangan pangan, " ujar Natsir.  Natsir juga mengapresiasi bantuan yang telah diberikan Kementan yang telah dimanfaatkan masyarakat Demak, terutama petani. Bantuan tersebut telah dimanfaatkan maksimal sehingga produktivitas meningkat. "Insya Alah Jateng tetap menjadi penopang beras tertinggi," ucapnya. Apresiasi terhadap produktivitas padi di Demak maupun Jawa Tengah turut disampaikan oleh Komisioner KPPU Syarkawi Rauf. Dirinya pun menjanjikan bahwa KPPU akan terus bersinergi dengan Satgas Pangan untuk mengawasi distribusi beras.  "Kami harus memastikan bahwa tidak ada sekelompok orang yang menganggu distribusi, sehingga produk pertanian yang kita hasilkan seperti hari ini bisa sampai ke pasar dengan jumlah dan harga yang baik, sesuai dengan harapan petani," ungkap Syarkawi.  Senada dengan Bupati dan petani, Anggota DPD RI Denty Ekapratiwi juga tidak menyetujui dilaksanakannya impor. Denty yang turut hadir pada saat panen raya mengungkapkan harapannya agar pemerintah mempertimbangkan lagi kebijakannya.  "Saat ini petani sekuat tenaga menghasilkan panen padi yang sudah baik. Untuk itu kami dan kita semuanya menginginkan semangat petani diimbangi dengan kebijakan yg betul-betul memihak," ungkapnya.      
Sumber : http://www.pertanian.go.id/ap_posts/detil/1454/2018/01/24/07/04/48/Mentan%20Hadiri%20Panen%20Raya%20di%20Demak%20Seluas%207-000%20Hektar

Tiap Hari Ada Tanam, Tiap Hari Ada Panen, Kabupaten Alor Siap Swasembada Pangan

Alor (23/1) - Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Pembangunan Infrastruktur Pertanian, Dr. Ir. Ani Andayani, M.Agr, menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya atas keberhasilan Kabupaten Alor dalam upaya membangun ketahanan pangan di wilayah tersebut. “Saya ucapkan terima kasih, khususnya kepada Kadis Pertanian Kabupaten Alor, Bapak Yustus Dopong Abor, atas kerja kerasnya selama ini. Sehingga, untuk target Oktober-Maret (Okmar), sudah tercapai di bulan Januari ini 104%. Itu merupakan suatu capaian yang membanggakan,” ujar Ani saat memberikan sambutan dalam acara Panen Simbolis Padi Organik, di Desa Malaipea, Kecamatan Alor Selatan, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, Selasa (23/1/2018). Ani menjelaskan, hal ini juga tak lepas dari  peran Pemda Kabupaten Alor, Camat, Dandim, Penanggung Jawab Upsus wilayah Kabupateh Alor dan seluruh masyarakat. “Saya ingat betul waktu saya datang pertama kali. Pak Bupati ada program khusus untuk model di kelompok tani. Satu hektare diberi Rp4 juta, di mana Rp1 juta untuk pembebasan lahan dan 'land clearing', Rp3 jutanya untuk operasional. Terima kasih dukungannya, Pak Bupati,” tuturnya. Ini artinya, lanjut Ani, share itu pertanda kita sudah gayung bersambut. Program dari pusat itu didampingi oleh program-program dari APBD. Bahkan kini, menurutnya, ada Satgas Pangan yang telah melibatkan pihak Kepolisian dan TNI-AD khususnya Kodim 1622 Alor, yang telah membantu dan bersinergi dengan semua pihak terkait dalam rangka pengamanan dan pengawalan untuk keberadaan pangan.  “Untuk itu, saya secara khusus menyampaikan terima kasih kepada jajaran TNI-AD, jajaran Kepolisian, khususnya di Kabupaten Alor ini, atas sinergitas dan kebersamaan kita selama ini, sehingga bisa mencapai capaian-capaian terbaik,” tutur Ani, selaku penanggung jawab Upaya Khusus (Upsus) Padi Jagung Kedelai (Pajale ) Provinsi NTT tersebut. Kemudian, Ani juga menambahkan, sebagai upaya mendorong percepatan program swasembada pangan,  Presiden RI telah menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) untuk bisa mengakses Dana Desa yang diperuntukkan untuk pembangunan embung kecil dan bangunan tata air irigasi lainnya. Menurutnya, dari Alokasi Dana Desa (ADD) yang bisa diakses itu, dari capaian serapan selama ini, memungkinkan untuk bisa dinaikkan lagi sebagai belanja komponen irigasi. “Dan itu sudah ada Inpresnya. Baru saja terbit tanggal 11 Januari 2018 kemarin,” ungkapnya.  Ani menegaskan, kalau belanja pembangunan irigasi itu merupakan suatu keputusan dari musyawarah desa, itu bisa diangkat untuk akses dari Dana Desa. Jadi, jelas Ani, Dana Desa tidak hanya untuk infrastruktur di pedesaan seperti jalan, bangunan, ataupun alat-alat yang lain. Tetapi bisa pula utk irigasi, sehingga ketahanan pangan bisa lancar. Dengan seluruh penunjang tersebut, Ani berharap tingkat produksi, produktivitas, dan ketersediaan pangan di NTT, khususnya di Kabupaten Alor, semakin meningkat. “Mudah-mudahan, dengan semangat kita, tiap hari ada tanam, tiap hari ada panen, kita bisa swasembada,” tandasnya. Perlu diketahui, di Desa Malaipea, Kecamatan Alor Selatan, Kabupaten Alor, memiliki luas areal kurang lebih 40 hektare, dengan jumlah 208 kepala keluarga tani. Panen kali ini,  produktivitas padi organik dari Desa Malaipea per hektare rata-rata hampir 5 ton, dan sudah bisa panen 3 kali dalam setahun. Kesuksesan desa tersebut tentu saja mendapat apresiasi dan pujian dari semua pihak, khususnya dari Bupati Alor, Amon Djobo. “Saya bangga dengan masyarakat saya di Malaipea ini. Walaupun jauh dari kabupaten, transportasi dan komunikasi sedikit ada hambatan, masyarakat di sini sudah bisa 3 kali panen. Di kecamatan lain di Alor ini, lahan cukup, air cukup, manusianya ada, tapi tidak sampai 3 kali panen seperti di Malaipea ini,” kata Amon.   Ini, menurutnya, disebut sebagai mukjizat. "Jadi, masyarakat Malaipea kalau besok itu kiamat,penduduk sini akan masuk surga," demikian kelakar Bupati Alor tersebut memotivasi petaninya. “Kami tahu, orang lain bisa, kenapa kami tidak bisa. Tuhan menganugerahkan alam bagi kami. Tuhan juga menganugerahkan cuaca yang baik bagi kami. Tuhan juga menganugerahkan air yang berlimpah bagi kami. Tinggal bagaimana kemauan baik kami. Tinggal bagaimana kami punya semangat untuk mengelola lahan ini menjadi aset yang luar biasa bagi kami,” imbuhmya. Amon mengakui, semua capaian keberhasilan di bidang pertanian Kabupaten Alor tersebut tak bisa dijauhkan dari peran para pejabat, baik di tingkat pusat maupun provinsi, yang intensif mendampingi rakyat. Sehingga, program Upsus yang dicanangkan pemerintah pusat betul-betul bisa menyentuh kepentingan rakyat.  “Kita berharap, berkat kerja sama semua pihak tersebut, masyarakat Alor bisa tumbuh menjadi masyarakat yang kenyang, sehat, dan pintar,” pungkasnya. Selain dihadiri oleh Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Infrastruktur, Dr. Ir. Ani Andayani, M.Agr; Bupati Alor, Amon Djobo, Panen Raya tersebut juga dihadiri Ketua DPRD Kabupaten Alor, Martinus Alopada; Kepala Balai Besar Pelatihan Peternakan NTT Dr. Adang Warya selaku penanggungjawab Upsus kab Alor,  Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTT, Dr. Ir. Syamsuddin, M.Sc; Sekretaris Dinas Pertanian Prov. NTT, Miqdonth; dan Camat Alor Selatan, Marthen G. Moubeka. Hadir pula WaKapolres Alor, Dandim 1622 Alor, Asisten 1 dan Asisten 2 Pemkab Alor, tokoh adat, tokoh agama, penyuluh dan  masyarakat Alor Selatan, khususnya warga Desa Malaipea, dan Desa tetangga di lembah Mainang dengan total audiens sekitar 100 orang.      
Sumber : http://www.pertanian.go.id/ap_posts/detil/1456/2018/01/24/08/48/59/Tiap%20Hari%20Ada%20Tanam-%20Tiap%20Hari%20Ada%20Panen-%20Kabupaten%20Alor%20Siap%20Swasembada%20Pangan

Rakernas Pembangunan Pertanian 2018 Untuk Mengangkat Kesejahteraan Petani

Jakarta (15/1) – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pembangunan Pertanian 2018 yang berlangsung di Jakarta, Senin 15 Januari 2018.  Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam sambutannya memaparkan capaian Kementerian Pertanian. “Alhamdulillah, dua tahun terakhir, di tahun 2016 dan 2017 kita tidak ada impor beras. Harga di 2017 pun merupakan harga beras terstabil selama 10 tahun terakhir” ujar Mentan. “Bawang merah dulu kita negara pengimpor, sekarang kita menjadi negara pengekspor, Indonesia telah mampu mengekspor bawang merah ke enam negara” ujar Mentan. Dahulu kita impor 3,6 juta ton jagung, senilai Rp 12 triliun, namun sekarang kita sudah berhasil mengekspor jagung,  “ini sejarah baru bagi Indonesia” tambahnya. Mentan menuturkan untuk meningkatkan kesejahteraan, akan dilakukan beberapa pendekatan kesejahteraan kepada para petani. Pertama, mengarahkan seluruh ditjen di Kementerian Pertanian. Ditjen Perkebunan, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Ditjen Tanaman Pangan, Ditjen Hortikultura, Ditjen Sarana dan Prasarana semuanya mengarahkan bantuan kepada masyarakat yang ada di pedesaan yang tidak mampu supaya mereka berpendapatan, yakni 17 juta penerima rastra (beras sejahtera).  “Contohnya kalau ada Rumah Tangga penerima rastra, kami berikan ayam 10-20 ekor, bisa jadi ada 10 juta ekor kita bagikan di tahun 2018”, lanjutnya. Kedua, pemberian combine harvester pengganti sabit bagi masyarakat yang bekerja di pertanian. “Yang dulu panen dengan menggunakan sabit kami fokuskan dengan combine harvester, mereka bisa dapat 3-4 juta perhari, kalau dibagikan 10 orang artinya bisa dapat 300 ribu perhari, atau minimal 200 ribu keuntungan, perbulan bisa 4-5 juta”, tambahnya.  Mentan juga menyampaikan akan melakukan pengoptimalan potensi besar pada lahan rawa. “Kurang lebih ada 10 juta hektar lahan rawa yang berpotensi untuk dibangunkan” ujarnya. Diakhir sambutannya, Mentan menyampaikan bahwa pertanian tidak bisa bekerja sendiri, dibutuhkan sinergi semua pihak untuk bahu membahu meningkatkan produksi pertanian dan meningkatkan kesejahteraan petani. Rakernas ini dihadiri oleh lebih dari 1.700 peserta yang terdiri dari sejumlah pejabat dan instansi terkait diantaranya Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) lingkup Kementan Provinsi/Kabupaten/Kota, KPK, Mabes Polri, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Aster KSAD, Dirjen Sumber Daya Air Kemenpur, Dirjen Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (Kemendes), Dirjen Penanganan Fakir Miskin Kemensos, Danrem, dan Dandim.     Sumber : http://www.pertanian.go.id/ap_posts/detil/1446/2018/01/16/15/31/59/Rakernas%20Pembangunan%20Pertanian%202018%20Untuk%20Mengangkat%20Kesejahteraan%20Petani

Pemerintah Bagikan 180 Ribu Alat Mesin Pertanian

Hingga kini, pemerintah sudah membagikan 180 ribu alat mesin pertanian (alsintan) kepada para petani di seluruh Indonesia. Pembagian alsintan bertujuan meningkatkan hasil panen petani.   “Sampai saat ini sudah 180 ribu alsintan yang sudah dibagikan pemerintah kepada para petani dalam bentuk traktor roda dua, roda empat, alat untuk tanam, dan combine harvester serta yang lainnya,” kata Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Momon Rusmono, dikutip dari Republika, Kamis (21/12). Ia berharap dengan adanya alsintan bisa mempercepat pengolahan tanah dan juga panennya para petani. Selain itu, para petani juga bisa lebih efisien dalam hal bekerja dan tentu bisa mempercepat masa tanam. Sebab, menurut Momon, pengerjaan dengan mesin jauh lebih cepat daripada manual.
 
“Bantuan ini untuk mempercepat masa tanam, karena dengan alsintan bisa mengefisiensi 30—40 persen waktu dan hasilnya lebih banyak,” jelasnya. Momon mengutarakan, jika dilihat dan diamati lagi, saat ini para petani rata-rata sudah menggunakan alsintan dalam mengolah sawah mereka. “Sekarang coba cari yang mengolah lahan pakai cangkul, sudah hampir tidak ada ‘kan, tapi mereka sudah menggunakan traktor roda dua semua,” ujarnya. Lebih lanjut ia memaparkan, saat para petani menggunakan alsintan, maka hasilnya pun akan berbeda dengan cara tradisional karena bisa menekan terjadinya pembuangan gabah ketika dipanen, berbeda ketika menggunakan arit. Dia menilai, dari segi harga gabahnya pun ada perbedaan yang cukup signifikan. Misalnya ketika petani menggunakan combine harvester, harga gabahnya juga jauh lebih mahal ketimbang menggunakan mesin biasa. Momon menyampaikan untuk sektor pertanian di masa depan, ia menginginkan para petani tidak lagi didominasi oleh orang tua, namun anak muda juga bisa terjun langsung mengolah lahan pertanian dengan adanya teknologi ini.    
Sumber : https://www.pertanianku.com/pemerintah-bagikan-180-ribu-alat-mesin-pertanian/

Bulog Jabar Targetkan 7.000 Rumah Pangan Guna Stabilkan Harga

Perum Bulog Jabar, targetkan 7.000 rumah pangan demi menjaga stabilisasi harga pangan di Jawa Barat. Sudah ada ribuan outlet penjualan pangan pokok milik masyarakat dengan nama Rumah Pangan Kita (RPK) yang dibina oleh Perum Bulog Jawa Barat ini. Kepala Bulog Divre Jabar, M. Sugit Tedjo Mulyono mengatakan, saat ini Bulog Divre Jabar telah membentuk 5.000 RPK yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota di Jabar. “Sampai akhir 2017 ini ditargetkan total 7.000 RPK di Jabar sehingga realisasi akan mencapai 110 persen dari target,” kata dia, Rabu (27/12).
 
Ia pun menuturkan, sekitar 30 persen jumlah RPK berada di Bandung Raya. Sisanya, tersebar di perkotaan dan kabupaten di Jabar. Saat ini, sebanyak 5.000 RPK hadir di seluruh Jabar dan akan bertambah 2.000 unit lagi pekan depan sehingga jumlahnya menjadi 7.000 RPK. Sugit memaparkan, RPK diinisiasi sejak 2015 dalam rangka stabilisasi harga pangan. Idealnya, RPK hadir di setiap rukun warga (RW) yang kini baru satu RPK per desa. Jika satu RPK per RW terwujud, diharapkan akan menjadi pengganti titik distribusi yang arah konsepnya melayani bantuan pangan nontunai. “RPK jadi andalan. Pengelola RPK mendapat nilai tambah dan masyarakat sekitar mendapat harga pangan lebih murah dan terjangkau,” kata Sugit. Menurutnya, kondisi Jabar saat ini fluktuasi harga pangannya tidak tinggi. Khususnya di Bandung, jika ada harga yang naik, maka Bulog akan langsung turun ke RPK menambah pasokan secara besar-besaran. Sugit menyadari, keuntungan yang diperoleh pedagang/pemilik RPK atau yang akrab disebut “sahabat RPK” memang relatif kecil. Akan tetapi, sahabat RPK turut membantu masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan pokok, meringankan biaya masyarakat dengan harga yang lebih murah dibanding pasaran, sekaligus menjaga kestabilan harga pangan pokok.    
Sumber : https://www.pertanianku.com/bulog-jabar-targetkan-7-000-rumah-pangan-guna-stabilkan-harga/
Terima kasih telah berkunjung ke website Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan Kota Sukabumi