Selamat Datang di Media Informasi Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan Kota Sukabumi

Misi 4

 

STRATEGI DAN KEBIJAKAN

 
Misi 4 :  Meningkatkan kualitas kinerja dan pelayanan bidang agribisnis

Tujuan

Sasaran

Strategi

Kebijakan

1

Meningkatkan iklim
usaha agribisnis yang sehat dan kondusif

Terwujudnya iklim
usaha yang menunjang tumbuhkembangnya agribisnis

Peningkatan pelayanan
administrasi Dinas

Meningkatkan kualitas
pelayanan Dinas dalam bidang administrasi

Peningkatan jumlah dan
pelaksanaan SOP

Menyusun dan
mengembangkan SOP sesuai kebutuhan tupoksi serta melakukan review terkait
efektivitas pelaksanaan SOP tersebut secara periodik

2

Mewujudkan kualitas
kinerja dan pelayanan aparatur Dinas yang amanah dan professional

Meningkatnya kualitas
akuntabilitas kinerja Dinas

Peningkatan
keterbukaan informasi publik

Meningkatkan pelayanan
berkaitan dengan keterbukaan informasi publik

Peningkatan SPI
(Sistem Pengendalian Intern)

Meningkatkan kualitas
penyelenggaraan SPI di internal Dinas

Survey IKM (Indeks
Kepuasan Masyarakat)

Melaksanakan survey
IKM secara obyektif, representatif dan akuntabel

Peningkatan SAKIP
(Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah)

Melaksanakan SAKIP di
Internal Dinas secara utuh, intensif dan konsisten

 

 

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web Design MymensinghPremium WordPress ThemesWeb Development

Kementan Klaim Kesejahteraan Petani Indonesia Membaik

Kementerian Pertanian mengklaim kebijakan pembangunan pertanian yang dijalankan sejak 2015 sampai Mei 2018 meningkatkan kesejahteraan petani. Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementerian Pertanian, Ketut Kariyasa, mengungkapkan, klaim itu didasarkan pada beberapa fakta. Pertama, menurunnya secara konsisten jumlah penduduk miskin di perdesaan, baik secara absolut maupun persentase, meski penurunannya tidak sedrastis di wilayah perkotaan. Dari data BPS (Badan Pusat Statistik), pada September 2015, jumlah penduduk miskin di perdesaan sebanyak 17,89 jiwa atau 14,09%. Lalu pada September 2016 turun menjadi 17,28 juta jiwa atau 13,96%. "Pada September 2017, turun lagi menjadi 16,31 juta jiwa atau 13,47%," ujar Ketut di Jakarta, Selasa (26/6/2018). Kedua, membaiknya kesejahteraan petani juga dapat dilihat dari berkurangnya ketimpangan pengeluaran (menurunnya Gini Rasio) yang juga mencerminkan semakin meratanya pendapatan petani di pedesaaan. Menurut data BPS, sejak Maret 2015 sampai Maret 2017, Gini Rasio pengeluaran masyarakat di perdesaan terus menurun, dari 0,334 pada 2015 menjadi 0,327 pada 2016 dan menurun lagi menjadi 0,302 pada 2017.   Kondisi ini secara implisit menunjukkan semakin membaiknya pendapatan petani. "Gini Rasio di perkotaan juga mengalami penurunan, namun masih berada dalam ketimpangan sedang. Sementara di perdesaan sudah berada dalam ketimpangan rendah," jelasnya. Lalu ketiga, Ketut mengatakan, dapat dilihat dengan semakin membaiknya daya beli masyarkat petani di perdesaan. Hal ini terlihat dari indeks Nilai Tukar Petani (NTP) dan indeks Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP).  Berdasarkan data yang dirilis BPS, secara nasional pada Mei 2018 indeks NTP sebesar 101,99 atau meningkat 0,37% jika dibanding April yang hanya 101,61. NTP Mei 2018 ini pun lebih besar dibanding Mei 2017 yang hanya 100,15. Begitu juga indeks NTUP meningkat 0,32% dari 111,03 pada April 2018 menjadi 111,38 pada Mei 2018.  "Kenaikan NTP dan NTUP ini menunjukkan membaiknya daya beli petani yang secara otomatis menunjukkan kesejahteraan petani membaik. Meningkatkanya daya beli petani juga terjadi jika dibandingkan pada tahun sebelumnya atau Mei 2017," pungkasnya.   sumber : https://www.wartaekonomi.co.id/read185542/kementan-klaim-kesejahteraan-petani-indonesia-membaik.html

Indonesia Ekspor Perdana 60.000 Ekor Domba Ke Malaysia

Mentan menyampaikan, saat ini Pemerintah terus berupaya meningkatkan ekspor berbagai komoditas strategis pertanian, termasuk komoditas peternakan. “Kita telah ekspor daging sapi premium, pakan ternak, telur tetas, DOC dan daging ayam olahan, dan hari ini kita ekspor perdana domba sebanyak 2.100 ekor dengan estimasi nilai sebesar Rp. 3,78 Milyar” ujarnya.   “Ternak domba yang diekspor kali ini adalah domba jantan yang diperuntukkan sebagai ternak potong,” ucap Amran. "Ekspor ini kita harapkan terus berlanjut secara kontinyu sesuai perjanjian kerjasama antara PT. Inkopmar Cahaya Buana dengan pihak importir di  negara Malaysia, yang diproyeksikan kebutuhan di Malaysia sebanyak 5.000 ekor per bulan dapat dipasok dari Indonesia, sehingga diharapkan kebutuhan 60.000 ekor domba per tahun untuk negara Malaysia dapat terpenuhi," tegas Mentan.   “Kenapa Malaysia disuplai dari negara yang jauh? Malaysia dan Indonesia satu rumpun, berbatasan, bila perlu lempar saja sudah ekspor, itu namanya beternak dengan cerdas” ujar Mentan.   Dalam kesempatan tersebut pihak pengekspor juga menyampaikan bahwa hambatan terbesar dalam pengiriman adalah Kendaraan Ternak untuk mengangkutnya. Pada awalnya, pengiriman akan dilakukan dengan bantuan pihak Malaysia, menggunakan Malaysian Airlines, tetapi Mentan langsung berinisiatif menghubungi Menteri Perhubungan agar membantu memberikan bantuan kapal angkut. “Tidak ada kendala lagi. saya langsung menghubungi Menhub, mereka siap bantu” tegas Mentan.   Amran optimis ekspor kambing/domba Indonesia dapat terus meningkat kedepannya.  Berdasarkan Statistik Peternakan, populasi kambing/domba secara nasional pada tahun 2017 sebanyak 35.052.653 ekor dan sebanyak 4,72 juta ekor berada di Provinsi Jawa Timur. Sedangkan produksi daging kambing/domba tahun 2017 mencapai 124.842 ton/ tahun, sehingga secara neraca mengalami surplus dibandingkan dengan kebutuhan nasional dengan konsumsi masyarakat terhadap daging kambing/domba sekitar 13.572 ton/tahun.    Menurut Amran, capaian ekspor peternakan khususnya ternak kambing/domba potong di Indonesia cukup fantastis, dimana pada tahun 2017 tercatat hanya 210 ekor, sedangkan pada ekspor perdana tahun 2018 ini sudah mencapai 2.100 ekor atau mengalami peningkatan sebanyak 1000%.   "Ekspor ini membuktikan bahwa kita bisa swasembada protein. ekspor membuka akses pasar global. Terbukanya pasar juga akan membuat peternak lebih bersemangat untuk beternak dan meningkatkan kuantitas maupun kualitas ternak potong siap ekspor dan bersaing dengan negara lain” ujarnya.   Pada kesempatan tersebut Mentan sempat bertanya kepada salah satu peternak domba berapa mereka biasa menjual dombanya dipasar lokal.    “Saya biasa menjual 1,5 juta perekor, ke pengekspor saya jual 2 juta Pak” ujar peternak domba. “Wah ini sudah bagus, Ini artinya peternak lebih untung, peternak domba lebih sejahtera” ujar Mentan.   Pada kesempatan tersebut hadir juga kurang lebih 100 orang peternak domba lokal yang merupakan perwakilan dari peternak yang bermitra dengan PT. Inkopmar Cahaya Buana. Peternak tersebut berasal dari wilayah Tapal Kuda seperti Lumajang, Jember, Bondowoso, Banyuwangi, Probolinggo, dan Situbondo.       sumber : http://www.pertanian.go.id/home/?show=news&act=view&id=3249

Menkopolhukam, Panglima TNI dan Kapolri Dukung Mentan Berantas Mafia Pangan

Jakarta - Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Jend.TNI (Purn) Wiranto menegaskan, dirinya, Panglima TNI dan Kapolri mendukung langkah Menteri Pertanian dan Kementerian Pertanian RI memberantas mafia pangan. Ia mengemukakan dalam Rapat Koordinasi Lintas Sektoral Pengamanan Idul Fitri 1439 H, Senin pagi (25/6/2018) di Mabes Polri Jakarta. "Kita tidak akan ragu ragu menegakkan hukum bagi para pelanggar, yang hanya ingin untung sendiri merugikan masyarakat," kata Wiranto. Penegasan Menkopolhukam, menanggapi laporan Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman, yang menjelaskan upaya-upaya yang telah berhasil membuat harga bahan pangan pada Lebaran Idul Fitri pada khususnya, dan harga pangan dalam dua tahun terakhir pada umumnya - relatif stabil.    Kerjasama Lintas Sektor Berantas Mafia Pangan   Salah satu upaya yang dinilai telah sukses menjaga stabilitas harga bahan pangan, adalah kerjasama lintas sektor dan penindakan yang dilakukan Satgas Pangan. "Kita mem_blacklist_ perusahaan impor nakal. Yang hanya mencari untung sebesar besarnya, tanpa mengindahkan aturan yang berlaku, merugikan petani dan masyarakat konsumen," jelas Amran. Yang paling terkini, tepat usai upacara Peringatan Hari Krida Pertanian ke 46 Jumat (22/6/2018) lalu, Menteri Pertanian mengumumkan 5 perusahaan lagi yang masuk blacklist. Mereka diduga mengimpor bawang bombai mini yang harga beli dan bea masuknya murah, untuk kemudian dijual kembali sebagai bawang merah yang lebih mahal harga nya dan bea masuknya. Menteri Amran meyakini, jika Kementerian Pertanian terus mendapat dukungan dari Kapolri, Panglima TNI dan Menkopolhukam, persoalan bahan pangan dapat kita tangani di periode kepemimpinan Jokowi JK.    Mengubah Pola Tanam Petani   Menteri Pertanian melanjutkan, upaya lainnya yang juga menjadi penentu stabilitas harga bahan pangan adalah keberhasilan Kementerian Pertanian mendorong petani mengubah pola tanam untuk mengantisipasi kenaikan harga yang biasanya terjadi pada Ramadan hingga Lebaran. "Tiga bulan jelang Ramadan petani menambah kapasitas tanam. Hasilnya, ternyata bukan hanya menstabilkan harga selama Ramadan dan Lebaran. Seperti yang kita tahu bersama sekarang jagung kita bisa ekspor, bawang merah dulu impor sekarang ekspor ke 6 negara. Juga ayam potong sekarang kita ekspor ke negara Jepang. Ekspor bahan pangan juga secara keseluruhan naik sebesar 400% lebih," sambung Amran.    Pengamanan Arus Lebaran dan Bahan Pangan Aman   Menutup rapat koordinasi, Menkopolhukam memberi penghargaan kepada semua pihak yang telah telibat dan sama-sama bekerja keras berusaha mewujudkan harapan masyarakat untuk melewati Ramadan dan merayakan Hari Lebaran dengan aman dan nyaman. "Alhamdulillah, waktu tempuh arus mudik dan arus balik lebih baik dari tahun sebelumnya, angka kecelakaan juga turun 30%, harga pangan relatif stabil, angka kriminalitas dapat ditekan," jelas Wiranto dalam rapat yang digelar dengan melakukan video conference (konferensi jarak jauh) bersama seluruh pejabat terkait di seluruh wilayah di Indonesia. Rapat dihadiri Kapolri selaku tuan rumah, Panglima TNI, Menteri Pertanian, Menteri PU Pera, Menteri Perhubungan, Pejabat Bulog, Pejabat Pertamina, dan dipimpin oleh Menekopolhukam.       sumber : http://www.pertanian.go.id/home/?show=news&act=view&id=3247

Dorong Koperasi Tani, Kementan Harapkan Kesejahteraan Petani

Pertanianku — Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) akan mendorong terbentuknya korporasi tani. Upaya tersebut bertujuan mensejahterakan para petani. Sebagai role model, korporasi petani akan dibentuk di Indramayu. “Ini sangat bagus, bisa menguntungkan petani kita,” kata Menteri Pertanian Amran Sulaiman seperti dikutip dari Republika, Rabu (6/6). Amran menjelaskan, koperasi petani ini merupakan pembuktian bagaimana pemerintah mendorong, menjaga petani agar kesejahteraannya dapat meningkat.
Selain itu, diutarakannya bahwa keberadaan korporasi petani di Indramayu ini akan didorong untuk komoditas padi mulai dari pengolahan tanah, bibit hingga pupuk.
Termasuk di dalamnya dikatakan Amran, yakni proses pengemasan yang langsung masuk ke supermarket. “Karena nilai tambahnya lebih banyak di processing dan itu akan didapatkan oleh petaninya,” ujarnya dia. Terkait padi, Amran menyebut panen raya pada Juni dan Juli ini bisa melebihi periode yang sama dengan tahun lalu. Bahkan, angka panen diyakini di atas 20 persen hingga 30 persen lebih tinggi dibanding tahun lalu. Ia pun optimistis hasil panen petani akan mampu diserap pemerintah, dalam hal ini Bulog. Untuk diketahui, serapan beras Bulog tahun ini baru mencapai 800-an ribu ton per 5 Juni. “Kita serahkan ke Bulog supaya serap sebanyak-banyaknya,” tutur Amran.     sumber : https://www.pertanianku.com/dorong-koperasi-tani-kementan-harapkan-kesejahteraan-petani/

Jagung Ungu, Hasil Inovasi Universitas Brawijaya Diminati Mentan

PertaniankuJagung ungu hasil inovasi dosen Universitas Brawijaya (UB) berhasil menarik perhatian Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Di sela kuliah tamu yang dilaksanakan di kampus UB, bertema ‘Membangun Pertanian Mandiri dan Berkelanjutan di era Industri 4.0’, Amran membawa jagung ungu itu ke atas podium lalu meminta pemiliknya berdiri. “Ini jagung siapa? Saya bawa dari stand di luar tadi,” tanya Mentan kepada hadirin, seperti dikutip dari Detik, Jumat (25/5/2018). Seorang pria, yakni Ir. Arifin Noor Sugiharto, MSc, PhD yang berprofesi sebagai pengajar di Fakultas Pertanian kemudian maju menjawab pertanyaan Amran.
“Itu jagung ungu, Pak Menteri, banyak khasiatnya. Saya yang mengembangkan benihnya,” ungkap Arifin kepada Amran.
Karena tertarik dengan pengembangan benih yang dilakukan Arifin tersebut, Amran pun kembali bertanya, “Mampu berapa? 1.000 hektare?” “Kalau sebanyak itu belum, Pak Menteri,” jawab Arifin. “Bisanya berapa? Saya kontrak sekarang,” tegas Amran. Arifin mengaku, baru memiliki benih sebanyak 25 kilogram. Akan tetapi, pihaknya menyanggupi kontrak yang ditawarkan Amran untuk menyiapkan benih jagung ungu dengan lahan seluas 100 hektare. “Oke kalau begitu, nanti harus ditingkatkan lagi sampai 1.000 hektare. Berapa pun akan saya bayar, kalau Anda sanggup,” tandas Amran yang juga menandakan bahwa kontrak disepakati. Amran menegaskan, salah satu tujuannya sering berkunjung ke perguruan tinggi ialah untuk melihat langsung ada tidaknya pengembangan atau budidaya pertanian modern. Harapannya, inovasi tersebut dapat dikembangkan langsung di lapangan. “Jadi enak begini, efisien. Langsung ketemu kontrak, bisa langsung ditanam. Cepat, gak berbelit-belit,” ungkapnya. Sementara itu, Arifin mengaku, sudah mulai mengembangkan jagung yang diklaim mengandung 3 kali antosianin tersebut sejak 2009 silam. Kini, varietas terbaru hasil persilangan beberapa jenis jagung yang dikembangkannya telah menghasilkan benih yang siap tanam.
Baca Juga:  4 Hal Penting yang Harus Diperhatikan dalam Replanting Kelapa Sawit
 
“Untuk harga belum, karena paten masih dalam proses. Untuk satu hektare butuh sekitar 15 kilogram benih dengan hasil produksi sebanyak 7 ton jagung ungu,” terangnya.     sumber : https://www.pertanianku.com/jagung-ungu-hasil-inovasi-universitas-brawijaya-diminati-mentan/
Terima kasih telah berkunjung ke website Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan Kota Sukabumi