Selamat Datang di Media Informasi Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan Kota Sukabumi

Musrenbangtan Nasional 2015 Hasilkan 11 Rumusan

sekjen kementan

JAKARTA – Kementerian pertanian telah melaksanakan Musyarawarah Perencanaan Pembangunan Pertanian (Musrenbangtan) Nasional tahun 2015 yang berlangsung selama dua hari yakni tanggal 3 sampai 4 Juni 2015 di Auditorium Kementerian Pertanian. Musrenbangtan Nasional ini ditutup Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, Hari Priyono, Kamis (4/6).

Sekjen mengatakan point penting yang dibawa ke daerah yakni para kepala dinas atau pelaksana pembangunan pertanian di daerah dapat memahami target dan program prioritas tahun 2016.

“Mereka memahami kriteria yang akan menjadi calon lokasi program daerah. Setelah Musrenbangtan Nasional ini, memperoleh masukan mengenai beberapa kendala di lapangan. Sekembalinya ke daerah mereka lebih memantapkan perencanaannya dengan lebih baik lagi agar masalah 2015 yakni soal keterlambatan pelaksanaan itu bisa dicegah,” ungkap Sekjen.

Selain itu, Sekjen menambahkan ada dua catatan penting untuk memperbaiki kinerja di tahun 2016, yakni yang pertama, peningkatan koordinasi dan komunikasi sehingga program-program tidak saling tumpang tindih. Kedua, keluhan tentang biaya operasional di lapangan.

“Ini menjadi catatan penting bagi kita semua agar dapat memperhatikan hal tersebut untuk penyuluh dan tenaga lapangan di daerah, sehingga alokasi di tahun 2016 untuk swasembada pangan dapat terserap dengan optimal,” ujar Sekjen.

Memperhatikan arahan Menteri Pertanian, Amran Sulaiman, paparan pejabat Eselon-1 lingkup Kementerian Pertanian dan diskusi yang berkembang selama acara berlangsung, Rumusan Sementara Musrenbangtan Nasional 2015 sebagai berikut:

1. Upaya pencapaian swasembada padi, jagung, dan kedelai menghadapi permasalahan utama yang terkait dengan: (1) irigasi, (2) pupuk, (3) benih, (4) alsintan dan (5) penyuluhan. Program Upaya Khusus (UPSUS) Peningkatan Produksi Padi, Jagung, dan Kedelai yang sedang dilaksanakan saat ini dan ke depan diharapkan dapat mempercepat pencapaian swasembada tersebut.

2. Hasil evaluasi pelaksanaan kegiatan UPSUS Peningkatan Produksi Padi, Jagung, dan Kedelai menunjukkan terdapat 89 Kabupaten berkinerja sedang dan 26 Kabupaten berkinerja kurang sampai dengan tidak baik. Kepada kabupaten-kabupaten tersebut agar dapat meningkatkan kinerjanya untuk musim tanam (MT) April-September 2015. Bagi kabupaten yang tidak dapat meningkatkan kinerjanya, maka pada tahun 2016 tidak dialokasikan anggaran. Bagi 10 kabupaten terbaik, yaitu: Kabupaten Grobogan, Kabupaten Sragen, Kabupaten Pati, Kabupaten Brebes, Kabupaten Mamasa, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Situbondo, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Kabupaten Aceh Timur, dan Kabupaten Sampang, disampaikan apresiasi dan agar tetap mempertahankan dan meningkatkan kinerjanya ke depan.

3. Dalam rangka menghadapi musim kering (MK) 2015, agar diantisipasi daerah-daerah endemis kekeringan untuk meminimalisir kehilangan hasil melalui puso. Untuk antisipasi kekeringan tersebut, telah dilakukan refocusing program dan kegiatan 2015 dan merevisi anggaran yang salah satunya untuk mendukung upaya antisipasi kekeringan dengan menyiapkan sarana pendukungnya, seperti: pompa air, benih, serta sarana lainnya.

4. Dalam upaya peningkatan kinerja pengawalan dan pendampingan oleh penyuluh, TNI, dan mahasiswa terhadap program UPSUS Peningkatan Produksi Padi, Jagung, dan Kedelai, perlu ditingkatkan sinerginya serta memberikan dukungan yang sama terhadap pendampingan dan pengawalan tersebut.

5. Terkait dengan pelaksanaan program dan kegiatan Tahun 2015, agar masing-masing daerah melakukan percepatan pelaksanaan kegiatan dan serapan anggaran. Target realisasi serapan anggaran hingga akhir Juni 2015 minimal mencapai 60%.

6. Sehubungan dengan perencanaan2016, program dan kegiatan Kementerian Pertanian dirancang untuk mendukung Nawacita Bidang Kedaulatan Pangandalam rangka mewujudkan target-target, yaitu: (1) perluasan lahan sawah baru200.000 ha; (2) perluasan pertanian lahan kering untuk komoditas hortikultura 75.000 ha, perkebunan 150.000 ha, dan peternakan 25.000 ha; (3) perbaikan/pembangunan jaringan irigasi tersier untuk lahan sawah 500.000 ha; (4) pengendalian konversi lahan melalui audit lahan pertanian 225 paket dan tanah petani yang diprasertifikasi dan pascasertifikasi seluas 1.600 ha; (5) pemulihan kesuburan lahan yang airnya tercemar melalui kegiatan optimasi lahan 275.000 ha; (6) pengembangan dan penguatan 1.000 desa mandiri benihserta penguatan pembibitan ternak sapi dan kerbau 122 desa; (7) pembangunan gudang dengan fasilitas pengolahan pascapanen di tiap sentra produksi melalui pembangunan Unit Pengolahan Hasil (UPH) Tanaman Pangan 263 unit, Hortikultura 138 unit, Perkebunan 155 unit, dan Peternakan 137 unit; (8) peningkatan kemampuan petani melalui kelembagaan petani yang difasilitasi dan dikembangkan 31.320 unit dan jumlah kelembagaan pelatihan pertanian yang difasilitasi dan dikembangkan 15 unit; (9) pengembangan 1.000 desa pertanian organik berbasis tanaman hortikultura 50 desa, pengembangan System of Rice Intensification (SRI)250.000 ha, pengembangan Unit Pengolah Pupuk Organik (UPPO) 250 unit; serta (10) terbangunnya Agro Techno Park (ATP) di 21 kabupaten dan Agro Science Park (ASP) di 10 provinsi.

7. Komoditas yang dikembangkan tetap fokus pada 7 komoditas strategis: padi, jagung, kedelai, bawang merah, cabai, sapi/kerbau dan tebu. Komoditas tersebut agar diprioritaskanpengembangannya pada kawasan yang memiliki keunggulan komparatif (comparative adventages) serta tidak disebar merata dalam skala kecil. Kesesuaian agro-ekosistem, kesesuaian tata ruang dan komitmen daerah agar digunakan sebagai kriteria dalam penetapan lokasi pengembangan kawasan pertanian nasional.

8. Seluruh program dan kegiatan tahun anggaran 2016 agar dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab untukmewuujudkan tercapainya target produksi,yaitu: (1) produksi padi 76,23 juta ton; (2) produksi jagung 21,35 juta ton; (3) produksi kedelai1,82 juta ton; (4) produksi cabaibesar dan cabai rawit 1,86 juta ton; (5) produksi bawang merah 1,17 juta ton; (6) produksi daging 0,59 juta ton; serta (6) produksi gula 3,27 juta ton.

9. Kebijakan utama dalam kerangka nawacita dan pencapaian target tersebut meliputi: (1) penetapan HPP jagung dan kedelai serta mendorong BULOG untuk lebih banyak membeli produk petani; (2) memperbaiki kebijakan subsidi pupuk dan benih dan mengkaji pengalihan dari subsidi input menjadi subsidi output setelah swasembada tercapai; (3) mendorong penerapan full mekanisasi untuk percepatan peningkatan produksi pangan; (4) mengembangkan food-estate seluas 500 ribu ha di Kalbar, Kalteng, Kaltim dan Kepulauan Aru; dan Kawasan Pangan Merauke 1,2 juta hektar; (5) melakukan kerjasama pengembangan tanaman padi, jagung dan kedelai pada areal lahan PT Perhutani, PT Inhutani dan PTPN serta kerjasama dengan produsen pakan ternak dalam pengembangan jagung; (6) membangun 500.000 ha kebun tebu dan 10 PG baru; (7) mengembangkan kelapa sawit 500 ribu hektar di wilayah perbatasan, (8)perluasan IB minimal 4 juta akseptor; dan (4) pengembangan 300 lokasi pembiakan sapi di luar Jawa dengan pola integrasi sapi-sawit dan mengembangkan pusat ternak sapi di 125 kawasan potensial.

10. Dukungan prasarana dan sarana, inovasi teknologi, penyuluhan, perkarantinaan dan dukungan lainnya perlu ditingkatkan dan dioptimalkan untuk mewujudkan percepatan pencapaian target produksi tahun 2016.

11. Untuk mewujudkan perencanaan 2016 dengan baik, seluruh provinsi dan kabupaten/kota agar melakukan identifikasi kebutuhan riil kegiatan di lapangan serta menyiapkan rencana teknis pelaksanaan kegiatan tahun 2016. Seluruh Eselon I, melalui koordinasi oleh Biro Perencanaan Sekretariat Jenderal, agar menyiapkan rekapitulasi program, kegiatan dan anggaran per provinsi dan kabupaten/kota sebelum RKA-KL disusun.

Facebook Comments
Artikel Selanjutnya
Artikel Sebelumnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web Design MymensinghPremium WordPress ThemesWeb Development

Mentan Hadiri Panen Raya di Demak Seluas 7.000 Hektar

Demak (23/1) - Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman hadiri panen raya Desa Sari Kecamatan Gajah, Kabupaten Demak, Jawa Tengah pada Selasa (23/1). Setelah kemarin meninjau panen raya di Bojonegoro, Jawa Timur, kini pantauan beralih ke Provinsi Jawa Tengah. Luas sawah yang dipanen di Demak kali ini seluas 7 ribu hektare.  Pada kesempatan panen tersebut, Amran menegaskan komitmennya untuk selalu membela kepentingan petani. "Petani sudah tahu hati nurani saya. Seperti arahan Presiden, harus hadir  ditengah-tengah petani. Kalau petani menangis, kita harus hadir di sampingnya," ucap Amran.  Komitmen Amran juga didukung oleh Aster KASAD TNI-AD Mayjen Supartodi. Dalam pernyataannya seusai melakukan panen, Supartodi menegaskan komitmen TNI untuk mendukung ketahanan pangan nasional. "Kita harus mendukung pak menteri. Bersama-sama dengan kementan, PPL dan gapoktan, meningkatkan produk-produk pertanian di seluruh indonesia," tegasnya.  Bupati Demak HM Natsir menyebutkan luas lahan yang siap panen kali ini kurang lebih seluas 7 ribu hektare. Bahkan dua minggu lagi, diperkirakan panen akan mencapai luasan yang lebih besar lagi, setidaknya 38 ribu hektare.  "Ini bisa memenuhi kebutuhan kita, bukan hanya Demak, tapi juga daerah-daerah lainnya. Jika panen seperti ini, kami yakin Demak akan surplus dan tidak kekurangan pangan, " ujar Natsir.  Natsir juga mengapresiasi bantuan yang telah diberikan Kementan yang telah dimanfaatkan masyarakat Demak, terutama petani. Bantuan tersebut telah dimanfaatkan maksimal sehingga produktivitas meningkat. "Insya Alah Jateng tetap menjadi penopang beras tertinggi," ucapnya. Apresiasi terhadap produktivitas padi di Demak maupun Jawa Tengah turut disampaikan oleh Komisioner KPPU Syarkawi Rauf. Dirinya pun menjanjikan bahwa KPPU akan terus bersinergi dengan Satgas Pangan untuk mengawasi distribusi beras.  "Kami harus memastikan bahwa tidak ada sekelompok orang yang menganggu distribusi, sehingga produk pertanian yang kita hasilkan seperti hari ini bisa sampai ke pasar dengan jumlah dan harga yang baik, sesuai dengan harapan petani," ungkap Syarkawi.  Senada dengan Bupati dan petani, Anggota DPD RI Denty Ekapratiwi juga tidak menyetujui dilaksanakannya impor. Denty yang turut hadir pada saat panen raya mengungkapkan harapannya agar pemerintah mempertimbangkan lagi kebijakannya.  "Saat ini petani sekuat tenaga menghasilkan panen padi yang sudah baik. Untuk itu kami dan kita semuanya menginginkan semangat petani diimbangi dengan kebijakan yg betul-betul memihak," ungkapnya.      
Sumber : http://www.pertanian.go.id/ap_posts/detil/1454/2018/01/24/07/04/48/Mentan%20Hadiri%20Panen%20Raya%20di%20Demak%20Seluas%207-000%20Hektar

Tiap Hari Ada Tanam, Tiap Hari Ada Panen, Kabupaten Alor Siap Swasembada Pangan

Alor (23/1) - Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Pembangunan Infrastruktur Pertanian, Dr. Ir. Ani Andayani, M.Agr, menyampaikan apresiasi yang sebesar-besarnya atas keberhasilan Kabupaten Alor dalam upaya membangun ketahanan pangan di wilayah tersebut. “Saya ucapkan terima kasih, khususnya kepada Kadis Pertanian Kabupaten Alor, Bapak Yustus Dopong Abor, atas kerja kerasnya selama ini. Sehingga, untuk target Oktober-Maret (Okmar), sudah tercapai di bulan Januari ini 104%. Itu merupakan suatu capaian yang membanggakan,” ujar Ani saat memberikan sambutan dalam acara Panen Simbolis Padi Organik, di Desa Malaipea, Kecamatan Alor Selatan, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur, Selasa (23/1/2018). Ani menjelaskan, hal ini juga tak lepas dari  peran Pemda Kabupaten Alor, Camat, Dandim, Penanggung Jawab Upsus wilayah Kabupateh Alor dan seluruh masyarakat. “Saya ingat betul waktu saya datang pertama kali. Pak Bupati ada program khusus untuk model di kelompok tani. Satu hektare diberi Rp4 juta, di mana Rp1 juta untuk pembebasan lahan dan 'land clearing', Rp3 jutanya untuk operasional. Terima kasih dukungannya, Pak Bupati,” tuturnya. Ini artinya, lanjut Ani, share itu pertanda kita sudah gayung bersambut. Program dari pusat itu didampingi oleh program-program dari APBD. Bahkan kini, menurutnya, ada Satgas Pangan yang telah melibatkan pihak Kepolisian dan TNI-AD khususnya Kodim 1622 Alor, yang telah membantu dan bersinergi dengan semua pihak terkait dalam rangka pengamanan dan pengawalan untuk keberadaan pangan.  “Untuk itu, saya secara khusus menyampaikan terima kasih kepada jajaran TNI-AD, jajaran Kepolisian, khususnya di Kabupaten Alor ini, atas sinergitas dan kebersamaan kita selama ini, sehingga bisa mencapai capaian-capaian terbaik,” tutur Ani, selaku penanggung jawab Upaya Khusus (Upsus) Padi Jagung Kedelai (Pajale ) Provinsi NTT tersebut. Kemudian, Ani juga menambahkan, sebagai upaya mendorong percepatan program swasembada pangan,  Presiden RI telah menerbitkan Instruksi Presiden (Inpres) untuk bisa mengakses Dana Desa yang diperuntukkan untuk pembangunan embung kecil dan bangunan tata air irigasi lainnya. Menurutnya, dari Alokasi Dana Desa (ADD) yang bisa diakses itu, dari capaian serapan selama ini, memungkinkan untuk bisa dinaikkan lagi sebagai belanja komponen irigasi. “Dan itu sudah ada Inpresnya. Baru saja terbit tanggal 11 Januari 2018 kemarin,” ungkapnya.  Ani menegaskan, kalau belanja pembangunan irigasi itu merupakan suatu keputusan dari musyawarah desa, itu bisa diangkat untuk akses dari Dana Desa. Jadi, jelas Ani, Dana Desa tidak hanya untuk infrastruktur di pedesaan seperti jalan, bangunan, ataupun alat-alat yang lain. Tetapi bisa pula utk irigasi, sehingga ketahanan pangan bisa lancar. Dengan seluruh penunjang tersebut, Ani berharap tingkat produksi, produktivitas, dan ketersediaan pangan di NTT, khususnya di Kabupaten Alor, semakin meningkat. “Mudah-mudahan, dengan semangat kita, tiap hari ada tanam, tiap hari ada panen, kita bisa swasembada,” tandasnya. Perlu diketahui, di Desa Malaipea, Kecamatan Alor Selatan, Kabupaten Alor, memiliki luas areal kurang lebih 40 hektare, dengan jumlah 208 kepala keluarga tani. Panen kali ini,  produktivitas padi organik dari Desa Malaipea per hektare rata-rata hampir 5 ton, dan sudah bisa panen 3 kali dalam setahun. Kesuksesan desa tersebut tentu saja mendapat apresiasi dan pujian dari semua pihak, khususnya dari Bupati Alor, Amon Djobo. “Saya bangga dengan masyarakat saya di Malaipea ini. Walaupun jauh dari kabupaten, transportasi dan komunikasi sedikit ada hambatan, masyarakat di sini sudah bisa 3 kali panen. Di kecamatan lain di Alor ini, lahan cukup, air cukup, manusianya ada, tapi tidak sampai 3 kali panen seperti di Malaipea ini,” kata Amon.   Ini, menurutnya, disebut sebagai mukjizat. "Jadi, masyarakat Malaipea kalau besok itu kiamat,penduduk sini akan masuk surga," demikian kelakar Bupati Alor tersebut memotivasi petaninya. “Kami tahu, orang lain bisa, kenapa kami tidak bisa. Tuhan menganugerahkan alam bagi kami. Tuhan juga menganugerahkan cuaca yang baik bagi kami. Tuhan juga menganugerahkan air yang berlimpah bagi kami. Tinggal bagaimana kemauan baik kami. Tinggal bagaimana kami punya semangat untuk mengelola lahan ini menjadi aset yang luar biasa bagi kami,” imbuhmya. Amon mengakui, semua capaian keberhasilan di bidang pertanian Kabupaten Alor tersebut tak bisa dijauhkan dari peran para pejabat, baik di tingkat pusat maupun provinsi, yang intensif mendampingi rakyat. Sehingga, program Upsus yang dicanangkan pemerintah pusat betul-betul bisa menyentuh kepentingan rakyat.  “Kita berharap, berkat kerja sama semua pihak tersebut, masyarakat Alor bisa tumbuh menjadi masyarakat yang kenyang, sehat, dan pintar,” pungkasnya. Selain dihadiri oleh Staf Ahli Menteri Pertanian Bidang Infrastruktur, Dr. Ir. Ani Andayani, M.Agr; Bupati Alor, Amon Djobo, Panen Raya tersebut juga dihadiri Ketua DPRD Kabupaten Alor, Martinus Alopada; Kepala Balai Besar Pelatihan Peternakan NTT Dr. Adang Warya selaku penanggungjawab Upsus kab Alor,  Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) NTT, Dr. Ir. Syamsuddin, M.Sc; Sekretaris Dinas Pertanian Prov. NTT, Miqdonth; dan Camat Alor Selatan, Marthen G. Moubeka. Hadir pula WaKapolres Alor, Dandim 1622 Alor, Asisten 1 dan Asisten 2 Pemkab Alor, tokoh adat, tokoh agama, penyuluh dan  masyarakat Alor Selatan, khususnya warga Desa Malaipea, dan Desa tetangga di lembah Mainang dengan total audiens sekitar 100 orang.      
Sumber : http://www.pertanian.go.id/ap_posts/detil/1456/2018/01/24/08/48/59/Tiap%20Hari%20Ada%20Tanam-%20Tiap%20Hari%20Ada%20Panen-%20Kabupaten%20Alor%20Siap%20Swasembada%20Pangan

Rakernas Pembangunan Pertanian 2018 Untuk Mengangkat Kesejahteraan Petani

Jakarta (15/1) – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Pembangunan Pertanian 2018 yang berlangsung di Jakarta, Senin 15 Januari 2018.  Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam sambutannya memaparkan capaian Kementerian Pertanian. “Alhamdulillah, dua tahun terakhir, di tahun 2016 dan 2017 kita tidak ada impor beras. Harga di 2017 pun merupakan harga beras terstabil selama 10 tahun terakhir” ujar Mentan. “Bawang merah dulu kita negara pengimpor, sekarang kita menjadi negara pengekspor, Indonesia telah mampu mengekspor bawang merah ke enam negara” ujar Mentan. Dahulu kita impor 3,6 juta ton jagung, senilai Rp 12 triliun, namun sekarang kita sudah berhasil mengekspor jagung,  “ini sejarah baru bagi Indonesia” tambahnya. Mentan menuturkan untuk meningkatkan kesejahteraan, akan dilakukan beberapa pendekatan kesejahteraan kepada para petani. Pertama, mengarahkan seluruh ditjen di Kementerian Pertanian. Ditjen Perkebunan, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Ditjen Tanaman Pangan, Ditjen Hortikultura, Ditjen Sarana dan Prasarana semuanya mengarahkan bantuan kepada masyarakat yang ada di pedesaan yang tidak mampu supaya mereka berpendapatan, yakni 17 juta penerima rastra (beras sejahtera).  “Contohnya kalau ada Rumah Tangga penerima rastra, kami berikan ayam 10-20 ekor, bisa jadi ada 10 juta ekor kita bagikan di tahun 2018”, lanjutnya. Kedua, pemberian combine harvester pengganti sabit bagi masyarakat yang bekerja di pertanian. “Yang dulu panen dengan menggunakan sabit kami fokuskan dengan combine harvester, mereka bisa dapat 3-4 juta perhari, kalau dibagikan 10 orang artinya bisa dapat 300 ribu perhari, atau minimal 200 ribu keuntungan, perbulan bisa 4-5 juta”, tambahnya.  Mentan juga menyampaikan akan melakukan pengoptimalan potensi besar pada lahan rawa. “Kurang lebih ada 10 juta hektar lahan rawa yang berpotensi untuk dibangunkan” ujarnya. Diakhir sambutannya, Mentan menyampaikan bahwa pertanian tidak bisa bekerja sendiri, dibutuhkan sinergi semua pihak untuk bahu membahu meningkatkan produksi pertanian dan meningkatkan kesejahteraan petani. Rakernas ini dihadiri oleh lebih dari 1.700 peserta yang terdiri dari sejumlah pejabat dan instansi terkait diantaranya Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) lingkup Kementan Provinsi/Kabupaten/Kota, KPK, Mabes Polri, Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Aster KSAD, Dirjen Sumber Daya Air Kemenpur, Dirjen Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (Kemendes), Dirjen Penanganan Fakir Miskin Kemensos, Danrem, dan Dandim.     Sumber : http://www.pertanian.go.id/ap_posts/detil/1446/2018/01/16/15/31/59/Rakernas%20Pembangunan%20Pertanian%202018%20Untuk%20Mengangkat%20Kesejahteraan%20Petani

Pemerintah Bagikan 180 Ribu Alat Mesin Pertanian

Hingga kini, pemerintah sudah membagikan 180 ribu alat mesin pertanian (alsintan) kepada para petani di seluruh Indonesia. Pembagian alsintan bertujuan meningkatkan hasil panen petani.   “Sampai saat ini sudah 180 ribu alsintan yang sudah dibagikan pemerintah kepada para petani dalam bentuk traktor roda dua, roda empat, alat untuk tanam, dan combine harvester serta yang lainnya,” kata Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementerian Pertanian, Momon Rusmono, dikutip dari Republika, Kamis (21/12). Ia berharap dengan adanya alsintan bisa mempercepat pengolahan tanah dan juga panennya para petani. Selain itu, para petani juga bisa lebih efisien dalam hal bekerja dan tentu bisa mempercepat masa tanam. Sebab, menurut Momon, pengerjaan dengan mesin jauh lebih cepat daripada manual.
 
“Bantuan ini untuk mempercepat masa tanam, karena dengan alsintan bisa mengefisiensi 30—40 persen waktu dan hasilnya lebih banyak,” jelasnya. Momon mengutarakan, jika dilihat dan diamati lagi, saat ini para petani rata-rata sudah menggunakan alsintan dalam mengolah sawah mereka. “Sekarang coba cari yang mengolah lahan pakai cangkul, sudah hampir tidak ada ‘kan, tapi mereka sudah menggunakan traktor roda dua semua,” ujarnya. Lebih lanjut ia memaparkan, saat para petani menggunakan alsintan, maka hasilnya pun akan berbeda dengan cara tradisional karena bisa menekan terjadinya pembuangan gabah ketika dipanen, berbeda ketika menggunakan arit. Dia menilai, dari segi harga gabahnya pun ada perbedaan yang cukup signifikan. Misalnya ketika petani menggunakan combine harvester, harga gabahnya juga jauh lebih mahal ketimbang menggunakan mesin biasa. Momon menyampaikan untuk sektor pertanian di masa depan, ia menginginkan para petani tidak lagi didominasi oleh orang tua, namun anak muda juga bisa terjun langsung mengolah lahan pertanian dengan adanya teknologi ini.    
Sumber : https://www.pertanianku.com/pemerintah-bagikan-180-ribu-alat-mesin-pertanian/

Bulog Jabar Targetkan 7.000 Rumah Pangan Guna Stabilkan Harga

Perum Bulog Jabar, targetkan 7.000 rumah pangan demi menjaga stabilisasi harga pangan di Jawa Barat. Sudah ada ribuan outlet penjualan pangan pokok milik masyarakat dengan nama Rumah Pangan Kita (RPK) yang dibina oleh Perum Bulog Jawa Barat ini. Kepala Bulog Divre Jabar, M. Sugit Tedjo Mulyono mengatakan, saat ini Bulog Divre Jabar telah membentuk 5.000 RPK yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota di Jabar. “Sampai akhir 2017 ini ditargetkan total 7.000 RPK di Jabar sehingga realisasi akan mencapai 110 persen dari target,” kata dia, Rabu (27/12).
 
Ia pun menuturkan, sekitar 30 persen jumlah RPK berada di Bandung Raya. Sisanya, tersebar di perkotaan dan kabupaten di Jabar. Saat ini, sebanyak 5.000 RPK hadir di seluruh Jabar dan akan bertambah 2.000 unit lagi pekan depan sehingga jumlahnya menjadi 7.000 RPK. Sugit memaparkan, RPK diinisiasi sejak 2015 dalam rangka stabilisasi harga pangan. Idealnya, RPK hadir di setiap rukun warga (RW) yang kini baru satu RPK per desa. Jika satu RPK per RW terwujud, diharapkan akan menjadi pengganti titik distribusi yang arah konsepnya melayani bantuan pangan nontunai. “RPK jadi andalan. Pengelola RPK mendapat nilai tambah dan masyarakat sekitar mendapat harga pangan lebih murah dan terjangkau,” kata Sugit. Menurutnya, kondisi Jabar saat ini fluktuasi harga pangannya tidak tinggi. Khususnya di Bandung, jika ada harga yang naik, maka Bulog akan langsung turun ke RPK menambah pasokan secara besar-besaran. Sugit menyadari, keuntungan yang diperoleh pedagang/pemilik RPK atau yang akrab disebut “sahabat RPK” memang relatif kecil. Akan tetapi, sahabat RPK turut membantu masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan pokok, meringankan biaya masyarakat dengan harga yang lebih murah dibanding pasaran, sekaligus menjaga kestabilan harga pangan pokok.    
Sumber : https://www.pertanianku.com/bulog-jabar-targetkan-7-000-rumah-pangan-guna-stabilkan-harga/
Terima kasih telah berkunjung ke website Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan Kota Sukabumi