Selamat Datang di Media Informasi Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan Kota Sukabumi

Panduan Zakat Hewan Ternak

Zakat sebagaimana pernah dijelaskan terdapat pada mata uang, hewan ternak dan tanaman. Pada kesempatan kali ini akan kami sajikan spesial untuk para peternak mengenai zakat hewan ternak. Perlu dipahami bahwa hewan ternak yang wajib dizakati hanyalah tiga, yaitu unta, sapi dan kambing. Namun ini bukan berarti hewan ternak lainnya tidak wajib dizakati. Jika diniatkan untuk diperdagangkan, maka akan masuk dalam hitungan zakat barang dagangan sebagaimana pernah dibahas.

Ada tiga jenis hewan ternak yang wajib dizakati, yaitu:

  1. Unta dan berbagai macam jenisnya.
  2. Sapi dan berbagai macam jenisnya, termasuk kerbau.
  3. Kambing dan berbagai macam jenisnya, termasuk kambing kacang (ma’iz) dan domba.

Mengenai kewajiban zakat pada tiga jenis hewan ini dijelaskan dalam hadits Anas bin Malik mengenai surat Abu Bakr tentang zakat.[1]

Hewan ternak dapat dibagi menjadi empat macam:

  1. Hewan ternak yang diniatkan untuk diperdagangkan. Hewan seperti ini dikenai zakat barang dagangan walau yang diperdagangkan cuma satu ekor kambing, satu ekor sapi atau satu ekor unta.
  2. Hewan ternak yang diambil susu dan digembalakan di padang rumput disebut sa-imah. Hewan seperti ini dikenai zakat jika telah mencapai nishob dan telah memenuhi syarat lainnya.
  3. Hewan ternak yang diberi makan untuk diambil susunya dan diberi makan rumput (tidak digembalakan). Seperti ini tidak dikenai zakat karena tidak termasuk hewan yang diniatkan untuk diperdagangkan, juga tidak termasuk hewan sa-imah.
  4. Hewan ternak yang dipekerjakan seperti untuk memikul barang dan menggarap sawah. Zakat untuk hewan ini adalah hasil upah dari jerih payah hewan tersebut jika telah mencapai haul dan nishob.[2]

Syarat wajib zakat hewan ternak:

  1. Ternak tersebut ingin diambil susu, ingin dikembangbiakkan dan diambil minyaknya. Jadi, ternak tersebut tidak dipekerjakan untuk membajak sawah, mengairi sawah, memikul barang atau pekerjaan semacamnya. Jika ternak diperlakukan untuk bekerja, maka tidak ada zakat hewan ternak.
  2. Ternak tersebut adalah sa-imah yaitu digembalakan di padang rumput yang mubah selama setahun atau mayoritas bulan dalam setahun[3]. Yang dimaksud padang rumput yang mubah adalah padang rumput yang tumbuh dengan sendirinya atas kehendak Allah dan bukan dari hasil usaha manusia.[4]
  3. Telah mencapai nishob, yaitu kadar minimal dikenai zakat sebagaimana akan dijelaskan dalam tabel. Syarat ini sebagaimana berlaku umum dalam zakat.
  4. Memenuhi syarat haul (bertahan di atas nishob selama setahun).[5][6]

Silakan baca syarat-syarat zakat di sini.

Dalil bahwasanya hewan ternak harus memenuhi syarat sa-imah disimpulkan dari hadits Anas bin Malik mengenai surat yang ditulis Abu Bakr tentang zakat,

وَفِى صَدَقَةِ الْغَنَمِ فِى سَائِمَتِهَا إِذَا كَانَتْ أَرْبَعِينَ إِلَى عِشْرِينَ وَمِائَةٍ شَاةٌ

Mengenai zakat pada kambing yang digembalakan (dan diternakkan) jika telah mencapai 40-120 ekor dikenai zakat 1 ekor kambing.”[7] Berdasarkan mafhum sifat, dapat dipahami bahwa jika hewan ternak bukan sebagai sa-imah, maka tidak ada kewajiban zakat dengan satu ekor kambing.[8] Unta dan sapi diqiyaskan dengan kambing.[9]

Sedangkan mengenai nishob dan kadar wajib zakat langsung dijelaskan dengan tabel-tabel berikut untuk memudahkan. Ketentuan ini berasal dari hadits Anas tentang surat Abu Bakr mengenai zakat.[10] Sedangkan untuk ketentuan ternak sapi dijelaskan dalam hadits Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

بَعَثَنِى النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِلَى الْيَمَنِ فَأَمَرَنِى أَنْ آخُذَ مِنْ كُلِّ ثَلاَثِينَ بَقَرَةً تَبِيعًا أَوْ تَبِيعَةً وَمِنْ كُلِّ أَرْبَعِينَ مُسِنَّةً

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkanku untuk mengambil dari setiap 30 ekor sapi ada zakat dengan kadar 1 ekor tabi’ (sapi jantan umur satu tahun) atau tabi’ah (sapi betina umur satu tahun) dan setiap 40 ekor sapi ada zakat dengan kadar 1 ekor musinnah (sapi berumur dua tahun).”[11]

Kadar wajib zakat pada unta

Nishob (jumlah unta) Kadar wajib zakat
5-9 ekor 1 kambing (syah)
10- 14 ekor 2 kambing
15-19 ekor 3 kambing
20-24 ekor 4 kambing
25-35 ekor 1 bintu makhod (unta betina berumur 1 tahun)
36-45 ekor 1 bintu labun (unta betina berumur 2 tahun)
46-60 ekor 1 hiqqoh (unta betina berumur 3 tahun)
61-75 ekor 1 jadza’ah (unta betina berumur 4 tahun)
76-90 ekor 2 bintu labun (unta betina berumur 2 tahun)
91-120 ekor 2 hiqqoh (unta betina berumur 3 tahun)
121 ekor ke atas setiap kelipatan 40: 1 bintu labun, setiap kelipatan 50: 1 hiqqoh

 

Kadar wajib zakat pada sapi

Nishob (jumlah sapi) Kadar wajib zakat
30-39 ekor 1 tabi’ (sapi jantan berumur 1 tahun) atau tabi’ah (sapi betina berumur 1 tahun)
40-59 ekor 1 musinnah (sapi betina berumur 2 tahun)
60-69 ekor 2 tabi’
70-79 ekor 1 musinnah dan 1 tabi’
80-89 ekor 2 musinnah
90-99 ekor 3 tabi’
100-109 ekor 2 tabi’ dan 1musinnah
110-119 ekor 2 musinnah dan 1 tabi’
120 ke atas setiap 30 ekor: 1 tabi’ atau tabi’ah, setiap 40 ekor: 1 musinnah

 

Kadar wajib zakat pada kambing (domba)

Nishob (jumlah kambing) Kadar wajib zakat
40-120 ekor 1 kambing dari jenis domba yang berumur 1 tahun atau 1 kambing dari jenis ma’iz yang berumur 2 tahun
121-200 ekor 2 kambing
201-300 ekor 3 kambing
301 ke atas setiap kelipatan seratus bertambah 1 kambing sebagai wajib zakat

 

Berserikat (khulthoh) dalam kepemilikan hewan ternak ada dua macam:

Pertama: Khulthoh musyarokah, yaitu berserikat dalam pokok harta di mana nantinya tidak bisa dibedakan antara harta yang satu dan lainnya.

Contoh: Si A memiliki Rp.5 juta dan si B memiliki Rp.5 juta lalu keduanya membeli beberapa kambing. Bentuk serikat semacam ini dikenai zakat terhadap harta yang mereka miliki, seakan-akan harta mereka adalah milik satu orang.

Kedua: Khulthoh mujawaroh, yaitu berserikat dalam nishob hewan ternak  yang memiliki keseluruhan haul yang sama dan kedua harta orang yang berserikat bisa dibedakan satu dan lainnya. Bentuk serikat semacam ini dikenai zakat seperti teranggap satu orang jika memenuhi syarat-syarat berikut ini.

  1. Yang berserikat adalah orang yang dikenai kewajiban mengeluarkan zakat. Sehingga serikat yang terdapat kafir dzimmi dan budak mukatab tidak termasuk.
  2. Telah mencapai nishob ketika diserikatkan. Jika tidak mencapai nishob ketika digabungkan, maka tidak ada zakat.
  3. Sama dalam keseluruhan haul.
  4. Berserikat dalam hal-hal berikut: (a) memiliki satu pejantan, (b) pergi merumput dan kembali berbarengan, (c) digembalakan pada satu padang rumput, (d) satu ambing susu, (e) satu kandang untuk beristirahat.[12]

Semoga Allah senantiasa memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat.

Wallahu waliyyut taufiq.

@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 29 Jumadats Tsaniyah 1433 H

www.rumaysho.com

 


[1] HR. Bukhari no. 1454.

[2] Lihat Syarhul Mumthi’, 6: 50-51.

[3] Seandainya hewan ternak tersebut digembalakan selama setahun di padang rumput, maka ada zakat. Jika digembalakan di padang rumput selama 5 bulan dan 7 bulannya diberi makan rumput, maka tidak ada zakat. Jika digembalakan di padang rumput selama 6 bulan dan 6 bulannya diberi makan rumput, maka tidak ada zakat. Jika digembalakan di padang rumput selama 7 bulan dan 5 bulannya diberi makan rumput, maka ada wajib zakat (Lihat Syarhul Mumthi’, 6: 52).

[4] Lihat Syarhul Mumthi’, 6: 51.

[5] Jika ada hewan yang baru lahir di pertangahan haul, maka maka ia mengikuti haul induknya dan tidak dihitung haul tersendiri. Karena yang namanya tabi’ (pengikut) mengikuti induknya (Lihat Al Fiqhu Al Manhaji, hal. 299).

[6] Lihat Syarhul Mumthi’, 6: 51-52, At Tadzhib, hal. 98-99, Al Fiqhu Al Manhaji, hal. 299, dan Al Wajiz Al Muqorin, hal. 42-43.

[7] HR. Bukhari no. 1454.

[8] Lihat Al Wajiz Al Muqorin, hal. 43.

[9] Lihat Syarhul Mumthi’, 6: 52.

[10] HR. Bukhari no. 1454.

[11] HR. Tirmidzi no. 623. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[12] Lihat Syarhul Mumthi’, 6: 63-64, At Tadzhib, hal. 102, dan Al Wajiz Al Muqorin, hal. 51-53.

Sumber : https://rumaysho.com/2462-panduan-zakat-hewan-ternak.html

Facebook Comments
Artikel Selanjutnya
Artikel Sebelumnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web Design MymensinghPremium WordPress ThemesWeb Development

Indonesia Ekspor Telur Asin ke Singapura

Jakarta - Telur asin Indonesia menjadi komoditas perdagangan yang diminati masyarakat Singapura. Sebanyak 17 ribu butir (2 ton) telur olahan dari sejumlah usaha rakyat itu telah dikirim ke negeri tetangga itu dengan nilai ekspor sebesar Rp 45 juta. Berdasarkan kontrak antara pihak peternak Indonesia dan pengusaha Singapura, pengiriman tersebut akan terus berlanjut hingga mencapai 100 ribu butir. Total nilai ekspor mencapai Rp 270 juta.
 
“Kami akan mengawal perdagangan ini, sehingga hubungan baik kedua pihak terjaga. Peternak dapat menjaga pasokan dan memenuhi permintaan buyer. Sedangkan buyer dapat menjaga kepercayaan peternak kami yang bersungguh-sungguh memberikan pelayanan terbaik,” kata Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Kementerian Pertanian (Kementan), Fini Murfiani.
 
Tak hanya Singapura, Kementan juga akan menjajaki pasar telur asin di Hongkong dan Brunei Darussalam. Saat ini sudah ada komunikasi antara pihak UD Surya Abadi selaku peternak dan pemasok telur asin asal Indonesia dengan calon pembeli dari kedua negara tadi. Pihaknya meyakini dua negara tersebut akan terlebih dahulu mencoba dan menguji kualitas telur asin Indonesia. Sangat mungkin mereka akan memborong komoditas peternakan tersebut untuk konsumsi masyarakat di sana
 
Selanjutnya Fini menjelaskan bahwa ke depan permintaan telur asin akan terus meningkat seiring dengan berkembangnya kuliner dengan tambahan rasa telur asin. Potensi ini tidak akan disia-siakan Indonesia, mengingat potensi produksi telur itik saat ini berdasarkan angka statistik peternakan Tahun 2017 sebanyak 308.550 ribu ton.
 
Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan saat ini terus membina peternak dan pengusaha hasil peternakan siap ekspor. Pemerintah juga mendorong promosi produk olahan yang mempunyai nilai tambah bagi peternak dalam berbagai ajang pameran maupun misi dagang. 
 
“Kami ingin peternak kami mendapatkan penghasilan yang lebih baik. Ekspor seperti telur asin ke Singapura adalah contoh nyata,” ujar Fini.
 
Peternak itik dari UD Surya Abadi Karawang Jawa Barat Rully Lesmana mengapresiasi upaya pemerintah yang telah memfasilitasi pihaknya sehingga bisa memasuki jalur ekspor. Hal tersebut telah membuatnya mendapatkan nilai tambah dari hasil peternakannya.
 
Pengiriman ke Singapura bukanlah yang pertama. Pihaknya sudah pernah mengekspor produk yang sama sejak 2012, tapi sempat terhenti beberapa tahun karena kendala keterbatasan bahan baku dan perubahan regulasi di negara tujuan. Namun, dengan berjalannya waktu, untuk mengatasi kendala bahan baku, Rully juga mengembangkan usaha peternakan itik, sehingga UD Surya Abadi akhirnya kembali memenuhi permintaan pasar Singapura. 
 
“Nilai tambah yang kami peroleh luar biasa. Ini merupakan prestasi yang membanggakan kami,” katanya.
 
UD Surya Abadi telah mengantongi sertifikat NKV (Nomor kontrol Veteriner) level 2 sejak tahun 2010. Nomor tersebut menandakan produk peternakannya layak ekspor. Sertifikat tersebut adalah jaminan keamanan pangan kepada pembeli di negara tujuan. Mutu telur asin UD Surya Abadi tak diragukan.
 
Produk ini telah mengantongi sertifikat Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Produk Hewan (BPMSPH) yang merupakan salah satu Unit Pelaksana Teknis milik Ditjen PKH Kementan. Produk itu dinyatakan bebas cemaran mikroba, residu antibiotik, dan logam berat yang dapat membahayakan kesehatan manusia.
 
Tidak mudah mendapatkan sertifikat NKV. Rully menceritakan perjuangannya yang mendapatkan pembinaan dari pemerintah daerah setempat dalam memproduksi telur asin. UD.Surya Abadi menerapkan cara-cara produksi yang baik dimulai dengan menyusun standar operasional prosedur, antara lain yaitu dengan menetapkan bahwa telur disimpan maksimal 3 hari di penampungan dan harus sudah masuk proses pengasinan.
 
Telur harus dicuci sebelum diasinkan dengan air bersih.Kemudian dalam melakukan pengasinan Ia pun tak lagi menggunakan tanah, tapi abu sekam. Cara tersebut menekan potensi kerusakan produk. “Ini pengalaman kami. Alhamdulillah selama ini tidak mengecewakan,” ujar pengusaha yang dibantu 40 karyawan itu.
 
UD Surya Abadi juga telah membuat kode pada produksinya. Telur asin diberi kode 009-027. Angka 009 adalah kode peternaknya (farm), sementara 027 adalah kode petugas candling. Kode telur seperti itu cukup membantu. 
“Jadi kalau ada masalah kita tinggal lihat masalahnya di mana dan segera cari cara untuk menanggulanginya,” ujar mantan karyawan perusahaan kaca mobil itu.
 
Untuk memproduksi telur asin sebanyak itu, Rully mendapatkan pasokan telur bebek dari berbagai daerah. “Total pemasok ada 30 peternak, tapi diprioritaskan peternak asal Karawang, kalau kekurangan baru menerima pasokan dari luar,” ujarnya.
 
 
 
 
Sumber : http://www.pertanian.go.id/home/?show=news&act=view&id=3436
Sumber Foto: Vemale.com

Kementan Berencana Ekspor Jagung Ke Jepang dan Taiwan

Pertanianku — Kementerian Pertanian (Kementan) berencana menjajaki ekspor jagung ke Jepang dan Taiwan. Dua negara tersebut diketahui merupakan pasar besar di Asia yang setiap tahunnya mengimpor jagung dari luar negeri, khususnya Amerika Serikat. “Secara geografis, Jepang dan Taiwan lebih dekat ke Indonesia dibanding Amerika sehingga mereka tertarik karena harganya bisa lebih murah,” kata peneliti Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen di Kementerian Pertanian, Khorudin seperti dilansir Republika, Rabu (29/8). Jepang dan Taiwan mengetahui Indonesia telah mengekspor jagung ke Filipina. Kementan, kata Khoirudin, tengah menerbitkan kebijakan yang mendukung kemudahan ekspor ke negara-negara luar, mengingat produksi jagung di Indonesia sudah surplus. Jepang dapat dikatakan negara yang sangat ketat dalam menerapkan standar produk impor. Jagung biasa digunakan untuk pakan ternak di negara tersebut, lebih dari 70 persennya. Tahun ini, pemerintah menargetkan ekspor jagung hingga 500 ribu ton. Kawasan ASEAN menjadi pasar potensial karena harga yang ditawarkan jauh lebih murah. Data Kementan hingga Mei 2018 menunjukkan bahwa realisasi ekspor jagung Indonesia sudah mencapai 200 ribu ton. Sentra produksi jagung di Indonesia adalah Gorontalo, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Barat. Daerah lain yang potensial adalah Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Selatan, Lampung, Sumatera Utara, dan Kalimantan. Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen di Kementerian Pertanian, Risfaheri menambahkan International Conference on Agricultural Postharvest Handling and Processing (ICAPHP) yang digelar di Bali Dynasti Resort, Kuta, Bali, bisa menjadi ajang tukar menukar informasi antara peneliti, pemerintah, dan pihak swasta berbagai negara yang berkecimpung di bidang pertanian. Banyak perusahaan swasta dilibatkan di sana. Dengan begitu, harapannya ada kerja sama baru terbentuk dari kegiatan ini.  “Pelaku bisnis bisa mendapat informasi. Potensi ekspor hortikultura Indonesia sangat besar asalkan penanganan dari kebun hingga pasarnya tepat. Selain jagung, tahun ini kita juga menjajaki ekspor nanas ke Amerika,” ujar Risfaheri. Sekadar informasi, nanas merupakan salah satu buah unggulan Indonesia, khususnya jenis nanas madu. Produksinya mencapai 1,84 juta ton dengan produktivitas 117,5 ton per hektare (ha) lahan. Wilayah Indonesia hampir seluruhnya bisa menghasilkan nanas, khususnya Jawa Barat, Jambi, Lampung, Sumatera Utara, dan Jawa Timur.     Sumber : https://www.pertanianku.com/kementan-berencana-ekspor-jagung-ke-jepang-dan-taiwan/

Peran Pemuda dalam Percepatan Invensi Menuju Inovasi Pertanian

Peran pemuda tidak terlepas dari sebuah peradaban suatu bangsa. Maju atau tidaknya sebuah bangsa tergantung dari peran pemudanya, salah satunya dari aspek pertanian. Ide kreatif dan energik dari para pemuda sangat dibutuhkan oleh dunia pertanian dalam menghasilkan teknologi inovatif yang berdaya nilai tinggi, efektif dan efisien. Bagaimana menggaet para pemuda agar tertarik dengan dunia pertanian? Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) pada hari minggu, 12 Agustus 2018 melaksanakan kegiatan Talk Show Peran Pemuda dalam Percepatan Invensi Menuju Inovasi di Balai Pengelola Alih Teknologi Pertanian (BPATP), Bogor. Kegiatan ini dihadiri oleh 53 peserta yang hampir semuanya adalah anak muda. Kegiatan ini merupakan salah satu dari pelaksanaan AIF on the spot 2018. Peserta sangat antusias mendengarkan paparan materi dan dilanjutkan dengan dialog berupa usaha agrobisnis mengenai hambatan, tantangan dan kisah sukses yang disampaikan oleh para enterpreneur muda diantaranya Eva L.A. Madarona (PT. Fajar Sejati Sukses/Ijo Hydro); Wageyana (Wirausahawan muda binaan BPTP DIY); dan Dede Zaenab (Manajer Taman Teknologi Pertanian Cigombong). Jalannya acara di moderatori Bapak Kuntoro Boga Andri, SP., M.Agr., Ph.D Ka Biro Humas dan Informasi Publik Kementerian Pertanian.  “Saya sangat tertarik dengan bidang pertanian apalagi masih dalam jiwa pemuda, sepertinya pertanian Indonesia masih perlu terobosan baru untuk kedepannya. Dengan kegiatan ini saya jadi tahu banyak hal, sehingga bisa  memaknai pertanian secara luas, misalnya pertanian itu tidak membutuhkan lahan yang luas tetapi juga dapat diaplikasikan dalam lahan sempit dan juga lebih inovatif juga gitu. Selain itu pertanian juga tidak hanya langsung di tanam pada tanah tetapi bisa juga melalui vertikultur, hidroponik, dan juga kultur jaringan. Peluang untuk bisnisnya sangat besar dibandingkan dengan bercocok tanam di lapangan”. Ujar Nurul Huda (Mahasiswa Vokasi IPB).(MB)

Kementan Optimis Jaga Produksi Padi Di Musim Kering

Jakarta - Kementerian Pertanian melakukan langkah strategis untuk mengantisipasi puncak musim kemarau yang berdasarkan perkirakan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)  terjadi pada bulan Agustus dan September 2018. Sejumlah langkah antisipatif yang sudah dilakukan Kementan diyakini akan mampu menjaga produksi pertanian, khususnya padi.  
 
"Seluruh pejabat kementan dan kita bersama sama turun ke lapangan untuk membantu petani langsung di lahan sawah mereka. Mencari sumber air dan mempertahankan pertanaman 1 juta hektar bulan Agustus ini agar tetap panen," kata Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat dimintai keterangan pada Minggu (12/8).
 
Direktur Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian Sumarjo Gatot Irianto saat diwawancarai di kantornya pada Jumat (10/8) menyatakan, sejumlah langkah komprehensif sudah dilakukan, antara lain: melakukan percepatan tanam pada daerah yang belum mengalami kekeringan, penggunaan bibit padi khusus untuk lahan kering, serta penerapan teknologi dan mekanisasi untuk penyediaan air. Secara kelembagaan Kementan juga meningkatkan sosialisasi dan koordinasi kepada seluruh pemangku kepentingan di setiap daerah.
 
Secara umum, Gatot menyatakan bahwa musim kekeringan seharusnya tidak selalu dipandang sebagai sesuatu yang buruk. Menurutnya, justru banyak peluang dan kesempatan untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi jika dikelola dengan baik. 
 
Gatot menambahkan,salah satunya adalah kesempatan untuk memanfaatkan areal pertanaman di rawa. Rawa yang semula tinggi muka air 1 meter, pada musim kering turun menjadi 20-30 cm, sehingga menjadi peluang untuk wilayah tanam baru. “Selain itu, musim kemarau bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin karena hasil panen lebih bagus, hama lebih sedikit, sinar matahari cukup baik untuk fotosintesis, dan kualitas gabah lebih baik,” jelasnya optimis.
 
Sikap positif Kementan juga didukung dengan data luas pertanaman pertanaman tahun ini yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Dibanding bulan Oktober-Juli 2016/2017, pertanaman di bulan yang sama tahun 2017/2018 ini surplus 738.524 hektar. Selain itu, luas petanaman bulan Juni sebagai awal kemarau tahun 2018 mencapai 984.234 hektar, juga masih lebih baik dibanding di bulan yang sama tahun lalu yakni seluasi 933.390 hektar. 
 
“Peningkatan ini penting karena di beberapa tempat yang menurut BMKG mengalami kemunduran musim kemarau, Kementan berkomitmen melakukan percepatan tanam padi di beberapa wilayah, terutama yang masih bisa memanfaatkan hujan,” terangnya.
 
Penerapan Teknologi
Di beberapa wilayah yang memang sudah mengalami kekeringan, Kementan  sudah melakukan langkah langkah dengan memanfaatkan hasil inovasi petanian yang cocok untuk dilakukan pada musim kering. Salah satu contoh pertanaman lahan kering yang sudah dimulai adalah di lokasi petani binaan, Poktan Berkarya, di Kelurahan Lobusona, Kecamatan Rantau Selatan, Labuhan Batu, Sumatera Utara. 
 
Direktur Serelia, Ditjen Tanaman Pangan, Kementan Bambang Sugiharto menjelaskan pihaknya telah mendorong petani untuk menggunakan bibit unggul khusus lahan kering yakni Inpari 32. "Wilayah Labuhan Batu menargetkan 10.000 ha perluasan areal tanam baru padi lahan kering selesai tanam bulan September 2018. Langkah ini untuk tetap menjaga produksi padi di daerah Sumatera Utara yang notabene nya sentra beras," paparnya.
 
Bambang juga menyatakan, alokasi bantuan Kementan untuk lahan kering di Sumatera Utara meliputi luas 124.701 hektar. Luas tertanam sampai dengan hari ini seluas 32.079 ha dengan, sehingga dibutuhkan target luas tambah tanam harian Agustus 2018 di Sumut minimal 3.500 ha. Wilayah yang mempunyai potensi besar pertanaman padi lahan kering di Sumatera berada di Madina, Simalungun, Deli Serdang, Langkat, Serdang Bedagai, dan Labuhan Batu Utara. 
 
Secara Nasional, Bambang juga menjelaskan, penanaman padi di lahan kering ini juga menjadi salah satu cara untuk menjaga produksi padi nasional. Kementan melalui Direktorat Jenderal Tanaman Pangan menargetkan penanaman padi Gogo di lahan kering seluas 1 juta hektar. 
 
"Lahan kering diharapkan sebagai potensi baru lahan pertanaman padi selain padi sawah mengingat mulai maraknya alih fungsi lahan di persawahan. Potensi pemanfaatan padi lahan kering bisa menggunakan lahan perkebunan, kehutanan maupun menggunakan tanaman sela," terangnya.
 
Selain benih khusus lahan kering, Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Dirjen Tanaman Pagan Kementan Yanuardi juga mendorong penerapan teknologi adaptasi untuk menanggulangi dampak kekeringan, di antaranya adalah penerapan Biopori dan Sumur Suntik. Pembuatan lubang bipori selain untuk mengantisipasi terjadinya banjir dengan membuat air hujan cepat meresap ke dalam tanah, juga membuat tanah tidak cepat kehilangan air pada saat musim kemarau. Sementara, pembuatan sumur suntik diharapkan dapat menjadi alternatif sumber pengairan pada saat memasuki  musim kemarau, terutama pada sawah tadah hujan.
 
“Kementan sudah memetakan wilayah-wilayah mana saja yang mendapat alokasi teknologi tersebut di 18 provinsi. Total alokasi 400 biopori dan sumur suntik. Aceh, Sumatera Barat, Nusa Tenggara Barat misalnya mendapatkan teknologi Biopori, sementara sisanya menggunakan sumur suntik,” bebernya.
 
Dipetakan bahwa, lokasi yang peluang kekeringan besar berada di jalur pantura Jawa karena menurunnya curah hujan. Namun, faktor lain juga perlu dihitung, yakni dengan memaksimalkan pemanfaatan sungai, embung, dan waduk yang masih banyak debit air dan bisa dilakukan pompanisasi.
 
Kementan juga sudah melakukan koordinasi massif di setiap daerah agar langkah antisipatif tersebut berjalan maksimal, yakni dengan mengerahkan babinsa, dinas pertanian, kodim, tim upaya khusus (upsus), dan Kantor Cabang Dinas (KCD). Selain itu upaya pengamanan standing crop bekerjasama dengan TNI agar hambatan di lapangan bisa diatasi. 
 
“Semua turun untuk meyakinkan bahwa kekeringan bukan halangan tetapi opportunity. Pemetaan, pendataan, hingga penerapan langkah antisipatif diharapkan bisa maksimal,” pungkas Gatot mengulang permintaan Menteri Amran.

Kementan Sinergikan Program Bedah Kemiskinan dengan Kemendes dan Kemensos

Surabaya - Kementerian Desa Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes  PDTT) melontarkan pujian terhadap program Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera (Bekerja) yang digagas oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. Program Bekerja dinilai memiliki korelasi yang sangat signifikan dengan prioritas pembangunan desa, yaitu menjadikan desa mandiri.
 
"Saat ini, 82,7  persen desa- desa di Indonesia adalah petani, dalam artian, kalau kita bisa tingkatkan sektor pertanian di Indonesia,  maka  kesejahteraan desa akan meningkat," demikian dikatakan Sekretaris Jenderal Kemendes PDTT, Anwar Sanusi dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Program #Bekerja Kementan Tahun 2018 yang digelar Kementerian Pertanian (Kementan) di Surabaya, Selasa (7/8). 
 
Pada Rakor ini dilakukan penandatanganan perjanjian kerja sama antara Kementan dengan Kementerian Sosial dengan Kemendes PDTT tentang sinergi kegiatan Bekerja. Hadir Mentan Amran, Gubernur Jawa Timur, Soekarwo dan perwakilan Kemensos.
 
Anwar membeberkan ada tiga program Kemendes yang disebut sangat signifikan dengan program Bekerja. Pertama, Produk Unggulan Kawasan Pedesaan (Prukades).
 
Lebih lanjut Anwar jelaskan, dengan mengenal produk andalan masing- masing kawasan pedesaan, Kementan melalui Program Bekerja dapat dengan mudah mengucurkan bantuan, misalnya ayam, kambing dan tanama hortikultura.
 
"Dengan demikian desa diharapkan mampu mempercepat pemeratan pembagunan  di desa, menguatkan pembangunam daerah dan yang terpenting menurunkan angka kemiskinan," terang Sanusi.
 
Kedua, sebut Anwar, program Badan Usaha Milik Desa (BUMdes). Badan ini berperan mengeloloh keunggulan masing-masing desa. Dari menyediakan benih, pupuk  hingga menjadi wadah untuk membeli hasil petani.
 
"Ketiga adalah embung. Jika embung berhasil maka sektor pertanian sukses," tuturnya.
 
Menteri Amran menjelaskan Program Bekerja hadir untuk meningkatkan aset produktif, sehingga meningkatkan pendapatan keluarganya. Dengan pendapatan yang cukup maka mereka mampu berada di atas garis kemiskinan.
 
“Kemiskinan tidak bisa diselesaikan oleh satu Kementerian atau Lembaga saja tapi perlu dukungan yang lain,” ungkapnya. 
 
Kemensos lebih pada Bantuan Sosial, Kemendes pada aspek pengembangan produk dan pemasaran dan infrastruktur, sedangkan Kementan menekankan pada peningkatan produktivitas ekonomi masyarakat miskin di pedesaan. 
 
“Program Bekerja merupakan salah satu solusi permanen dalam pengentasan kemiskinan di pedesaan,” ujarnya.
 
 
 
sumber : http://www.pertanian.go.id/home/?show=news&act=view&id=3299
Terima kasih telah berkunjung ke website Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan Kota Sukabumi