Selamat Datang di Media Informasi Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan Kota Sukabumi

Panduan Zakat Pertanian

Satu lagi yang dikenai zakat adalah zakat pertanian. Setiap tanaman yang merupakan makanan pokok dan dapat disimpan, menurut ulama Syafi’iyah, wajib dizakati. Berapa besaran zakatnya dan komoditi apa saja yang wajib dizakati serta kapan waktu pengeluaran zakatnya, silakan simak dengan seksama dalam serial zakat kali ini.

Dalil wajibnya zakat pertanian

Hasil pertanian wajib dikenai zakat. Beberapa dalil yang mendukung hal ini adalah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ

Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu.” (QS. Al Baqarah: 267). Kata “مِنْ” di sini menunjukkan sebagian, artinya tidak semua hasil bumi itu dizakati.

وَهُوَ الَّذِي أَنْشَأَ جَنَّاتٍ مَعْرُوشَاتٍ وَغَيْرَ مَعْرُوشَاتٍ وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا أُكُلُهُ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ كُلُوا مِنْ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآَتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ

Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin).” (QS. Al An’am: 141).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَلَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسِ أَوْسُقٍ صَدَقَةٌ

Tidak ada zakat bagi tanaman di bawah 5 wasaq.”[1]

Dalil-dalil ini menunjukkan wajibnya zakat hasil pertanian yang dipanen dari muka bumi, namun tidak semuanya terkena zakat dan tidak semua jenis terkena zakat. Akan tetapi, yang dikenai adalah jenis tertentu dengan kadar tertentu.

Hasil pertanian yang wajib dizakati

Pertama, para ulama sepakat bahwa hasil pertanian yang wajib dizakati ada empat macam, yaitu: sya’ir (gandum kasar), hinthoh (gandum halus), kurma dan kismis (anggur kering).

عَنْ أَبِى بُرْدَة عَنْ أَبِى مُوسَى الأَشْعَرِىِّ وَمُعَاذٍ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُمَا : أَنَّ رَسُولَ الله -صلى الله عليه وسلم- بَعَثَهُمَا إِلَى الْيَمَنِ يُعَلِّمَانِ النَّاسَ، فَأَمَرَهُمْ أَنْ لَا يَأْخُذُوا إِلاَّ مِنَ الْحِنْطَةِ وَالشَّعِيرِ وَالتَّمْرِ وَالزَّبِيبِ

Dari Abu Burdah, bahwa Abu Musa Al-Asy’ari dan Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhuma pernah diutus ke Yaman untuk mengajarkan perkara agama. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka agar tidak mengambil zakat pertanian kecuali dari empat jenis tanaman: hinthah (gandum halus), sya’ir (gandum kasar), kurma, dan zabib (kismis).[2]

Dari Al Harits dari Ali, beliau mengatakan:

الصدقة عن أربع من البر فإن لم يكن بر فتمر فإن لم يكن تمر فزبيب فإن لم يكن زبيب فشعير

Zakat (pertanian) hanya untuk empat komoditi: Burr (gandum halus), jika tidak ada maka kurma, jika tidak ada kurma maka zabib (kismis), jika tidak ada zabib maka sya’ir (gandum kasar).”[3]

Dari Thalhah bin Yahya, beliau mengatakan: Saya bertanya kepada Abdul Hamid dan Musa bin Thalhah tentang zakat pertanian. Keduanya menjawab,

إنما الصدقة في الحنطة والتمر والزبيب

Zakat hanya ditarik dari hinthah (gandum halus), kurma, dan zabib(kismis).”[4]

Kedua, jumhur (mayoritas) ulama meluaskan zakat hasil pertanian ini pada tanaman lain yang memiliki ‘illah (sebab hukum) yang sama. Jumhur ulama berselisih pandangan mengenai ‘illah (sebab) zakat hasil pertanian.

Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa zakat hasil pertanian itu ada pada segala sesuatu yang ditanam baik hubub (biji-bijian), tsimar (buah-buahan) dan sayur-sayuran.

Imam Malik dan Imam Syafi’i berpendapat bahwa zakat hasil pertanian itu ada pada tanaman yang merupakan kebutuhan pokok dan dapat disimpan.

Imam Ahmad berpendapat bahwa zakat hasil pertanian itu ada pada tanaman yang dapat disimpan dan ditakar.

Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa zakat hasil pertanian itu ada pada tanaman yang dapat disimpan. [5]

Tiga pendapat terakhir ini dinilai lebih kuat. Sedangkan pendapat Abu Hanifah adalah pendapat yang lemah dengan alasan beberapa dalil berikut,

عَنْ مُعَاذٍ أَنَّهُ كَتَبَ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- يَسْأَلُهُ عَنِ الْخُضْرَوَاتِ وَهِىَ الْبُقُولُ فَقَالَ « لَيْسَ فِيهَا شَىْءٌ

Dari Mu’adz, ia menulis surat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya mengenai sayur-sayuran (apakah dikenai zakat). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sayur-sayuran tidaklah dikenai zakat.”[6] Hadits ini menunjukkan bahwa sayuran tidak dikenai kewajiban zakat.

عَنْ طَلْحَةَ بْنِ يَحْيَى عَنْ أَبِى بُرْدَةَ عَنْ أَبِى مُوسَى وَمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بَعَثَهُمَا إِلَى الْيَمَنِ فَأَمَرَهُمَا أَنْ يُعَلِّمَا النَّاسَ أَمْرَ دِينَهِمْ.وَقَالَ :« لاَ تَأْخُذَا فِى الصَّدَقَةِ إِلاَّ مِنْ هَذِهِ الأَصْنَافِ الأَرْبَعَةِ الشَّعِيرِ وَالْحِنْطَةِ وَالزَّبِيبِ وَالتَّمْرِ ».

Dari Tholhah bin Yahya, dari Abu Burdah, dari Abu Musa dan Mu’adz bin Jabal berkata bahwa  Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus keduanya ke Yaman dan memerintahkan kepada mereka untuk mengajarkan agama. Lalu beliau bersabda, “Janganlah menarik zakat selain pada empat komoditi: gandum kasar, gandum halus, kismis dan kurma.”[7] Hadits ini menunjukkan bahwa zakat hasil pertanian bukanlah untuk seluruh tanaman.

Sedangkan pendapat ulama Zhohiriyah yang menyatakan bahwa zakat hasil pertanian hanya terbatas pada empat komoditi tadi, maka dapat disanggah dengan dua alasan berikut:

  1. Kita bisa beralasan dengan hadits Mu’adz di atas bahwa tidak ada zakat pada sayur-sayuran. Ini menunjukkan bahwa zakat hasil pertanian diambil dari tanaman yang bisa disimpan dalam waktu yang lama dan tidak mudah rusak. Sedangkan sayur-sayuran tidaklah memiliki sifat demikian.
  2. Empat komoditi yang disebutkan dalam hadits adalah makanan pokok yang ada pada saat itu. Bagaimana mungkin ini hanya berlaku untuk makanan pokok seperti saat itu saja dan tidak berlaku untuk negeri lainnya? Karena syari’at tidaklah membuat ‘illah suatu hukum dengan nama semata namun dilihat dari sifat atau ciri-cirinya.[8]

Pendapat Imam Syafi’i lebih dicenderungi karena hadits-hadits yang telah disebutkan di atas memiliki ‘illah (sebab hukum) yang dapat ditarik di mana gandum, kurma dan kismis adalah makanan pokok di masa silam –karena menjadi suatu kebutuhan primer- dan makanan tersebut bisa disimpan. Sehingga hal ini dapat diqiyaskan atau dianalogikan pada padi, gandum, jagung, sagu dan singkong  yang memiliki ‘illah yang sama.[9]

Nishob zakat pertanian

Nishob zakat pertanian adalah 5 wasaq. Demikian pendapat jumhur (mayoritas) ulama, berbeda dengan pendapat Abu Hanifah. Dalil yang mendukung pendapat jumhur adalah hadits,

وَلَيْسَ فِيمَا دُونَ خَمْسِ أَوْسُقٍ صَدَقَةٌ

Tidak ada zakat bagi tanaman di bawah 5 wasaq.”[10]

1 wasaq = 60 sho’, 1 sho’ = 4 mud.

Nishob zakat pertanian = 5 wasaq x 60 sho’/wasaq = 300 sho’ x 4 mud = 1200 mud.

Ukuran mud adalah ukuran dua telapak tangan penuh dari pria sedang.

Lalu bagaimana konversi nishob zakat ini ke timbangan (kg)?

Perlu dipahami bahwa sho’ adalah ukuran untuk takaran. Sebagian ulama menyatakan bahwa satu sho’ kira-kira sama dengan 2,4 kg[11]. Syaikh Ibnu Baz menyatakan, 1 sho’ kira-kira 3 kg[12]. Namun yang tepat jika kita ingin mengetahui ukuran satu sho’ dalam timbangan (kg) tidak ada ukuran baku untuk semua benda yang ditimbang. Karena setiap benda memiliki massa jenis yang berbeda. Yang paling afdhol untuk mengetahui besar sho’, setiap barang ditakar terlebih dahulu. Hasil ini kemudian dikonversikan ke dalam timbangan (kiloan).[13]

Taruhlah jika kita menganggap 1 sho’ sama dengan 2,4 kg, maka nishob zakat tanaman = 5 wasaq x  60 sho’/ wasaq x 2,4 kg/ sho’ = 720 kg.

Dari sini, jika hasil pertanian telah melampaui 1 ton (1000 kg), maka sudah terkena wajib zakat.

Catatan: Jika hasil pertanian tidak memenuhi nishob, belum tentu tidak dikenai zakat. Jika pertanian tersebut diniatkan untuk perdagangan, maka bisa masuk dalam perhitungan zakat perdagangan sebagaimana telah dibahas di sini.

Kadar zakat hasil pertanian

Pertama, jika tanaman diairi dengan air hujan atau dengan air sungai tanpa ada biaya yang dikeluarkan atau bahkan tanaman tersebut tidak membutuhkan air, dikenai zakat sebesar 10 %.

Kedua, jika tanaman diairi dengan air yang memerlukan biaya untuk pengairan misalnya membutuhkan pompa untuk menarik air dari sumbernya, seperti ini dikenai zakat sebesar 5%.

Dalil yang menunjukkan hal ini adalah hadits dari Ibnu ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

فِيمَا سَقَتِ السَّمَاءُ وَالْعُيُونُ أَوْ كَانَ عَثَرِيًّا الْعُشْرُ ، وَمَا سُقِىَ بِالنَّضْحِ نِصْفُ الْعُشْرِ

Tanaman yang diairi dengan air hujan atau dengan mata air atau dengan air tada hujan, maka dikenai zakat 1/10 (10%). Sedangkan tanaman yang diairi dengan mengeluarkan biaya, maka dikenai zakat 1/20 (5%).”[14]

Jika sawah sebagiannya diairi air hujan dan sebagian waktunya diairi air dengan biaya, maka zakatnya adalah ¾ x 1/10 = 3/40 = 7,5 %. Dan jika tidak diketahui manakah yang lebih banyak dengan biaya ataukah dengan air hujan, maka diambil yang lebih besar manfaatnya dan lebih hati-hati. Dalam kondisi ini lebih baik mengambil kadar zakat 1/10.[15]

Catatan: Hitungan 10% dan 5% adalah dari hasil panen dan tidak dikurangi dengan biaya untuk menggarap lahan dan biaya operasional lainnya.

Contoh: Hasil panen padi yang diairi dengan mengeluarkan biaya sebesar 1 ton. Zakat yang dikeluarkan adalah 10% dari 1 ton, yaitu 100 kg dari hasil panen.

Kapan zakat hasil pertanian dikeluarkan?

Dalam zakat hasil pertanian tidak menunggu haul, setiap kali panen ada kewajiban zakat.

Kewajiban zakat disyaratkan ketika biji tanaman telah keras (matang), demikian pula tsimar (seperti kurma dan anggur) telah pantas dipetik (dipanen). Sebelum waktu tersebut tidaklah ada kewajiban zakat.[16] Dan di sini tidak mesti seluruh tanaman matang. Jika sebagiannya telah matang, maka seluruh tanaman sudah teranggap matang.[17]

Zakat buah-buahan dikeluarkan setelah diperkirakan berapa takaran jika buah tersebut menjadi kering.[18] Sebagaimana disebutkan dalam hadits,

عَنْ عَتَّابِ بْنِ أَسِيدٍ قَالَ أَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ يُخْرَصَ الْعِنَبُ كَمَا يُخْرَصُ النَّخْلُ وَتُؤْخَذُ زَكَاتُهُ زَبِيبًا كَمَا تُؤْخَذُ زَكَاةُ النَّخْلِ تَمْرًا

Dari ‘Attab bin Asid, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menaksir anggur sebagaimana menaksir kurma. Zakatnya diambil ketika telah menjadi anggur kering (kismis) sebagaimana zakat kurma diambil setelah menjadi kering.”[19] Walau hadits ini dho’if (dinilai lemah) namun telah ada hadits shahih yang disebutkan sebelumnya yang menyebutkan dengan lafazh zabib (anggur kering atau kismis) dan tamr (kurma kering).

 

Untuk melengkapi bahasan di atas, silakan lihat bahasan syarat-syarat zakat.
Wallahu waliyyut taufiq.

 

@ Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 30 Jumadal Akhiroh 1433 H

www.rumaysho.com


[1] HR. Bukhari no. 1405 dan Muslim no. 979.

[2] HR. Hakim 2: 32 dan Baihaqi 4: 125. Hadits ini dinilai shahih oleh Syaikh Al Albani.

[3] HR. Ibn Abi Syaibah, no. 10024

[4] HR. Mushannaf Ibn Abi Syaibah no. 10025

[5] Lihat Fiqh Sunnah, 1: 325-326 dan Al Wajiz Al Muqorin, hal. 57-58.

[6] HR. Tirmidzi no. 638. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

[7] HR. Al Baihaqi 4: 125.

[8] Lihat Al Wajiz Al Muqorin, hal. 59-60.

[9] Lihat At Tadzhib, hal. 100, Kifayatul Akhyar, 1: 291 dan Al Fiqhiy Al Manhajiy, hal. 284-285.

[10] HR. Bukhari no. 1405 dan Muslim no. 979.

[11] Lihat Al Wajiz Al Muqorin, hal. 55.

[12] Lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 14: 202

[13] Lihat Al Wajiz Al Muqorin, hal. 55.

[14] HR. Bukhari no. 1483 dan Muslim no. 981.

[15] Lihat Syarhul Mumthi’, 6: 78-79.

[16] Lihat Syarhul Mumthi’, 6: 79-80 dan Al Fiqhiy Al Manhaji, hal. 301-302.

[17] Lihat Al Fiqhiy Al Manhaji, hal. 301.

[18] Lihat Al Fiqhiy Al Manhaji, hal. 302.

[19] HR. Abu Daud no. 1603, An Nasai no. 2618 dan Tirmidzi no. 644. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini dho’if.

Sumber : https://rumaysho.com/2464-panduan-zakat-hasil-pertanian.html

 

Facebook Comments
Artikel Sebelumnya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web Design MymensinghPremium WordPress ThemesWeb Development

Kementan Klaim Kesejahteraan Petani Indonesia Membaik

Kementerian Pertanian mengklaim kebijakan pembangunan pertanian yang dijalankan sejak 2015 sampai Mei 2018 meningkatkan kesejahteraan petani. Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementerian Pertanian, Ketut Kariyasa, mengungkapkan, klaim itu didasarkan pada beberapa fakta. Pertama, menurunnya secara konsisten jumlah penduduk miskin di perdesaan, baik secara absolut maupun persentase, meski penurunannya tidak sedrastis di wilayah perkotaan. Dari data BPS (Badan Pusat Statistik), pada September 2015, jumlah penduduk miskin di perdesaan sebanyak 17,89 jiwa atau 14,09%. Lalu pada September 2016 turun menjadi 17,28 juta jiwa atau 13,96%. "Pada September 2017, turun lagi menjadi 16,31 juta jiwa atau 13,47%," ujar Ketut di Jakarta, Selasa (26/6/2018). Kedua, membaiknya kesejahteraan petani juga dapat dilihat dari berkurangnya ketimpangan pengeluaran (menurunnya Gini Rasio) yang juga mencerminkan semakin meratanya pendapatan petani di pedesaaan. Menurut data BPS, sejak Maret 2015 sampai Maret 2017, Gini Rasio pengeluaran masyarakat di perdesaan terus menurun, dari 0,334 pada 2015 menjadi 0,327 pada 2016 dan menurun lagi menjadi 0,302 pada 2017.   Kondisi ini secara implisit menunjukkan semakin membaiknya pendapatan petani. "Gini Rasio di perkotaan juga mengalami penurunan, namun masih berada dalam ketimpangan sedang. Sementara di perdesaan sudah berada dalam ketimpangan rendah," jelasnya. Lalu ketiga, Ketut mengatakan, dapat dilihat dengan semakin membaiknya daya beli masyarkat petani di perdesaan. Hal ini terlihat dari indeks Nilai Tukar Petani (NTP) dan indeks Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP).  Berdasarkan data yang dirilis BPS, secara nasional pada Mei 2018 indeks NTP sebesar 101,99 atau meningkat 0,37% jika dibanding April yang hanya 101,61. NTP Mei 2018 ini pun lebih besar dibanding Mei 2017 yang hanya 100,15. Begitu juga indeks NTUP meningkat 0,32% dari 111,03 pada April 2018 menjadi 111,38 pada Mei 2018.  "Kenaikan NTP dan NTUP ini menunjukkan membaiknya daya beli petani yang secara otomatis menunjukkan kesejahteraan petani membaik. Meningkatkanya daya beli petani juga terjadi jika dibandingkan pada tahun sebelumnya atau Mei 2017," pungkasnya.   sumber : https://www.wartaekonomi.co.id/read185542/kementan-klaim-kesejahteraan-petani-indonesia-membaik.html

Indonesia Ekspor Perdana 60.000 Ekor Domba Ke Malaysia

Mentan menyampaikan, saat ini Pemerintah terus berupaya meningkatkan ekspor berbagai komoditas strategis pertanian, termasuk komoditas peternakan. “Kita telah ekspor daging sapi premium, pakan ternak, telur tetas, DOC dan daging ayam olahan, dan hari ini kita ekspor perdana domba sebanyak 2.100 ekor dengan estimasi nilai sebesar Rp. 3,78 Milyar” ujarnya.   “Ternak domba yang diekspor kali ini adalah domba jantan yang diperuntukkan sebagai ternak potong,” ucap Amran. "Ekspor ini kita harapkan terus berlanjut secara kontinyu sesuai perjanjian kerjasama antara PT. Inkopmar Cahaya Buana dengan pihak importir di  negara Malaysia, yang diproyeksikan kebutuhan di Malaysia sebanyak 5.000 ekor per bulan dapat dipasok dari Indonesia, sehingga diharapkan kebutuhan 60.000 ekor domba per tahun untuk negara Malaysia dapat terpenuhi," tegas Mentan.   “Kenapa Malaysia disuplai dari negara yang jauh? Malaysia dan Indonesia satu rumpun, berbatasan, bila perlu lempar saja sudah ekspor, itu namanya beternak dengan cerdas” ujar Mentan.   Dalam kesempatan tersebut pihak pengekspor juga menyampaikan bahwa hambatan terbesar dalam pengiriman adalah Kendaraan Ternak untuk mengangkutnya. Pada awalnya, pengiriman akan dilakukan dengan bantuan pihak Malaysia, menggunakan Malaysian Airlines, tetapi Mentan langsung berinisiatif menghubungi Menteri Perhubungan agar membantu memberikan bantuan kapal angkut. “Tidak ada kendala lagi. saya langsung menghubungi Menhub, mereka siap bantu” tegas Mentan.   Amran optimis ekspor kambing/domba Indonesia dapat terus meningkat kedepannya.  Berdasarkan Statistik Peternakan, populasi kambing/domba secara nasional pada tahun 2017 sebanyak 35.052.653 ekor dan sebanyak 4,72 juta ekor berada di Provinsi Jawa Timur. Sedangkan produksi daging kambing/domba tahun 2017 mencapai 124.842 ton/ tahun, sehingga secara neraca mengalami surplus dibandingkan dengan kebutuhan nasional dengan konsumsi masyarakat terhadap daging kambing/domba sekitar 13.572 ton/tahun.    Menurut Amran, capaian ekspor peternakan khususnya ternak kambing/domba potong di Indonesia cukup fantastis, dimana pada tahun 2017 tercatat hanya 210 ekor, sedangkan pada ekspor perdana tahun 2018 ini sudah mencapai 2.100 ekor atau mengalami peningkatan sebanyak 1000%.   "Ekspor ini membuktikan bahwa kita bisa swasembada protein. ekspor membuka akses pasar global. Terbukanya pasar juga akan membuat peternak lebih bersemangat untuk beternak dan meningkatkan kuantitas maupun kualitas ternak potong siap ekspor dan bersaing dengan negara lain” ujarnya.   Pada kesempatan tersebut Mentan sempat bertanya kepada salah satu peternak domba berapa mereka biasa menjual dombanya dipasar lokal.    “Saya biasa menjual 1,5 juta perekor, ke pengekspor saya jual 2 juta Pak” ujar peternak domba. “Wah ini sudah bagus, Ini artinya peternak lebih untung, peternak domba lebih sejahtera” ujar Mentan.   Pada kesempatan tersebut hadir juga kurang lebih 100 orang peternak domba lokal yang merupakan perwakilan dari peternak yang bermitra dengan PT. Inkopmar Cahaya Buana. Peternak tersebut berasal dari wilayah Tapal Kuda seperti Lumajang, Jember, Bondowoso, Banyuwangi, Probolinggo, dan Situbondo.       sumber : http://www.pertanian.go.id/home/?show=news&act=view&id=3249

Menkopolhukam, Panglima TNI dan Kapolri Dukung Mentan Berantas Mafia Pangan

Jakarta - Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Jend.TNI (Purn) Wiranto menegaskan, dirinya, Panglima TNI dan Kapolri mendukung langkah Menteri Pertanian dan Kementerian Pertanian RI memberantas mafia pangan. Ia mengemukakan dalam Rapat Koordinasi Lintas Sektoral Pengamanan Idul Fitri 1439 H, Senin pagi (25/6/2018) di Mabes Polri Jakarta. "Kita tidak akan ragu ragu menegakkan hukum bagi para pelanggar, yang hanya ingin untung sendiri merugikan masyarakat," kata Wiranto. Penegasan Menkopolhukam, menanggapi laporan Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman, yang menjelaskan upaya-upaya yang telah berhasil membuat harga bahan pangan pada Lebaran Idul Fitri pada khususnya, dan harga pangan dalam dua tahun terakhir pada umumnya - relatif stabil.    Kerjasama Lintas Sektor Berantas Mafia Pangan   Salah satu upaya yang dinilai telah sukses menjaga stabilitas harga bahan pangan, adalah kerjasama lintas sektor dan penindakan yang dilakukan Satgas Pangan. "Kita mem_blacklist_ perusahaan impor nakal. Yang hanya mencari untung sebesar besarnya, tanpa mengindahkan aturan yang berlaku, merugikan petani dan masyarakat konsumen," jelas Amran. Yang paling terkini, tepat usai upacara Peringatan Hari Krida Pertanian ke 46 Jumat (22/6/2018) lalu, Menteri Pertanian mengumumkan 5 perusahaan lagi yang masuk blacklist. Mereka diduga mengimpor bawang bombai mini yang harga beli dan bea masuknya murah, untuk kemudian dijual kembali sebagai bawang merah yang lebih mahal harga nya dan bea masuknya. Menteri Amran meyakini, jika Kementerian Pertanian terus mendapat dukungan dari Kapolri, Panglima TNI dan Menkopolhukam, persoalan bahan pangan dapat kita tangani di periode kepemimpinan Jokowi JK.    Mengubah Pola Tanam Petani   Menteri Pertanian melanjutkan, upaya lainnya yang juga menjadi penentu stabilitas harga bahan pangan adalah keberhasilan Kementerian Pertanian mendorong petani mengubah pola tanam untuk mengantisipasi kenaikan harga yang biasanya terjadi pada Ramadan hingga Lebaran. "Tiga bulan jelang Ramadan petani menambah kapasitas tanam. Hasilnya, ternyata bukan hanya menstabilkan harga selama Ramadan dan Lebaran. Seperti yang kita tahu bersama sekarang jagung kita bisa ekspor, bawang merah dulu impor sekarang ekspor ke 6 negara. Juga ayam potong sekarang kita ekspor ke negara Jepang. Ekspor bahan pangan juga secara keseluruhan naik sebesar 400% lebih," sambung Amran.    Pengamanan Arus Lebaran dan Bahan Pangan Aman   Menutup rapat koordinasi, Menkopolhukam memberi penghargaan kepada semua pihak yang telah telibat dan sama-sama bekerja keras berusaha mewujudkan harapan masyarakat untuk melewati Ramadan dan merayakan Hari Lebaran dengan aman dan nyaman. "Alhamdulillah, waktu tempuh arus mudik dan arus balik lebih baik dari tahun sebelumnya, angka kecelakaan juga turun 30%, harga pangan relatif stabil, angka kriminalitas dapat ditekan," jelas Wiranto dalam rapat yang digelar dengan melakukan video conference (konferensi jarak jauh) bersama seluruh pejabat terkait di seluruh wilayah di Indonesia. Rapat dihadiri Kapolri selaku tuan rumah, Panglima TNI, Menteri Pertanian, Menteri PU Pera, Menteri Perhubungan, Pejabat Bulog, Pejabat Pertamina, dan dipimpin oleh Menekopolhukam.       sumber : http://www.pertanian.go.id/home/?show=news&act=view&id=3247

Dorong Koperasi Tani, Kementan Harapkan Kesejahteraan Petani

Pertanianku — Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) akan mendorong terbentuknya korporasi tani. Upaya tersebut bertujuan mensejahterakan para petani. Sebagai role model, korporasi petani akan dibentuk di Indramayu. “Ini sangat bagus, bisa menguntungkan petani kita,” kata Menteri Pertanian Amran Sulaiman seperti dikutip dari Republika, Rabu (6/6). Amran menjelaskan, koperasi petani ini merupakan pembuktian bagaimana pemerintah mendorong, menjaga petani agar kesejahteraannya dapat meningkat.
Selain itu, diutarakannya bahwa keberadaan korporasi petani di Indramayu ini akan didorong untuk komoditas padi mulai dari pengolahan tanah, bibit hingga pupuk.
Termasuk di dalamnya dikatakan Amran, yakni proses pengemasan yang langsung masuk ke supermarket. “Karena nilai tambahnya lebih banyak di processing dan itu akan didapatkan oleh petaninya,” ujarnya dia. Terkait padi, Amran menyebut panen raya pada Juni dan Juli ini bisa melebihi periode yang sama dengan tahun lalu. Bahkan, angka panen diyakini di atas 20 persen hingga 30 persen lebih tinggi dibanding tahun lalu. Ia pun optimistis hasil panen petani akan mampu diserap pemerintah, dalam hal ini Bulog. Untuk diketahui, serapan beras Bulog tahun ini baru mencapai 800-an ribu ton per 5 Juni. “Kita serahkan ke Bulog supaya serap sebanyak-banyaknya,” tutur Amran.     sumber : https://www.pertanianku.com/dorong-koperasi-tani-kementan-harapkan-kesejahteraan-petani/

Jagung Ungu, Hasil Inovasi Universitas Brawijaya Diminati Mentan

PertaniankuJagung ungu hasil inovasi dosen Universitas Brawijaya (UB) berhasil menarik perhatian Menteri Pertanian Amran Sulaiman. Di sela kuliah tamu yang dilaksanakan di kampus UB, bertema ‘Membangun Pertanian Mandiri dan Berkelanjutan di era Industri 4.0’, Amran membawa jagung ungu itu ke atas podium lalu meminta pemiliknya berdiri. “Ini jagung siapa? Saya bawa dari stand di luar tadi,” tanya Mentan kepada hadirin, seperti dikutip dari Detik, Jumat (25/5/2018). Seorang pria, yakni Ir. Arifin Noor Sugiharto, MSc, PhD yang berprofesi sebagai pengajar di Fakultas Pertanian kemudian maju menjawab pertanyaan Amran.
“Itu jagung ungu, Pak Menteri, banyak khasiatnya. Saya yang mengembangkan benihnya,” ungkap Arifin kepada Amran.
Karena tertarik dengan pengembangan benih yang dilakukan Arifin tersebut, Amran pun kembali bertanya, “Mampu berapa? 1.000 hektare?” “Kalau sebanyak itu belum, Pak Menteri,” jawab Arifin. “Bisanya berapa? Saya kontrak sekarang,” tegas Amran. Arifin mengaku, baru memiliki benih sebanyak 25 kilogram. Akan tetapi, pihaknya menyanggupi kontrak yang ditawarkan Amran untuk menyiapkan benih jagung ungu dengan lahan seluas 100 hektare. “Oke kalau begitu, nanti harus ditingkatkan lagi sampai 1.000 hektare. Berapa pun akan saya bayar, kalau Anda sanggup,” tandas Amran yang juga menandakan bahwa kontrak disepakati. Amran menegaskan, salah satu tujuannya sering berkunjung ke perguruan tinggi ialah untuk melihat langsung ada tidaknya pengembangan atau budidaya pertanian modern. Harapannya, inovasi tersebut dapat dikembangkan langsung di lapangan. “Jadi enak begini, efisien. Langsung ketemu kontrak, bisa langsung ditanam. Cepat, gak berbelit-belit,” ungkapnya. Sementara itu, Arifin mengaku, sudah mulai mengembangkan jagung yang diklaim mengandung 3 kali antosianin tersebut sejak 2009 silam. Kini, varietas terbaru hasil persilangan beberapa jenis jagung yang dikembangkannya telah menghasilkan benih yang siap tanam.
Baca Juga:  4 Hal Penting yang Harus Diperhatikan dalam Replanting Kelapa Sawit
 
“Untuk harga belum, karena paten masih dalam proses. Untuk satu hektare butuh sekitar 15 kilogram benih dengan hasil produksi sebanyak 7 ton jagung ungu,” terangnya.     sumber : https://www.pertanianku.com/jagung-ungu-hasil-inovasi-universitas-brawijaya-diminati-mentan/
Terima kasih telah berkunjung ke website Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan Kota Sukabumi