Selamat Datang di Media Informasi Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan Kota Sukabumi

PERATURAN PEMERINTAH

  1. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 17 Tahun 2015 tentang Ketahanan Pangan dan Gizi
  2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia N0. 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah
Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Web Design MymensinghPremium WordPress ThemesWeb Development

Kita Harus Bersyukur, Beras Medium dan Premiun Kandungan Gizi Utama Sama

3 August 20173 August 2017
Penggerebekan beras oleh Satgas Pangan di Bekasi perlu kita lihat dari perspektif lain. Harga jual beras dengan kualitas premium di beberapa pasar tertentu mencapai 20 ribuan per kg. Konsumen yang biasa membeli beras tersebut selama ini tidak sadar bahwa beras yang dibelinya termasuk kategori mahal. Padahal semua gabah yang diproses menjadi beras, baik yang berasal dari varietas IR 64, Ciherang, Mekongga, Inpari, varietas lokal, dan varietas lainnya mempunyai kandungan gizi utama yang relatif sama yakni lemak 0-0,6%; protein 6-9% dan karbohidrat 70-85%. Saat kita memakan beras medium dan premiun sejatinya kita memakan nasi dengan kandungan gizi utama yang sama. Perbedaan utama kedua kelas beras tersebut hanyalah pada kualitas tampilan beras (utuh dan patah), derajat sosoh keberadaan cemaran seperti butir merah, butir kuning, dan benda asing lainnya. Beras dengan persentase beras kepala (butir hampir utuh hingga utuh) >95% dan derajat sosoh 100% kita sebut beras premium, sedangkan beras dengan persentase beras kepala <95% kita sebut beras medium. Beras premium dan medium setelah dimasak akan menjadi nasi dengan tampilan yang tidak jauh berbeda karena beras kepala sudah tercampur dengan beras patah. Yang akan terlihat berbeda adalah tampilan nasi akibat perbedaan derajat sosoh serta keberadaan butir merah/kuning/rusak yang biasanya terdapat dalam jumlah yang sangat kecil. Beras dengan kelas mutu dibawah medium sering disebut dengan beras non klas. Melalui pemrosesan ulang, yaitu memoles, mengayak, dan sortasi serta grading, beras dengan mutu rendah dapat menghasilkan beras dengan mutu yang lebih baik, tentu saja akan menghasilkan by products seperti menir, beras patah, dan beras yang tampilannya tidak putih lagi. Beras dengan derajat sosoh kurang dari 100% akan berwarna lebih gelap. Generasi terdahulu lebih menyukai nasi dari beras dengan derajat sosoh kurang dari 100%, karena pada beras tersebut masih terdapat lapisan aleuron yang banyak mengandung zat gizi. Pada umumnya, sebagian besar konsumen menilai enak/tidaknya nasi berdasarkan pada rasa dan teksturnya. Tekstur nasi sangat dipengaruhi oleh kadar amilosa. Secara sederhana, semua varietas padi yang ditanam oleh petani, dikategorikan menjadi 2 kelompok berdasarkan tekstur dan kadar amilosanya, yaitu beras pulen (soft) dan beras pera (hard). Disebut beras pulen bila kadar amilosanya 17-25% dan beras pera bila kadar amilosanya >25%. Hingga saat ini Kementerian Pertanian telah melepas lebih dari 200 varietas padi. Beberapa varietas unggul baru (VUB) Kementerian Pertanian ditanam hampir di 90% areal tanam padi. Beberapa varietas yang dominan adalah varietas Ciherang, Mekongga, INPARI, dan IR64. Semua VUB dominan yang ditanam petani tersebut berkategori beras pulen dengan kadar amilosa sebesar 20-25%. Jadi bisa disampaikan disini bahwa semua beras yang dihasilkan petani, 90%nya memberikan tekstur nasi yang hampir sama. Nah..disinilah biasanya pengusaha beras berimprovisasi untuk menghasilkan beras dengan rasa dan tekstur spesial, yang berdampak pada harga yang lebih mahal. Improvisasi pengusaha beras biasanya dilakukan dengan "blending", mencampur beberapa jenis beras yang pulen dengan yang lebih pulen sehingga diperoleh beras dengan tingkat kepulenan yang tepat. Kenapa beras "racikan" jadi mahal? Karena proses pencampuran berasnya dengan posisi ketersedian beras yang tidak sama. Beras yang lebih pulen seperti varietas Sintanur, Cimelati, Gilirang dengan kadar amilosa 18-19% tidak banyak ditanam petani sehingga produksinya terbatas dan harga gabahnya lebih mahal. Akan tetapi disparitas harga kedua jenis gabah padi tersebut tidak terlalu besar sekitar Rp.500,- hingga Rp. 1.000,- per kg GKP. Selain itu teknik untuk meracik beras tersebut tidak membutuhkan teknologi yang canggih, hanya butuh keterampilan yang memadai. Beras hasil racikan memang rasa nasinya lebih baik, tapi harganya tidak harus jauh melampaui harga beras "monovalen" (beras non racikan). Beras "racikan" premium tersebut masih wajar bila dihargai 10-11 ribu per kg dan akan sangat terasa mahal kalo dijual dengan harga sampai mencapai 20 ribuan. Bagaimana agar dapat beras yang enak tanpa "blending" sehingga harga lebih murah? Kita harus mendapatkan beras dengan kadar amilosa seperti kadar amilosa beras "racikan". Kementerian Pertanian telah melepas beberapa varietas unggul baru dengan kadar amilosa sebesar 18-20% yaitu varietas Inpari 2 (18.6%); Inpari 6, 18, 19 dan 24 (18%); Inpari 23 (17%); Hipa 10 (19.7 %); Hipa Jatim 1 (17%); Inpago 5 (18%); Gilirang (18,9%); Cimelati (19 %); dan Sintanur (18%). Kita tidak perlu membeli beras yang sedemikian mahal agar kita bisa makan nasi yang enak. (Wahab, MI)    
Sumber : http://www.pertanian.go.id/ap_posts/detil/1070/2017/08/03/08/39/10/Kita%20Harus%20Bersyukur-%20%20Beras%20Medium%20dan%20Premiun%20%20Kandungan%20Gizi%20Utama%20Sama

Kinerja Menteri Amran Positif, DPR Optimis Nawacita Terealisasi

5 July 20175 July 2017
Jakarta - Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Daniel Johan, mengakui capaian kinerja Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam mengembangkan sektor pertanian. Demikian disampaikannya dalam mengomentari data Badan Pusat Statistik (BPS) soal kontribusi sektor pertanian pada pertumbuhan ekonomi pada Triwulan I 2017 serta lembaga riset The Economist Intelligen Unit (EIU) yang menyebutkan pertumbuhan pertanian Indonesia meroket ke posisi 25. Menurut Daniel, peningkatan di sektor pertanian tersebut terwujud, karena Kementan efektif dalam mengelola anggarannya yang bertambah untuk menambah luas lahan. "Dan peningkatan produktivitas yang mampu menekan impor," ujarnya saat dihubungi di Jakarta, Minggu (2/7/2017).Kata Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu, data tersebut menunjukkan kinerja Kementan berada di jalur yang dicanangkannya (on the track). Dan dia meyakini, poin ketujuh Nawacita Presiden Joko Widodo, yakni mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakkan sektor-sektor strategis ekonomi domestik, khususnya di sektor pertanian dapat terealisasi. "Iya, ini menuju terwujudnya poin ke-7," pungkas legislator asal Kalimantan Barat itu. Survei Pertumbuhan Ekonomi Triwulan I 2017 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, kontribusi pertanian pada laju pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) mencapai 0,9 persen. Artinya, berada di peringkat kedua setelah industri pengolahan. Tren positif laju pertumbuhan PDB sektor pertanian mulai terlihat dari Triwulan IV 2016 dengan kontribusi sebesar 0,58 persen. Sedangkan pada Triwulan I 2016, hanya 0,19 persen. Berdasarkan data BPS yang sama, diketahui struktur PDB pada Triwulan I 2017 di sektor usaha pertanian juga berada di posisi kedua dengan 13,59 persen. Rekor hijau tersebut pun mendapat pengakuan dari lembaga riset dan analisis ekonomi internasional, The Economist Intelligen Unit (EIU), pada 2017 tentang Global Food Security Index (GFSI).Dilansir dari situs resminya, Indonesia masuk peringkat 25 besar dari 113 negara yang diteliti berdasarkan capaian pembangunan pertanian. Padahal, di tahun sebelumnya berada di rangking 71 dan posisi ke-74 pada 2015.Lembaga kajian dan analisis yang berpusat di Inggris ini meneliti capaian pembangunan pertanian dari empat aspek, secara keseluruhan (overall), keberlanjutan petanian (sustainable agriculture), masalah gizi (nutritional challenges), serta kerugian pangan dan limbah (food loss and waste).Secara keseluruhan, Indonesia berada di peringkat 21 dengan skor 50,77 setelah Brasil serta di atas Uni Emirat Arab, Mesir, Arab Saudi, dan India. Untuk sustainability agriculture, Indonesia bercokol di rangking 16 (53,87) setelah Argentina serta di atas Cina, Etiopia, Amerika Serikat, Nigeria, Arab Saudi, Afrika Selatan, Mesir, Uni Emirat Arab, dan India.Sedangkan nutritinal challeges, Indonesia masuk peringkat 18 (56,79) setelah Brasil serta di atas Turki, Rusia, Mesir, Meksiko, Afrika Selatan, Nigeria, dan India.Sementara itu, dari aspek food loss and waste, Indonesia bertengger di peringkat 24 (32,53) setelah Uni Emirat Arab dan di atas Arab Saudi.     Sumber : http://www.pertanian.go.id/ap_posts/detil/1021/2017/07/03/15/42/02/Kinerja%20Menteri%20Amran%20Positif-%20DPR%20Optimis%20Nawacita%20Terealisasi

Mentan Optimis Swasembada Jagung dan Zero Impor 2018

14 June 201714 June 2017
Jakarta - Indonesia masih terus mengejar target swasembada jagung untuk menekan impor komoditas itu yang sudah berhasil ditekan hingga turun sebesar 66 persen pads 2028, kata Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. "Khusus jagung kami prediksi surplusnya bisa dicapai tahun 2018," tegas Amran pada berbagai kesempatan. Hal serupa juga disampaikan Presiden RI Joko Widodo saat membuka  Pekan Nasional Tani dan Nelayan (Penas KTNA) di Banda Aceh (6/5/17)  Jokowi mengapresiasi kinerja petani di seluruh Indonesia yang mendukung peningkatan produksi jagung, sehingga Indonesia dapat menekan ketergantungan pada jagung impor 3,6 juta ton pada 2015 menjadi 900.000 ton pada 2016 setelah Pemerintah RI memutuskan harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp3.150 per kg. Menurut Amran, meski belum surplus, tetapi produksi jagung nasional semakin membaik sehingga stok banyak dan berhasil menekan angka impor sebesar 66 persen, "Dengan peningkatan produksi, maka pemerintah meyakini produksi jagung Indonesia sudah bisa surplus segera mungkin atau di 2018," katanya.  Produksi yang meningkat tentunya, kata Mentan, juga akan terus membuat impor turun. Dia menegaskan dalam upaya menekan impor, pemerintah bukan hanya mendorong peningkatan produksi di berbagai daerah sentra produksi, tetapi juga menjalin kerja sama dengan asosiasi Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT).  GPMT diminta mendorong perusahaan anggotanya untuk bisa lebih mengutamakan menyerap produksi jagung lokal untuk kebutuhan industrinya, katanya. "Dengan penyerapan jagung lokal, maka petani semakin bergairah bertanam jagung sehingga produksi bisa memenuhi bahkan melebih kebutuhan konsumsi dan pabrikan yang sekitar 1,7 juta ton per bulan," katanya. Berdasarkan data produksi tahun 2016 sebesar 23 juta ton pipilan kering (BPS) dan target luas tambah tanam jagung 2017 sebesar 700 rb sd 1 juta ha, Indonesia optimis bahkan surplus jagung di 2018.  Secara logika, surplus prduksi jagung tersebut diharapkan dapat juga menekan impor gandum. Dalam hal ini nasionalisme untuk memaksimalkan penggunaan produksi lokal dan mensubstitusi bahan baku gandum impor dengan jagung lokal akan sangat membantu terwujudnya swasembada jagung nasional.       Sumber : http://www.pertanian.go.id/ap_posts/detil/1004/2017/06/12/18/30/15/Mentan%20Optimis%20Swasembada%20Jagung%20dan%20Zero%20Impor%202018

Biaya Produksi Beras Indonesia Paling Tinggi di Asia

29 May 201729 May 2017
Pertanianku – Di Indonesia beras merupakan makanan pokok hampir seluruh masyarakat. Bahkan, Indonesia terkenal memiliki lahan pertanian yang sangat luas. Namun, biaya produksi beras di Indonesia nyatanya paling tinggi di antara beberapa negara produsen beras di Asia, yaitu sekitar 0,369 dolar AS. “Selama ini yang kita ekspor adalah beras organik atau beras premium. Sedangkan beras medium kemungkinan kecil karena tingginya biaya produksi,” ungkap Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB, Rina Nurmalina, di Bogor, seperti melansir Antaranews (24/5).
 
Lima negara produsen beras di Asia, yakni Tiongkok hanya menghabiskan biaya produksi sebesar 0,331 dolar AS, Filipina 0,292 dolar, lalu India hanya 0,209 dolar AS, dan Thailand sebesar 0,208 dolar AS, serta yang terendah adalah Vietnam 0,154 dolar AS. “Produktivitas beras Indonesia ketiga setelah Vietnam dan Cina. Vietnam memiliki biaya produksi paling rendah, maka itu kenapa mereka bisa ekspor berasnya,” ungkap Rina. Ia menjelaskan, efisiensi usaha tani di Indonesia masih rendah dibanding negara produsen padi lainnya. Upaya peningkatannya, yakni dengan meningkatkan produktivitas atau mengurangi input-input produksi yang berlebih. Lebih lanjut Rina mengatakan, biaya tinggi tersebut sebagian disumbang dari tingginya biaya tenaga kerja, terutama saat panen dan biaya sewa lahan. Di negara lain berhasil menekan biaya tenaga kerja karena menggunakan mesin, terutama saat panen. “Karena ada budaya gotong royong jadi Indonesia belum bisa menekan biaya produksi ini, ditambah luas tanah yang terkotak-kotak,” ucapnya. Rina mengatakan, penelitian yang dilakukan oleh PSEKP mengungkapkan, pendapatan usaha tani padi di Indonesia dilihat dari berbagai daerah, berbagai jenis luas lahan, berbagai jenis padi dan berbagai jenis pengelolaan, masih positif atau menguntungkan dengan R/C berkisar antara 2,35 sampai 2,65. Tetapi lanjutnya, kendala yang dihadapi, penyediaan beras untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri masih menghadapi masalah. Seperti, konversi lahan sawah di Pulau Jawa, pertumbuhan produksi dan produktivitas padi yang melambat dan keterbatasan sumber daya manusia.       Sumber : https://www.pertanianku.com/biaya-produksi-beras-indonesia-paling-tinggi-di-asia/

Serap Gabah Turun 50 Persen, KTNA Minta Bulog Jangan Main-Main

29 May 2017
Jakarta,- Kinerja Badan Urusan Logistik (Bulog) dalam menyerap gabah petani pada musim panen bulan Mei 2017 sangat mengecewakan dan merugikan petani. Hal ini terlihat dari data realisasi Serap Gabah (Sergab) tanggal 1 hingga 16 Mei 2017 mencatat hingga per 16 Mei 2017, serapan gabah petani hanya sebesar 145.630 ton setara beras.  Tentang hal ini, Ketua Umum Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Nasional, Winarno Tohir menilai kinerja Sergab Bulog tersebut sangat buruk karena jauh lebih rendah atau anjlok 50 persen dibandingkan bulan dan periode sebelumnya. Ia menyebutkan Sergab pada bulan Maret 2017 mencapai 425.555 ton dan April sebesar 424.065 ton setara beras. Sementara pada April tahun 2016, Bulog mampu menyerap gabah lebih banyak yakni mencapai 649.780 ton dan hingga 16 Mei 2016 mencapai 283.904 ton. “Kinerja Bulog saat ini sangat ironis dan mencederai amanah Presiden Jokowi untuk menjaga kedaulatan pangan dengan menyerap gabah petani minimal 4 juta ton setara beras dalam waktu 6 bulan yakni Maret hingga Agustus 2017. Jadi Bulog jangan main-main, karena ini menyangkut kedaulatan pangan dan ketahanan negara,” tegas Winarno Tohir di Jakarta, Jumat (19/5/2017). Untuk itu, Winarno meminta Bulog agar optimal dan gerak cepat menyerap gabah petani, apalagi harga gabah di tingkat petani saat ini jauh di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Rp 3.700 per kg. Menurutnya, hal ini penting mengingat Bulog sebagai satu-satunya lembaga negara yang berperan dalam penyediaan pangan nasional dan stabilisasi harga pangan agar dapat memberikan harga yang menguntungkan bagi petani.  "Bulog harus kerja keras menyerap gabah petani, walaupun gudang-gudang Bulog sudah terisi atau tidak tertampung. Ini tidak bisa dijadikan alasan. Bulog harus tetap menyerap gabah petani dan menyewa gudang-gudang milik BUMN dan swasta yang ada," ucapnya. Winarno pun menegaskan buruknya kinerja Bulog dalam menyerap gabah petani dapat memberikan dampak negatif yang fatal terhadap ruang yang terbuka lebar bagi para tengkulak untuk membeli gabah petani dengan harga murah. Di sisi lain, berakibat pada lemahnya ketahanan pangan nasional karena stok beras nasional jauh dari target, sehingga berpotensi besar menciptakan impor. “Inilah pentingnya Bulog tidak boleh diam dan main-main, harus turun cepat serap gabah petani agar harga stabil atau menguntungkan petani, stok beras nasional terjaga dan impor jangan sampai terjadi," tegasnya. Udin Saefudin, petani di Kampung Koleberes, Kelurahan Dayeuhluhur, Kecamatan Warudoyong, Sukabumi mengungkapkan turunnya harga gabah memang sudah menjadi tren ketika musim panen. Harga gabah saat ini turun sampai Rp 1.000 per kilogram. Padahal, harga gabah sebelumnya Rp4.200 per kilogram, akan tetapi saat ini hanya Rp3.200 per kilogram.  “Jika tak naik berarti turun. Tanpa adanya faktor yang pasti petani lagi-lagi menjadi objek permainan tengkulak demi meraup keuntungan,” ungkapnya. Demikina juga yang dialami Jufri, petani di Karawang, Jawa Barat mengeluhkan tidak hadirnya Bulog di tengah musim panen berlangsung. Padahal katanya, turunya Bulog di lapangan sangat penting karena harga gabah sedang anjlok. “Kami berusaha keras untuk menanam padi karena pemerintah melalui Bulog akan beli dan jamin harga yang untungkan petani. Tapi kenyataanya sekarang tidak ada Bulog yang turun beli gabah kami. Jadinya, para tengkulak leluasa turun beli murah gabah kami petani,” tuturnya.       Sumber : http://www.pertanian.go.id/ap_posts/detil/971/2017/05/20/05/27/22/Serap%20Gabah%20Turun%2050%20Persen-%20KTNA%20Minta%20Bulog%20Jangan%20Main-Main

Peternakan Sapi Perah Modern Seluas 172 Hektar Dibangun di Blitar

29 May 2017
Blitar - Setelah berkiprah selama 20 tahun di Indonesia dan mengoperasikan peternakan pertamanya di Gunung Kawi, Malang, PT Greenfields membangun peternakan keduanya di Desa Pijomobo, Wlingi, Blitar. Peternakan pertama PT Greenfields yang ada di Malang berkontribusi sebanyak 6% terhadap konsumsi susu nasional, dari total 20% produksi susu nasional dengan 80% impor. "Apa yang sudah kita lakukan di Gunung Kawi akan kita coba replikasi di Pijiombo ini," ujar Head of Dairy Farm PT Greenfields Indonesia, Heru Prabowo, dalam kegiatan peletakan batu pertama peternakan PT Greenfields kedua di Blitar pada Rabu (3/5/2017). Peternakan kedua yang ada di Pijiombo menempati lahan seluas 172 hektar. Investasi yang dikucurkan dalam membangun peternakan tersebut sebesar Rp 600 miliar, yang terbagi untuk infrastrukstur, bangunan, dan sapi. Di peternakan kedua, terdapat sapi perah sebanyak 10.000 ekor dengan total sapi siap diperah sebesar 4.000 ekor dengan 125 ton susu akan dihasilkan setiap harinya. "Ini akan menjadi volume tambahan kembali atas produksi susu nasional di Indonesia, sehingga nanti saat farm dua ini beroperasi, kontribusi kita lebih dari 10% dari total produksi susu nasional," ujar Heru. Bupati Blitar, Drs. H. Rijanto MM, menanggapi positif pembangunan peternakan tersebut. Menurut dia, penggabungan antara jumlah susu sapi dari masyarakat, yakni sebanyak 120 ton per hari, dengan jumlah dari peternakan PT Greenfields akan menjadi hal luar biasa. "Kalau nanti ini digabung dengan Greenfields yang menghasilkan 125 ton per hari, luar biasa. Blitar akan menghasilkan tidak kurang dari 200 lebih ton susu," ujar Rijanto. Selain disebut sebagai yang terluas, peternakan sapi perah kedua PT Greenfields juga disebut sebagai yang termodern se-Asia Tenggara. Peternakan modern di Blitar tersebut didukung oleh beberapa fasilitas canggih, yakni penggunaan kanal ventilasi yang dilengkapi sensor kipas, tempat pemerahan (milking parlor) berupa rotary parlor, pengolahan limbah sapi yang dijadikan biogas, sistem pakan, dan penyesuaian lampu sesuai status sapi untuk meningkatkan produktivitas. Heru menambahkan, peternakan kedua akan memberikan manfaat kepada pemerintah daerah berupa pendapatan asli daerah (PAD) yang berasal dari pajak dan juga penyerapan tenaga kerja, baik secara langsung maupun tak langsung. Selain itu juga akan dibangun kemitraan dengan petani dan peternak yang ada di sekitar peternakan. "Perusahaan kami menganut filosofi win-win. Itu sebabnya kami percaya bahwa kesuksesan kami terkait dengan kesejahteraan para peternak muda, kecil, serta keluarga mereka," kata CEO of PT Aust Asia Food Pte Ltd, Edgar Collins. "Pada 2006 kami memulai kerja sama dengan peternak kecil dan saat ini jumlah berkembang menjadi 5.000 peternak, di mana kami memberikan mereka keahlian di bidang peternakan dan pakan," ujar dia.       Sumber : http://global.liputan6.com/read/2940280/peternakan-sapi-perah-modern-seluas-172-hektar-dibangun-di-blitar?source=search

Jelang Ramadan, Satgas Pangan Temukan 33 Kasus Penimbunan Sembako

29 May 2017
Jakarta - Sebanyak 33 kasus penimbunan bahan pokok ditemukan jajaran Satgas Pangan. Tindak pidana ini terjadi di beberapa daerah Jawa dan Sumatera. Ketua Satgas Pangan, Irjen Setyo Wasisto menduga praktik nakal ini menyebabkan lonjakan harga kebutuhan pokok beberapa waktu lalu.
 
"Untuk masalah bahan pokok ada 33 temuan yang ditangani oleh Bareskrim dan kepolisian di daerah," kata Setyo di kompleks Mabes Polri, Jakarta, Rabu (24/5/2017). 33 kasus itu, kata Setyo, di antaranya adalah penimbunan, cabai, bawang putih, daging, dan gula. Saat ini kasus tersebut kini telah dalam penyidikan Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri. Selain itu, Setyo mengaku pihaknya juga menemukan sembilan kasus penimbunan beras. Kasus itu kini ditangani Polrestabes Surabaya, Polresta Pasuruan, Polres Situbondo, Polres Tarakan, Polda Metro Jaya dan Polda Riau. "Ikan juga ditangani di Polda Lampung adalah ikan yang mengandung formalin supaya tahan lama. Selain itu di Polres Tuban juga menangani tiga kasus," tutur Setyo. Kemudian ada juga penimbunan minyak goreng dan tepung terigu, dan kacang tanah. Ketiga kasus itu, kata Setyo, didalami Polrestabes Surabaya dan Polda Riau.       Sumber : http://news.liputan6.com/read/2963868/jelang-ramadan-satgas-pangan-temukan-33-kasus-penimbunan-sembako?source=search

Canggih, Purbalingga Uji Coba Pemupukan Padi Pakai Drone

24 May 201724 May 2017
Purbalingga - Pesawat tanpa awak (drone) saat ini mulai dikembangkan untuk bidang pertanian. Kabupaten Purbalingga, Jawa Tenggah menjadi salah satu daerah yang mengaplikasikan teknologi drone untuk memupuk areal persawahan lewat udara. "Penggunaan drone untuk pertanian berkelanjutan ini termasuk yang pertama di Indonesia dan Purbalingga menjadi salah satu lokasi uji coba kami," ujar Bugiakso, Ketua Yayasan Panglima Besar Jenderal Soedirman pada saat peluncuran teknologi drone untuk pertanian berkelanjutan di Desa Limbasari, Kecamatan Bobotsari, Purbalingga, Senin, 22 Mei 2017. Menurut Bugiakso yang juga cucu menantu Jenderal Soedirman, Purbalingga dipilih menjadi lokasi peluncuran karena merupakan tempat kelahiran pahlawan nasional itu. Kegiatan tersebut merupakan kerja bersama Yayasan Panglima Besar Jenderal Soedirman dengan PT Bumi Maringi Mukti selaku produsen pupuk organik cair yang diaplikasikan dan Look Heed Wuhan Research Institute Co.Ltd, Hubei, China selaku penyedia teknologi drone. Uji coba pemupukan dilakukan pada areal tanaman padi berumur 35 hari seluas 23,5 hektare di areal sawah Kelompok Tani Mulyo, Desa Limbasari. Varietas yang ditanam merupakan varietas unggul lokal Tegal Gondo dan jenis pupuk yang digunakan berupa pupuk cair biomineral organik ‘Jenderalium’ yang berbahan dasar material vulkanis Gunung Merapi. Hadir dalam kesempatan itu Staf Dewan Pertimbangan Presiden Bidang Ketahanan Pangan Brigjen TNI Affifudin, Co-founder of Lookhed (Wuhan) UAV Research Institute Co.Ltd Wang Ke Zhen, Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekda Purbalingga Sigit Subroto, dan Kepala Dinas Pertanian Lily Purwati. Bugiakso mengungkapkan pupuk organik cair digunakan untuk efisiensi dan efektifitas pemupukan serta ramah lingkungan. Menurutnya, pupuk dengan merek dagang Jenderalium yang sudah mendapatkan izin Kementerian Pertanian itu sudah diuji coba pusat riset Jenderalium Research and Botanical Garden di Kabupaten Sleman, Yogyakarta. "Kandungan mikroba yang baik untuk pembenahan tanah lengkap, ukuran partikelnya juga nano mikron sehingga dapat terserap dengan baik oleh tanaman melalui penyemprotan," katanya. Sementara itu, Wang Ke Zhen menambahkan teknologi pemupukan menggunakan drone akan lebih efisien baik dalam hal waktu, biaya dan teknis di lapangan. Di Provinsi Hubei, China, teknologi tersebut sudah dimanfaatkan dan berhasil meningkatkan produksi padi. "Kekurangan tenaga kerja adalah masalah di semua negara, teknologi ini menjadi salah satu solusinya," katanya. Berdasarkan uji coba, areal persawahan seluas 1 hektare hanya membutuhkan waktu 16 menit untuk menyemprot pupuk dengan drone. Biaya pemupukan per hektare jika menggunakan pupuk cair dan drone sebesar Rp 1,4 juta. Angka ini diklaim jauh lebih efisien jika dibandingkan dengan penggunaan pupuk padat yang diaplikasikan secara manual. Yayasan Jenderal Soedirman memgklaim sudah melakukan riset sejak 2008 dan terbukti efektif. Pupuk Jenderalium juga sudah diaplikasikan pada tanaman padi, jagung, umbi-umbian, hortikultura buah maupun sayur, serta tanaman keras tahunan. Pemerintah Kabupaten Purbalingga menyambut baik hadirnya teknologi modern tersebut. Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Purbalingga, Sigit Subroto mengatakan teknologi dan inovasi pertanian mutlak diperlukan guna meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian. Petani akan semakin tertinggal jika tidak mengenal teknologi pertanian yang semakin berkembang. Penggunaan teknologi drone dalam bidang pertanian diharapkan mampu meningkatkan produksi pertanian, khususnya padi. "Areal pertanian di Jawa tidak mungkin bertambah, bahkan cenderung berkurang. Oleh karenanya untuk meningkatkan produksi, jalan satu-satunya dibutuhkan aplikasi teknologi," kata Sigit. Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Purbalingga Lily Purwati berharap teknologi ini bisa diaplikasikan secara luas di Purbalingga. Hanya saja, peralatan drone yang dibutuhkan masih terbilang mahal, selain itu juga terkendala penguasaan teknologi.     Sumber : http://regional.liputan6.com/read/2961149/canggih-purbalingga-uji-coba-pemupukan-padi-pakai-drone

Naikkan Produksi Pertanian, Kementan Genjot Rehabilitasi Irigasi

24 May 2017
JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (Ditjen PSP) terus memperbaiki sarana perairan guna meningkatkan produksi pertanian. Ditjen PSP menilai, problematika mendasar pertanian padi sawah adalah ketersediaan air, meski berada di daerah tropis dengan curah hujan tinggi. Masih banyak area belum tersentuh jaringan irigasi atau karena jaringan irigasinya rusak, meski lokasinya dekat sumber air. Akibatnya, tanaman padi sawah tidak cukup suplai air, sehingga hanya mampu mencapai panen sekali dalam satu tahun dengan Indeks Pertanaman 1,00. "Kita memiliki 4,8 juta ha sawah dengan irigasi teknis, 46% saluran irigasi atau sekitar 2,2 juta ha mengalami kerusakan dari tingkat ringan, sedang sekitar dan rusak berat," ujar Dirjen PSP Kementan Pending Dadih, Selasa (23/5/2017). Untuk menjaga produktivitas padi, pemerintah telah menggelontorkan anggaran untuk program rehabilitasi jaringan tersier sebesar Rp446,81 miliar pada 2014, dan pada 2015 sebesar Rp2.696.553.900.000. Sementara pada 2016 sebesar Rp726,8 miliar dan 2017 sebesar Rp117,21 miliar untuk meningkatkan Intensitas Pertanaman menjadi setidaknya 2,00 agar bisa panen dua kali setahun. Dengan peningkatan Indeks Pertanaman, maka peningkatan produksi padi per tahun bisa meningkat 50%. Pending menjelaskan, irigasi adalah usaha penyediaan, pengaturan, dan pembuangan air irigasi untuk menunjang pertanian yang jenisnya meliputi irigasi permukaan, irigasi air bawah tanah, irigasi pompa, dan irigasi tambak. "Tanpa air, pertanian tidak akan berjalan baik dan tidak akan memberi hasil optimal. Air mutlak bagi petani padi. Air menjadi kebutuhan mutlak bila ingin meningkatkan produksi padi dan mencapai swasembada beras," tuturnya. Kemanfaatan rehabilitasi jaringan irigasi ini sangat dirasakan para petani. Misalnya, adanya penambahan Indeks Tanam yang tadinya hanya bisa sekali setahun menjadi dua kali atau lebih. Pada masa jeda, petani bisa menanam tanaman lain seperti palawija atau tanaman hortikultura lain, memanfaatkan lahan kosong dan ketersediaan air irigasi. "Jaringan irigasi juga menambah luas layanan sawah yang terairi. Dengan volume yang sama, air yang dialirkan dapat mengairi sawah lebih luas karena air tersebut terdistribusi secara efisien," kata Pending. Berdasarkan PP No 23 tahun 1992 Tentang irigasi, jaringan irigasi terdiri dari 3 tingkatan dimulai dari irigasi primer, sekunder, dan tersier. Irigasi primer dan sekunder penanganannya di bawah Kementerian PUPR, sedangkan irigasi tersier dan kuarter, penangangannya sampai ke pemeliharaannya oleh petani. Kementan membantu meningkatkan pemberdayaan petani pemakai air dalam pengelolaan jaringan irigasi tersier melalui kegiatan rehabilitasi jaringan irigasi tersier. Jaringan irigasi tersier inilah yang masuk ke wilayah persawahan dan langsung berhubungan dengan para petani. "Tanpa adanya jaringan irigasi tersier, maka aliran air dari sumber air tidak akan bisa sampai ke lahan sawah dan tidak bisa dimanfaatkan petani. Karena itu, jaringan irigasi tersier adalah komponen mutlak dalam jaringan sistem irigasi," jelasnya. Kriteria lokasi penerima bantuan rehabilitasi adalah jaringan irigasi tersier yang terkoneksi dengan jaringan primer dan sekunder yang berfungsi baik. Bila jaringan primer dan sekundernya tidak berfungsi baik maka perbaikan jaringan tertier hanya akan membuang biaya. Adapun lokasinya tersebar di seluruh Indonesia terutama di lokasi yang terlayani irigasi teknis. Kriteria lainnya yaitu, minimal luas yang dilayani jaringan tersebut adalah 25 ha yang dikelola oleh Kelompok Tani dan atau Perkumpulan Petani Pengelola Air. Perbaikan tersebut mampu meningkatkan Indeks Pertanaman sekurang-kurangnya 0,5. Petani sangat berharap terhadap saluran irigasi tersier yang berfungsi baik. Harapannya adalah kebutuhan air selama dua musim tanam bisa dipenuhi sehingga bisa panen dua kali setahun atau Indeks Pertanamannya 2. Ada total sekitar 3 juta ha lahan yang indeks pertanamannya hanya 1,00 dan harus ditingkatkan menjadi minimal 2. Pada 2014 jaringan irigasi tersier yang dibetulkan meliputi areal pelayanan seluas 443.836 ha. Pada 2015 meningkat menjadi 2.458.470 ha, sedangkan pada 2016 yang baru berlalu jumlah jaringan irigasi tersier yang direhabilitasi pemerintah meliputi 454.253 ha. Sudah banyak petani di Indonesia yang merasakan manfaatnya program rehabilitasi jaringan tersier ini. Komentar dan respons positif dari petani juga banyak muncul terhadap program rehabilitasi irigasi tersier ini. (izz) Sumber : https://ekbis.sindonews.com/read/1207404/34/naikkan-produksi-pertanian-kementan-genjot-rehabilitasi-irigasi-1495516518/13
Terima kasih telah berkunjung ke website Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan Kota Sukabumi